Home > Ungkapan Hati

Agus Tonny, Pulih dari Kanker Limfoma

Sosok murah senyum dan ringan tangan saat di gereja, dialah Penatua Agus Tonny. Keramahannya dikenal dan kepribadiannya menyenangkan. Tak diduga jika tujuh tahun yang lalu ia mengalami kanker getah bening atau limfoma. Puji Tuhan, kini ia sehat dan kembali aktif beraktivitas. Pengalaman sakit yang tak mudah, namun kini sehat dan tetap bersemangat.

“Semua karena kasih karunia Tuhan. Tuhan baik!”, ungkap suami Gina Hartono ini, penuh syukur.

Awal Gejala

Berawal dari setiap pulang kerja di malam hari, delapan tahun yang lalu, Tonny selalu mengalami demam dan sering berkeringat. Sanmol menjadi obat yang ia andalkan, yang ia telan setiap kali gejala muncul. Tidak lama kemudian, panas tubuhnya akan kembali normal. Hampir setiap malam, situasi ini dialami Tonny tanpa curiga adanya masalah serius pada kesehatannya.

Hingga di satu kesempatan, ayah kelahiran Agustus 1967 ini menjenguk sahabat lamanya di sebuah perkantoran. Di situlah Tonny mendapatkan pertanyaan yang mencurigakan: “Lehermu bengkak, apakah kamu mengalami tiroid?”

Sejak pulang dari situ, Tonny mulai memedulikan pertanyaan tersebut dan mulai memeriksakan diri, hingga melakukan cek darah total di rumah sakit yang direkomendasikan. Setelah diperiksa, ditemukan adanya persoalan batu empedu yang menempel pada saluran. Ia pun akhirnya dioperasi. Namun setelah operasi, gejala demam tetap ada, dan Tonny kembali mencari solusi. Kemudian ditemukan adanya masalah di usus.

Hingga akhirnya pada awal 2019, Tonny melakukan pemeriksaan lengkap ke Malaka, Malaysia. Di sana ditemukan adanya infeksi yang terlihat di beberapa titik pada tubuh. Akhirnya melalui PET Scan di Pertamandi RS. Gading Pluit, Jakarta, ditemukan kesimpulan bahwa masalah yang ada adalah kanker getah bening atau limfoma stadium 3A.

Penyakit Silent Killer

Tonny menyadari kanker sebagai penyakit silent killer, sehingga tidak banyak gejala sakit yang disadari selama ini. Tonny harus menjalani masa kemoterapi sebanyak 14 kali, dengan interval 3 minggu sekali. Inilah masa paling sakit yang harus dilewati oleh setiap pasien kanker dalam proses kemoterapi.

“Kulit menjadi kering, tidak nafsu makan, mengalami mual yang tak tertahankan, muntah, bahkan lemas tak bisa melakukan apa pun,” ungkap Tonny mengurai detail reaksi fisik akibat kemoterapi.

Lanjutnya, “Di tahap ke-9, saya mengalami rontok rambut di kepala. Ternyata saya lemah juga dan akhirnya mengalami hal serupa yang dialami pasien kanker pada umumnya,” tambah Tonny mengenang masa-masa berat itu.

Apakah ada ketakutan?

Dengan jujur, Opa dari Nala ini terbuka: “Ketakutan itu normal. Takut kehilangan istri dan anak-anak. Apa yang akan terjadi dengan mereka jika terjadi sesuatu dengan saya? Namun di saat itulah, saya butuh Tuhan dan percaya pada Tuhan. Kekuatan diberikan-Nya. Saya harus tetap bersyukur dan semangat menjalaninya dengan yakin; Tuhan bersama saya dan keluarga,” urai Tonny, yang kini memahami itulah proses berjalan bersama Tuhan dalam sakit.

“Selama sakit, Tonny tetap semangat dan tetap berjuang. Kami yang takut melihatnya, namun Tonny tetap penuh semangat melewati seluruh proses pengobatan di RSPK Dharmais, Jakarta,” saksi Gina, istri tercinta yang menjadi pendamping dan pendukung utama bagi Tonny di masa-masa beratnya.

“Gina tak pernah sedetik pun meninggalkan saya. Dia selalu di samping saya, menemani saya dalam sakit. Saya bersyukur memiliki istri yang baik dan setia. Demikian juga anak-anak, peduli dan mau berupaya menolong papinya agar bisa makan. Mereka akan mencari demi makanan yang dibutuhkan, biar ditemukan. Keluargaku selalu mendukung dan bersamaku. Itu kekuatan dan berkat dari Tuhan,” puji Tonny penuh haru.

Cara Menghadapi

Tuhan mengizinkan segala sesuatu terjadi dan Dia pun campur tangan menolong. Pengalaman ini dialami Tonny bersama keluarga dan ingin menguatkan setiap pasien kanker di mana pun berada:

  1. Kanker bukan penyakit yang mudah diobati. Maka harus disiplin yang ketat, patuh pada arahan dokter.
  2. Berobatlah dengan benar. Ada banyak ketakutan karena biaya, janganlah itu menjadi kendala untuk berhenti berobat. Selalu ada jalan, berjuanglah!
  3. Semangat untuk hidup. Kalau tidak semangat, maka obat seperti apa pun tak bisa menyembuhkan. Berharaplah kepada Tuhan. “Hidup mati kita di tangan Tuhan, tinggal bagaimana menjalaninya.”
  4. Keluarga sebagai pendukung utama dalam proses pengobatan. Sering kali keluarga menjadi stres karena keletihan mengurusi pasien, dan ada banyak kendala di sana. Namun dukungan itu menolong pasien dapat bangkit dan melewati proses dengan semangat.
  5. Percaya dan berharap pada Tuhan. Dia memberi pertolongan-Nya.
  6. Harus berjuang untuk tetap mau makan. Berkat dukungan keluarga, pasien tetap berupaya untuk makan. Itu dapat memulihkan tenaga dengan cepat.

“Sakit kanker jangan ditakuti. Jangan jatuh dalam ketakutan. Tuhan mau kita berharap dalam segala keadaan. Berterima kasihlah pada Tuhan,” tandas Tonny meneguhkan setiap pasien kanker di mana pun berada.

Bagi Tonny, menerima kesembuhan dan kesempatan tetap hidup berarti:
“Hidupku adalah melayani Tuhan dengan apa pun yang saya miliki. Hidup itu harus mempermuliakan Tuhan dalam hal apa pun. Hidup harus melakukan Firman Tuhan. Tuhan disenangkan dalam hidup saya.”

Akhirnya, masa sakit bukanlah peristiwa mudah untuk dijalani. Namun dalam sakit, iman dan pengharapan tak boleh sirna. Tuhan baik dalam sehat, Tuhan yang sama pun tetap baik dalam sakit. Tuhan tak pernah berubah kasih setia-Nya.

Dalam sehat, Tuhan memperlihatkan betapa bernilainya kesempatan untuk mengisi hidup, dan saat sakit Tuhan mendidik kita tetap melihat kesempatan hidup itu bernilai kekekalan dan tak boleh disia-siakan.

Semangat terus menjadi saksi Pak Tonny dan keluarga. Semangatlah selalu setiap pasien kanker, karena Tuhan mengukir kasih-Nya dalam setiap masa hidup kita!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *