Tanda-tanda Akhir Zaman: Bersiap-siap Melarikan Diri dari Bumi Menuju Surga

Bapak Pendeta,

Saya ingin bertanya seputar Eskatologi.

  1. Bagaimana orang percaya hidup setia di antara bentangan karya Yesus yang sudah [already] sekaligus belum [not yet] berkait dengan kedatangan-Nya yang kedua kali?
  2. Tanda-tanda akhir zaman, hidup setelah kematian, hidup kekal, kiamat. Bagaimana pemahaman konsep ini memengaruhi tanggung jawab sosial dalam menjalani hidup sebelum kedatangan Kristus?

Saldik, Jakarta

Jawaban

Kristus sudah menang, tetapi kepenuhan Kerajaan Allah belum dinyatakan sepenuhnya.

Dalam iman Kristen, hidup kekal bukan sekadar “kehidupan setelah mati”, tetapi kehidupan yang sudah dimulai sekarang dalam relasi dengan Kristus dan akan mencapai kepenuhannya dalam kebangkitan sebagai ciptaan baru. Karena itu, ketidakpastian dunia tidak menjadi dasar pengharapan. Dasarnya adalah kesetiaan Allah dan kemenangan Kristus. “Pengharapan Kristen bukan kepastian bahwa kita tahu apa yang akan terjadi, melainkan kepastian kepada siapa hidup kita dipercayakan.” Paulus bahkan mengatakan bahwa jika Kristus telah dibangkitkan, maka kematian bukanlah hal yang menakutkan karena Yesus sudah mengalahkan musuh terakhir: maut! [1Kor. 15:20–26, 54–57].

Perihal Predestinasi dan Kehendak Bebas. Sebab tradisi Kristen tidak memiliki satu formulasi tunggal perihal isu predestinasi dan kehendak bebas, maka kita perlu waspada dan arif. Predestinasi menekankan bahwa keselamatan dan tujuan akhir sejarah berada dalam kedaulatan Allah. Sementara Kehendak bebas manusia menegaskan bahwa manusia tetap dipanggil untuk: bertobat, percaya, memilih, bertanggung jawab, dan melakukan kehendak Allah. Keduanya tidak harus dipertentangkan karena Allah mempunyai maksud-Nya (Ef. 1:4–5) dan manusia dipanggil untuk bertobat dan percaya (Kis. 17:30), serta mempertanggungjawabkan perbuatannya (2Kor. 5:10). Karena masa depan berada di tangan Allah, orang percaya justru dipanggil untuk berjaga-jaga dan tetap setia (Mat. 24:42–46).

Jadi, predestinasi bukan alasan untuk pasif dalam menjalani kehidupan; memahami eskatologi justru menghasilkan hidup yang bertanggung jawab.

Apakah tanda-tanda akhir zaman harfiah atau simbolis? Literatur apokaliptik memang menggunakan bahasa simbolik seperti: matahari menjadi gelap, bulan tidak bercahaya, bintang-bintang jatuh, binatang, naga, meterai, sangkakala, dan lain sebagainya. Namun simbol tidak berarti tidak nyata. Misalnya, “matahari menjadi gelap” dapat menjadi gambaran simbolis tentang runtuhnya suatu tatanan; tetapi teks apokaliptik juga berbicara mengenai penghakiman dan tindakan Allah yang sungguh-sungguh. Jadi, jangan mengubah setiap simbol menjadi prediksi kalender, tetapi jangan pula membuang makna simbol dari realitas eskatologis yang hendak diberitakannya.

Yesus sendiri memperingatkan: “Tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu…” (Mat. 24:36). Jadi, eskatologi Alkitab bukan terutama diberikan untuk memuaskan rasa ingin tahu tentang tanggal kiamat, melainkan untuk membentuk cara hidup umat Allah sambil menantikan kedatangan Kristus.

Eskatologi individu dan tanggung jawab sosial. Kalau seseorang percaya bahwa “dunia ini akan hancur, jadi tidak ada gunanya memperbaikinya”, ia dapat jatuh ke dalam fatalisme.

Tetapi perspektif Alkitab justru berbeda. Paulus berbicara panjang tentang kebangkitan dan kehidupan kekal dalam 1 Korintus 15:58, ia menyimpulkan: “Karena itu… berdirilah teguh, jangan goyah… giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan.” Jadi dampak Kebangkitan Kristus → bukan membuat orang percaya apatis → tetapi mereka semakin giat bekerja. Mengapa?

Karena pekerjaan kita “tidak sia-sia di dalam Tuhan.”

Wawasan ini juga tampak dalam Wahyu 21–22. Tujuan akhirnya bukan sekadar manusia melarikan diri dari bumi menuju surga; tetapi dengan hadirnya langit yang baru dan bumi yang baru, serta Allah diam bersama manusia. Pada gilirannya membuat orang percaya peka dan peduli terhadap kemiskinan, keadilan, lingkungan, perdamaian, keluarga, pendidikan, dan masyarakat. Sikap dan perilaku orang percaya bukan bertentangan dengan eskatologi. Justru dapat menjadi kesaksian tentang realitas Kerajaan Allah yang akan datang.

Bagaimana menghadapi prediksi “kiamat”? Ada beberapa prinsip yang baku dan mutlak.

Pertama — Yesus tidak memberikan tanggal sangat jelas, [Mat. 24:36]. Kedua — tanda-tanda bukan kalender, seperti: perang, gempa, wabah, kelaparan, dan krisis memang terdapat dalam pembicaraan eskatologis Yesus (Mat. 24), tetapi Yesus juga mengatakan bahwa “Semuanya itu barulah permulaan penderitaan.” Artinya, jangan menjadikan setiap bencana sebagai bukti bahwa kita telah berhasil menemukan jadwal kedatangan Kristus. Ketiga — ukur buahnya.

Prediksi eskatologis yang sehat seharusnya menghasilkan: pertobatan → kewaspadaan → kesetiaan → kasih → pelayanan dari orang beriman dan bukan menghasilkan: ketakutan → kepanikan → spekulasi → penentuan tanggal → manipulasi.

Apokaliptik destruktif versus transformatif. Konsep ini dapat ditemukan dalam Alkitab, tetapi tidak tepat kalau dibuat sebagai dua kubu yang sepenuhnya bertentangan. Memang ada unsur penghakiman dan penghancuran terhadap kejahatan: 2Ptr. 3:10–13. Why. 20:11–15. Tetapi ada juga unsur pembaruan dan transformasi: Yes. 65:17. Rom. 8:19–23. Why. 21:1–5.

Paulus dalam Roma 8:21: “makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” Jadi gambaran akhirnya bukan sekadar bahwa dunia dihancurkan kemudian manusia diselamatkan dari dunia. Tetapi sejatinya bahwa: kejahatan dihakimi → ciptaan dibebaskan → ciptaan diperbarui → Allah diam bersama umat-Nya.

Pada akhirnya kita perlu menguji pemahaman iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus: “Apakah kita sudah menjadi ciptaan baru karena regenerasi Allah atau iluminasi manusia.

“Eskatologi Kristen bukan terutama tentang kapan dunia berakhir, tetapi tentang bagaimana umat Allah hidup dengan setia karena mengetahui kepada siapa sejarah menuju.” Jadi, ketika bencana terjadi, respons gereja bukan mengatakan, “Inilah kiamat!”, melainkan: berduka bersama yang menderita → menolong yang membutuhkan → menyerukan pertobatan → hidup berjaga-jaga → tetap mengerjakan panggilan Tuhan → menantikan Kristus.

Itulah eskatologi yang tidak membuat gereja melarikan diri dari dunia, tetapi membuat gereja hadir di tengah dunia dengan pengharapan.

About the Author: Pdt. Simon Stevi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *