Home > Ungkapan Hati

Jalan Berliku Panggilan Tuhan

Dari Berjualan Kue hingga Menemukan Cinta di Ladang Pelayanan

Menjawab panggilan sebagai hamba Tuhan sering kali bukanlah sebuah jalan yang mulus dan bertabur bunga. Bagi sebagian orang, keputusan ini berarti harus siap menghadapi penolakan, mengorbankan kenyamanan, dan memulai segala sesuatunya dari titik nol. Namun, di balik segala kesulitan tersebut, selalu ada kedamaian dan campur tangan Tuhan yang tak terduga-termasuk dalam urusan jodoh.

Berikut adalah kisah perjalanan Pendeta Martudi Budeng, seorang pelayan Tuhan yang penuh dengan perjuangan, pengorbanan, dan kejutan manis.

Masa Kecil yang Ditempa Kerasnya Kehidupan

Pria kelahiran Kuala Kapuas, 24 Maret 1983 ini terlahir sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, Martudi sudah mengenal kerasnya kehidupan sejak usia dini. Perjalanan hidupnya sangat dipengaruhi oleh dinamika keluarganya:

  • Sosok Ayah: Ayahnya adalah seorang pelaut yang sayangnya tidak bisa menjadi panutan. Kebiasaan buruk sang ayah yang suka berjudi membuat nafkah keluarga sering kali terbengkalai.
  • Perjuangan Membantu Ibu: Menyadari beban berat ibunya, Martudi rela berjualan kue keliling kampung sejak duduk di bangku kelas 5 SD hingga lulus SMA. Ia bahkan tidak segan membantu menjual daging babi demi menyokong biaya pendidikan kakak-kakaknya, karena sang ayah tidak memberikan dukungan finansial.
  • Teladan Iman Sang Ibu: Di tengah segala keterbatasan, ibunya tetap menjadi pilar iman yang luar biasa. Sang ibu sangat setia kepada Tuhan dan sering membuka pintu rumahnya di Kalimantan untuk menampung para pendeta dan hamba Tuhan. Dari teladan ibunyalah, benih panggilan rohani mulai tumbuh dalam dirinya.

Menjawab Panggilan dan Berani Melangkah

Panggilan untuk melayani Tuhan mulai dirasakannya sejak ia duduk di bangku kelas 2 SMP, dan panggilan itu semakin berakar kuat saat ia berada di kelas 2 SMA.

Namun, keputusannya ini ditentang keras oleh saudara-saudaranya. Mereka berharap ia masuk ke sekolah kedinasan (STPDN) agar memiliki masa depan yang terjamin. Jika pun ingin sekolah Alkitab, keluarganya memaksa agar ia mengambilnya di Kalimantan saja.

Didorong oleh keyakinan yang mantap dan pencarian akan kedamaian batin (sukacita sejati), ia mengambil keputusan berani:

  1. Merantau ke Jakarta: Ia nekat pergi ke Jakarta untuk melayani Tuhan sesuai dengan imannya, meskipun tanpa restu dari keluarga besar (kecuali ibunya).
  2. Sekolah Teologi di Petamburan Jakarta: Setelah melalui berbagai pembinaan dan bersekutu dalam doa, ia akhirnya menyelesaikan pendidikan rohaninya pada tahun 2006.

Merintis Gereja dari Nol di Pelosok Kalimantan

Setelah lulus, ia menerima perutusan untuk kembali ke Kalimantan. Kali ini, ia ditempatkan di daerah Puruk Cahu, Barito, untuk merintis gereja (GBI) yang benar-benar dimulai dari nol.

Perjalanannya tidak mudah. Ia tidak mendapatkan dukungan finansial dari keluarga yang masih tidak menyetujui keputusannya. Ia terjun langsung ke lapangan, membangun komunitas rohani, dan memberikan seluruh hidupnya untuk melayani umat dengan tulus.

Cinta, Perjodohan, dan Syarat yang Tak Terduga

Di tengah kesibukannya merintis pelayanan, Tuhan menyelipkan sebuah kisah cinta yang unik dan penuh warna.

Konspirasi Sahabat: Temi dan Ginting Melihat sahabatnya melajang dan berjuang sendirian di Kalimantan, dua rekan pelayanannya yang bernama Temi dan Ginting turun tangan. Mereka secara diam-diam menjodohkannya dengan seorang wanita tangguh bernama Yunita, yang juga aktif dalam pelayanan.

  • Awalnya, Martudi sempat menolak dan ragu karena Yunita memiliki rambut keriting – sesuatu yang saat itu tidak masuk dalam kriteria idamannya.
  • Ia juga enggan terlalu banyak berkomunikasi lewat telepon (Blackberry) dan meminta Yuni untuk tidak banyak berkomentar jika memang serius.

Pembuktian Cinta Lintas Pulau Temi dan Ginting tidak kehabisan akal. Mereka bahkan rela patungan membelikan tiket pesawat pulang-pergi untuk Yuni agar bisa terbang ke Banjarmasin menemui Martudi dan melihat langsung medan pelayanannya.

  • Martudi rela menempuh perjalanan darat selama 12 jam dari Puruk Cahu ke Banjarmasin hanya untuk menjemput Yuni.
  • Hebatnya, karena memegang teguh prinsip, Yuni sama sekali tidak menginap; ia datang di hari Sabtu dan langsung pulang di hari yang sama. Hal ini membuktikan ketegasan dan komitmen Yuni yang luar biasa.

Kejutan dari Sang Ibu Momen paling menegangkan adalah saat ia membawa Yuni untuk diperkenalkan kepada ibunya. Ia sempat khawatir ibunya tidak akan setuju, mengira sang ibu lebih menyukai wanita yang berkulit putih atau berpenampilan berbeda.

Namun, apa yang terjadi justru sebaliknya. Sang ibu dengan cepat memberikan restu. Bagi sang ibu, karakter Yuni yang berpendirian sangat kuat, tangguh, dan tanpa basa-basi adalah sosok yang tepat. Sang ibu yakin, hanya wanita berkarakter baja seperti Yuni yang mampu mendampingi, mendukung, dan meluruskan jalan anaknya dalam menjalani kerasnya kehidupan sebagai seorang hamba Tuhan.

Pada akhirnya, segala pengorbanan, dari berjualan kue di masa kecil hingga merintis gereja di pedalaman, terbayar lunas dengan kedamaian hidup dan hadirnya pendamping yang dikirimkan Tuhan di waktu yang paling tepat.

Sang Istri: “Bodyguard” dan Tiang Penopang

Jika ada satu sosok pahlawan di balik layar dalam kisah ini, ia adalah sang istri: Yunita Afriance Nahak. Di tengah tekanan pelayanan selama belasan tahun, sang istri hadir bak seorang pelindung yang tak kenal takut.

“Jangan meragukan perempuan. Terkadang, perempuan itu lebih kuat dari kita.”

Ketika ayah dari 3 orang anak ini merasa tak berdaya, lelah, atau berhadapan dengan pihak-pihak yang menekan dari luar, sang istrilah yang maju mengambil alih dan pasang badan. Ia adalah sosok yang realistis, tegas, dan tangguh. Meski terkadang perbedaan pendapat membuat suasana menjadi tegang-dan diakui sang suami sering membuatnya sebal-ia sadar betul bahwa karakter keras istrinyalah yang mendewasakannya. Sang istrilah yang menjaga kewarasannya dan memastikan nyala pelayanan itu tidak pernah padam.

Buah Ketulusan: Melayani Bukan Memaksa

Setelah kurang lebih 15 tahun berjuang – termasuk melanjutkan tongkat estafet dari perintis awal yang telah tiada 12 tahun silam – bangunan rumah ibadah pun akhirnya berdiri. Menariknya, jemaat yang hadir bukanlah hasil dari “mengambil” jemaat gereja lain. Mereka adalah masyarakat murni yang menemukan kenyamanan di sana.

Berawal dari ibadah yang sepi, kini rata-rata 40 orang hadir dengan setia setiap minggunya. Pendekatan mereka sangat membumi: bukan melalui paksaan doktrin, melainkan lewat doa kesembuhan, kepedulian tulus, hingga bantuan pendidikan (menyekolahkan anak-anak jemaat).

Murni Karena Anugerah

Jika ditanya apa kunci dari semua pencapaian dan ketahanan ini, jawabannya terangkum dalam satu kalimat singkat yang penuh makna: “Semua karena anugerah Tuhan.”

Tuhan yang memampukan, Tuhan yang menguatkan, dan Tuhan yang menghibur mereka di saat-saat paling berat. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa ketika kita bersandar penuh pada Sang Pencipta dan bekerja keras-bahkan jika harus mendanai rumah Tuhan dari hasil berjualan es-tidak ada yang mustahil bagi-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *