Home > Ungkapan Hati

Dari Office Boy Menjadi Trainer Nasional

Kisah Inspiratif Pantar: Menaklukkan Keterbatasan

Siapa sangka, seorang pemuda lulusan SMA yang dulunya harus menghemat jatah makan siang dan sesekali memungut sisa kue meeting untuk menghemat pengeluaran, kelak akan berdiri di hadapan ribuan orang, termasuk Wakil Presiden Republik Indonesia, sebagai seorang trainer soft skills bertaraf nasional.

Inilah kisah Pantar, sebuah bukti nyata bahwa keterbatasan finansial dan ketiadaan gelar sarjana bukanlah akhir dari segalanya.

Cita-Cita yang Terbentur Realita

Sejak SMA, Pantar memiliki minat yang besar pada dunia psikologi dan perilaku manusia. Namun, realita hidup berkata lain. Perceraian kedua orang tuanya saat ia masih duduk di bangku SMP membawa dampak besar pada kondisi ekonomi keluarga. Ibunya, seorang guru TK honorer di kampung, tidak memiliki biaya untuk menyekolahkan Pantar ke jenjang perguruan tinggi.

Meski berasal dari keluarga yang melayani dan berdedikasi—kakak pertama hingga ketiga semuanya mengabdikan diri di jalur pelayanan gereja Baptis—Pantar harus menelan rasa malu karena tidak bisa melanjutkan kuliah. Ia pun memilih merantau, mengikuti kakak pertamanya yang sedang merintis gereja di Purwakarta.

Masa-masa perintisan bukanlah hal yang mudah. Selama enam bulan, Pantar hidup dalam ketidakpastian. Pada tanggal-tanggal tua, ia dan kakaknya sering kali harus menyiasati keadaan dengan hanya makan mi kuah.

Ironi “Sekretariat” dan Perjuangan di Ibu Kota

Titik terang seolah muncul ketika Pantar mendapat tawaran pekerjaan sebagai staf sekretariat direksi di salah satu rumah sakit di Jakarta. Namun, ekspektasi tak seindah realitas. Meski berstatus staf, pekerjaan teknis yang harus ia lakukan adalah tugas seorang Office Boy (OB), mulai dari menyiapkan minuman, mengelap meja meeting, mengantar dokumen ke semua lantai (ada delapan lantai), hingga memfotokopi dokumen.

Tantangan terberatnya adalah bertahan hidup di Jakarta dengan gaji yang sangat minim.

Gaji Pertama: Rp195.000 per bulan (di bawah UMR Jakarta saat itu sekitar Rp400.000).

Biaya Tempat Tinggal: Demi menekan biaya hidup, Pantar memilih tinggal di kamar kos yang sangat sederhana, berbagi kamar dengan orang lain dengan biaya sewa hanya Rp50.000 per orang per bulan. Pada masa itu, ia bahkan harus tidur beralaskan selembar kain dan menggunakan bantal pinjaman dari teman kos.

Strategi Bertahan Hidup: Pantar mengandalkan jatah makan siang dari kantor yang ia bawa pulang untuk makan malam. Pada setiap hari Selasa, ia juga kerap menyisihkan roti premium sisa meeting direksi yang sengaja ia sembunyikan dari staf lain agar bisa menghemat biaya makan hari itu.

Di tengah rutinitas berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam, Pantar terus berdoa, “Tuhan, kalau boleh saya di sini satu tahun, sesudah itu saya akan pindah cari kerja.” Ia meyakini bahwa panggilan hidupnya bukan berada di sana.

Titik Balik: Menjadi Guru Sempoa

Tepat pada bulan keenam, sebuah kesempatan emas datang melalui program pelatihan guru (Training of Trainer) sempoa. Pantar memutuskan resign dari rumah sakit.

Sempat diiming-imingi posisi untuk membuka cabang di Jayapura, rencana tersebut rupanya batal. Namun, Tuhan membuka jalan lain. Pantar ditawari untuk menjadi Guru Sempoa di cabang Jatinegara, Jakarta, dengan gaji Rp600.000 (sedikit di atas UMR sehingga bisa sewa kos yang lebih baik). Karena kinerjanya yang mumpuni, ia akhirnya diangkat menjadi Trainer yang bertugas melatih para guru.

Di sinilah instingnya bekerja. Pantar menyadari bahwa teknik mengajar saja tidak cukup. Ia meminta izin kepada pimpinannya untuk memasukkan materi komunikasi dan penampilan ke dalam kurikulum pelatihan. Inisiatif kecil ini ternyata mengubah jalan hidupnya secara drastis.

Kekuatan Soft Skills dan Panggung Nasional

Gaya mengajarnya yang seru, praktis, dan berfokus pada soft skills mulai menarik perhatian banyak orang. Suatu hari, ia diundang untuk menjadi narasumber seminar di sebuah lembaga di Jatinegara.

“Gaji saya waktu itu Rp600.000 sebulan. Honor dari seminar dua jam itu Rp500.000! Saya mikir, enak juga ya.” — Pantar

Sadar akan potensinya, Pantar mulai belajar secara otodidak. Ia mempelajari ilmu komunikasi dan personal branding murni dari membaca buku, mendengarkan radio, menonton film, dan mengamati gestur manusia.

Dedikasi dan kemauannya untuk terus belajar membuahkan hasil yang luar biasa. Di usia 25 tahun, tanpa gelar sarjana dan sertifikasi formal, Pantar telah diundang untuk mengajar di berbagai seminar nasional, bersanding dengan rektor dan akademisi bergelar S3 (Doktor). Pendekatannya yang tidak sekadar lecturing, melainkan sangat engaging, membuatnya selalu menjadi pembicara favorit.

Puncaknya, di usia 26 tahun, Pantar berdiri mempresentasikan materinya di hadapan 2.500 orang, yang di antaranya turut dihadiri oleh Wakil Presiden saat itu, Jusuf Kalla. Modal pengalaman dan kredibilitas inilah yang pada akhirnya membawa Pantar bergabung, berkarya, bahkan membagikan kemampuannya dalam melayani di gereja.

Semua karena Kasih Karunia

Kisah Pantar mengajarkan bahwa pendidikan formal memang penting, namun soft skills, kemampuan komunikasi, adaptasi, dan kemauan untuk belajar secara mandiri sering kali menjadi kunci yang membuka pintu kesuksesan yang tak terduga. Dari seorang Office Boy yang mengelap meja, ia bertransformasi menjadi komunikator andal yang mengubah cara pandang ribuan orang.

“Semua yang terjadi dalam hidupku adalah kasih karunia. Kalau bukan karena Tuhan, mustahil ini terjadi,” ungkap Pantar mendalam.

Bergumul dengan talenta yang diberikan Tuhan, mempertanggungjawabkannya, dan memaksimalkannya, dengan tetap meminta pertolongan Tuhan, menjadi tekad suami Ina ini dengan penuh semangat.

Semangat yang dimiliki ayah Matthew dan Jeane ini tetap sama sejak 2017 hingga sekarang.

“Setiap orang kadang merasa tidak ideal pada dirinya karena merasa ada yang kurang. Namun, setiap orang bisa memaksimalkan dirinya sesuai potensi yang diberikan Tuhan,” pesan Pantar dengan antusias.

“Keluarga adalah blessing yang diberikan Tuhan,” tambah Pantar dengan senyum bahagianya.

Sosok penyuka musik dan membaca buku ini menutup kisah inspiratifnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *