
Syalom ibu Greta,
Sebagai orang tua tunggal saya baru saja mengalami kehilangan anak yang saya kasihi, sebagai seorang yang menghadapi kehilangan, ada luka dan gejala emosional yang saya alami karena ketidaksiapan atau kerapuhan pribadi.
- Bagaimana menghadapi perasaan dan keinginan untuk mati menemui orang yang telah pergi, karena cinta dan harapan untuk bersamanya telah pergi bersama kematian itu?
- Apakah perasaan dan keinginan ini bisa hilang atau dipulihkan? Kalau bisa, bagaimana caranya?
- Apakah ada harapan dan keinginan lain yang bisa menutupi dan mengubur keinginan untuk mati ini bu? Saat ini saya sudah tidak memiliki keinginan yang lain selain mati.
Tangerang, ibu yang terluka
Jawaban:
Syalom ibu, kedukaan yang ibu alami saat kehilangan anak yang dikasihi, memang merupakan hari-hari yang sulit, yang mengakibatkan ibu merasa sedih, karena selama ini ibu telah menghabiskan waktu bersama, sekarang tidak lagi ada bersama-sama, merasa seolah-olah tidak ada lagi harapan untuk hidup.
Sedih atau kedukaan adalah emosi yang diberikan Tuhan dan merupakan respons yang wajar ketika seseorang mengalami kehilangan orang yang dikasihi.
Berduka adalah proses normal yang sehat ketika berlangsung dalam jangka waktu tertentu.
Ibu merasa tidak siap menghadapi kepergian anak yang dikasihi, karena tidak seorang pun tahu siapa dan kapan seseorang akan dipanggil Tuhan.
Dukacita atas kematian orang yang dikasihi tidak akan hilang begitu saja dalam beberapa hari, minggu atau bulan bahkan tahun. Setiap orang berbeda-beda menghadapi kedukaan, tetapi yang penting bagaimana dapat mengatasi dan tidak terbenam dalam kesedihan.
- Untuk menghadapi perasaan ingin mati bersama dengan orang yang dikasihi yang sudah tiada, maka yang ibu perlu lakukan adalah:
– Menerima (acceptance) kenyataan yang terjadi, bukan menolak (denial). Menerima kenyataan bahwa anak ibu sudah tidak lagi bersama-sama. Mengetahui bahwa setiap kelahiran akan berakhir pada kematian. Hidup dan mati manusia ada di tangan Tuhan, Sang pencipta. Mengetahui tidak ada suatupun yang abadi di dunia, setiap orang akan mengalami kematian dan kehilangan.
-Menyadari bahwa masa lalu, tidak dapat kembali untuk masa kini.
Ketika mengalami kedukaan , kita perlu menyadari bahwa suatu perubahan telah terjadi, orang yang sudah pergi tidak akan pernah kembali lagi. Ibu tidak lagi dapat melihatnya secara fisik. Ibu menyadari kematian memberikan kesempatan untuk bersama dengan Tuhan, untuk menikmati keabadian dan bebas dari kesedihan, penyakit dan kesulitan, di mana anak ibu tidak lagi mengalami kesakitan.
Perlu diketahui dan disadari bahwa duka adalah sisi lain dari cinta. Duka bukan cinta.
Mencintai itu wajar, tapi ketika keinginan dan pikiran mencintai itu begitu mengikat dan berkembang menjadi keinginan untuk mengendalikan, menguasai, bahkan memanipulasi , itu bukanlah cinta yang benar; mencintailah dengan wajar.
Berduka itu normal, tapi ketika pikiran berduka begitu mengikat hidup kita, maka itu akan berkembang menjadi penolakan akan kenyataan yang ada dan mengakibatkan ketidakberdayaan; berdukalah dengan wajar.
Perasaan duka bukan untuk mematikan tetapi dapat dikelola menjadi lebih sehat dan wajar.
Seorang anak yang hilang tidak bisa diganti, tetapi rasa sepi, tidak berdaya, merasa sendiri itu yang bisa dan perlu diganti dengan pikiran dan emosi yang positif.
- Bagaimana menghilangkan perasaan ingin mati ketika mengalami perasaan duka?
Seorang yang berduka dapat mengalami depresi; depresi atau duka ketika ibu tidak bisa lepas atau terus berpikir tentang anak ibu, atau ketika masih ada penyesalan yang belum terselesaikan.
Ketika perasaan menyesal muncul, sadari kita bukan orang yang dapat mengetahui masa depan apa yg akan terjadi, dan kematian ada di luar kendali kita. Setelah itu melangkahlah, tidak tinggal di tempat.
Duka yang berkepanjangan sampai lebih dari 1 tahun akan mengalami kesedihan yang berlebihan, yang dapat mengakibatkan kebingungan, ketidakpercayaan, gangguan emosional, kesulitan berelasi dengan orang lain, merasa hidup tidak bermakna, rasa kesepian yang kuat.
Kelihatan ibu ada kecenderungan mengalami kedukaan yang berkepanjangan, dengan terus mengalami kesedihan yang berlarut-larut karena kepergian anak terkasih. Bila ibu masih ada rasa sakit di hati, ada keinginan untuk menangis atau marah. maka menangislah, ekspresikan dengan cara yang tepat untuk meredakan. Tetapi ingat, kembalilah menjadi dirimu dimana orang lain dan orang yang meninggalkanmu mengenal ibu.
Langkah-langkah yang bisa ibu lakukan:
– Menerima kenyataan dengan rasa syukur karena anak ibu sudah berada di tempat yang aman bersama Tuhan.
Menerima dan menyadari bahwa anak ibu tidak lagi bersama dengan ibu, perlu kebesaran hati untuk menerima dan mengakuinya.
– Membangun relasi yang baru dengan orang-orang di sekeliling ibu, untuk kembali berada di lingkungan yang nyaman. Tidak mudah kembali lagi dengan semua perubahan yg ada, untuk itu carilah lingkungan yang memahami kondisi ibu. Jangan ragu untuk mencari pertolongan tenaga profesional, jika diperlukan.
– Merawat dan mengasihi diri (Self love) bukan mengasihani diri , dengan melakukan hal-hal yang membuat ibu senang. Ambil waktu untuk refleksi, istirahat, lakukan pola hidup sehat, hobi, olahraga, jurnaling.
– Membangun relasi dengan Tuhan melalui doa, ibadah, dan minta pengampunan dan bertobat kembali kepada Tuhan , kalau selama ini ada hal-hal yang tidak berkenan yang sudah dilakukan, bukan menjauh dari Tuhan.
Dukacita yang benar menghasilkan pertobatan dan kehidupan yang diperbaharui oleh Tuhan.
– Serahkan harapan ibu kepada yang benar.
Gantikan harapan yang salah dengan menemukan kembali arti kehidupan.
Lanjutkan kehidupan ini dengan mengisi hari-hari ibu dengan melakukan hal yang benar.
Hidup ini tidak hanya berhenti ketika ada kedukaan, kita perlu bertumbuh dalam kedukaan dengan melihat ke luar dari lingkup kita selama ini. Temukan makna yang ada dalam kedukaan. Sambutlah kedukaan dengan benar.
Tidak lagi bertanya : mengapa Tuhan, aku mengalami ini? tetapi bertanyalah: apa yang Tuhan ingin aku lakukan dalam kehidupan ini?
Ingin hidup bersama dengan orang yang dikasihi itu wajar, tapi merelakan kepergiannya adalah tindakan mulia yang mau berkorban. Hidup masih berlanjut, rayakan dengan orang yang masih ada.