Kenosis Sehari-hari: Rela Mengosongkan Diri di Tempat Kerja dan Pelayanan

Filipi 2:6-8 – “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”

Dalam dunia professional, dalam struktur organisasi modern, kesuksesan kepemimpinan sering kali diukur dari seberapa besar otoritas yang kita genggam, seberapa luas privilese yang kita nikmati dan seberapa tinggi posisi kita di puncak piramida otoritas. Dunia mengajarkan kita untuk mempertahankan posisi, menuntut hak dan membangun reputasi dan ego. Namun, kepada kita, pemimpin Kristen sejati, Rasul Paulus menyodorkan sebuah konsep kepemimpinan yang berbeda radikal, yang menjungkirbalikkan logika dunia tersebut, yaitu apa yang dalam teologi Kristen dikenal sebagai tesis kenosis.

Istilah kenosis berasal dari bahasa Yunani kenoo, yang secara harfiah berarti “mengosongkan hingga tak tersisa lagi” atau “menanggalkan hak istimewa.” Dalam konteks Filipi 2:6-8, kenosis bukanlah kehilangan identitas atau pembatalan ke-Allahan Kristus, melainkan tindakan sukarela Sang Raja Semesta untuk menanggalkan hak-hak keallahan-Nya, mengambil rupa seorang hamba, dan membatasi diri-Nya demi misi penyelamatan manusia dari hukuman dosa. Ini tentu bukan bentuk kekalahan atau kerugian, melainkan unjuk kekuatan diri tertinggi, kekuatan untuk melepaskan hak demi satu tujuan yang mulia.

Bagi kita yang memimpin di korporasi, instansi pemerintahan, maupun gereja dan lembaga pelayanan, kenosis dalam kehidupan sehari-hari berarti kesediaan untuk secara sengaja mengosongkan ego, ambisi pribadi serta dorongan untuk selalu dihargai dan dilayani. Kenosis menuntut keberanian untuk “mengotori tangan”—bersedia turun ke bawah, terlibat langsung dalam pergumulan tim, dan tidak sekadar melemparkan perintah dari balik meja kerja. Seperti ketika Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya (Yohanes 13), kenosis diekspresikan saat seorang pemimpin mau mendengarkan masukan staf paling bawah, mengakui kekeliruan secara terbuka, dan mengutamakan kesejahteraan tim di atas kenyamanan pribadi.

Kerendahan hati melalui kenosis ini bukanlah bukti kelemahan, melainkan kunci utama dari ketangguhan (resilience) seorang pemimpin Kristen. Mengapa demikian? Pemimpin yang mempertahankan ego dan sangat bergantung pada posisi atau hak istimewa akan rapuh di tengah badai krisis. Ketika krisis ekonomi melanda bisnis, ketika posisi dirotasi, atau ketika strategi kepemimpinan mendapat kritik tajam, pemimpin yang haus akan penghormatan akan mudah frustrasi, defensif, dan akhirnya hancur secara mental.

Sebaliknya, pemimpin yang terbiasa mempraktikkan kenosis harian memiliki daya tahan (resilience) yang besar. Karena ia telah belajar mengosongkan egonya setiap hari di hadapan Tuhan dan manusia, ia tidak lagi memiliki rasa takut akan kehilangan muka atau gengsi. Saat badai datang, ia tidak sibuk menyelamatkan citra diri, melainkan fokus mencari solusi dan melindungi timnya. Kerendahan hati kenosis memberikan kelenturan mental untuk beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan integritas.

Pertanyaan yang sering muncul adalah: Apakah bersikap kenosis berarti kita harus membiarkan diri kita diinjak-injak, mengabaikan ketegasan atau menoleransi ketidakadilan? Pasti tidak. Kenosis memiliki batas yang jelas, yaitu: mengosongkan ego dan hak pribadi, tetapi TIDAK PERNAH mengosongkan prinsip, integritas dan tanggung jawab kepemimpinan. Artinya ‘kenosis’ …

  • Bukan mengabaikan keadilan dan kebenaran.Yesus mengosongkan hak-Nya, tetapi Ia tidak pernah mengompromikan kebenaran Allah. Kenosis tidak berarti kita berdiam diri saat terjadi kecurangan, manipulasi data, atau tindakan tidak etis di tempat kerja. Mengosongkan diri bukan berarti membiarkan kejahatan terjadi.
  • Bukan lepas tanggung jawab atas fungsi kepemimpinan.Mengosongkan diri tidak berarti menghapus fungsi otoritas. Pemimpin tetap wajib mengambil keputusan sulit, menegakkan disiplin dan menuntut akuntabilitas dari tim. Teladan kenosis Yesus tidak meniadakan otoritas-Nya sebagai Tuhan dan Guru; Ia melayani bukan untuk disukai semua orang, melainkan untuk mengerjakan kehendak Bapa-Nya.
  • Bukan pengabaian diri yang merusak.Kenosis adalah tindakan pengorbanan yang memiliki tujuan jelas, bukan aksi martir yang tanpa arah. Mengorbankan kesehatan fisik, mental atau keluarga secara terus-menerus akibat manajemen yang buruk bukanlah kenosis, melainkan ketidakbijaksanaan dalam penatalayanan  sumber daya dan waktu.

Bagaimana kita mempraktikkan kenosis yang membangun ketangguhan ini secara praktis? Kenosis mengubah cara kita bekerja dan memimpin. Sebagai pemimpin mari kita lakukan, antara lain:

  1. Memindahkan posisi diri dalam piramida kekuasaan.Pandanglah jabatan kita sebagai sarana menyokong tim dari bawah, bukan panggung untuk dihormati bawahan.
  2. Praktikkan self-auditego terus menerus. Setiap kali muncul rasa tersinggung saat dikritik atau rasa marah saat ide kita ditantang, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ini tentang kepentingan organisasi, atau sekadar egoku yang terluka?”
  3. Berikan panggung kepada orang lain.Pemimpin yang memraktikkan kenosis tidak khawatir ketika anggotanya bersinar. Ia justru bangga ketika timnya berhasil, dan bersedia pasang badan ketika timnya menghadapi kegagalan.

Kenosis harian bukan tentang membuat diri kita menjadi kecil dan tidak berdaya, melainkan membuat Kristus menjadi besar di dalam cara kita memimpin. Ketika kita rela mengosongkan ego dan menaruh kepercayaan penuh pada tangan Allah yang memegang kita, badai organisasi sebesar apa pun tidak akan sanggup merubuhkan kita. Di situlah kita menemukan ketangguhan sejati seorang pemimpin hamba. Tuhan Yesus memberkati!

About the Author: EV. Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *