
Ibu pengasuh,
Saya mengalami masalah kesehatan mental. Di saat bisnis saya menjadi goyang, saya menjadi frustrasi dan akhirnya jatuh dengan WIL. Peristiwa ini semakin membuat saya jatuh terpuruk dan istriku juga terluka, menyatakan ingin bercerai. Pernyataan dan tuntutannya membuat hidup saya semakin kacau dan semakin jatuh lebih dalam lagi dengan WIL. Saya tahu semua ini salah, namun saya semakin sulit meninggalkan WIL dan tidak mau kehilangan keluargaku.
Pertanyaan:
- Bagaimana saya bisa terlepas dari ikatan dengan WIL, yang juga menuntut pertanggungjawabanku?
- Bagaimana mengembalikan hubungan dengan istri dan anak-anak dapat pulih kembali?
- Saya semakin terpuruk dan semakin dalam menarik saya ke lumpur dosa, bagaimana saya bisa diangkat dan bangkit kembali?
Dalam keputusasaan namun membutuhkan pertolongan, mohon bantuan bimbingan Ibu. Doakan saya dan tolonglah berikan jalan bagi saya yang hancur.
Terima kasih.
Sofyan, Bekasi
Jawaban:
Sofyan, menjalankan perkawinan itu memang tidaklah semudah yang orang pikirkan. Anda kelihatan mengalami frustrasi ketika bisnis Anda goyang dan kemudian malah terjerat lari kepada wanita lain. Mungkin perlu diingat tujuan dari perkawinan bukanlah bahagia, bukan kekayaan atau kesejahteraan tetapi pertumbuhan bersama dalam melewati kekurangan atau kelimpahan, sakit atau sehat, suka maupun duka, seperti yang diucapkan dalam janji Nikah.
Banyak orang memasuki perkawinan dengan tujuan untuk mendapatkan kebahagiaan, dan melepaskan diri dari konflik yang pernah dialami sebelumnya, antara lain menjauhkan diri dari orang tua yang selama ini dianggap menjadi sumber masalah. Tetapi kenyataan yang dihadapi alih-alih bahagia, ternyata malahan kesulitan dalam bentuk lain yang mungkin lebih parah.
Masalah keluarga bisa terjadi dalam berbagai bentuk, seperti yang Anda hadapi saat ini dalam hal finansial, perselingkuhan yang mengarah kepada perceraian, yang berdampak kepada kesehatan mental Anda.
Untuk mempertahankan kesehatan mental dalam mengatasi situasi krisis ini diperlukan ketangguhan atau resilience. Ketangguhan untuk bertahan, beradaptasi dan pulih kembali dari berbagai persoalan yang menekan.
Perlu diketahui bahwa hidup ini selalu diperhadapkan dengan berbagai pilihan, mau benar atau salah, mau tetap terikat dengan WIL atau kembali kepada keluarga? Setiap pilihan ada konsekuensinya.
Ketika Anda menyadari bahwa apa yang Anda lakukan adalah salah, jangan kembali kepada kesalahan yang Anda lakukan.
Dalam memperbaiki hubungan yang rusak tidaklah semudah membangun yang baru, untuk itu Anda perlu mengingat:
- Janji nikah yang telah diucapkan di hadapan Tuhan dan manusia, untuk tetap setia dalam susah maupun senang, dalam sakit maupun sehat.
Anda seharusnya terikat setia kepada pasangan Anda, bukan kepada yang lain. Terikat bukan karena takut kepada ancaman atau tuntutan karena minta pertanggungjawaban dari apa yang sudah Anda salah lakukan, tetapi setia kepada pernikahan yang kudus yang ditetapkan Tuhan. Ketika Anda melanggar perjanjian ini, Anda harus menanggung konsekuensinya. - Anda perlu melakukan rekonsiliasi dengan istri dan keluarga, membangun ulang dan menumbuhkan kembali kepercayaan (trust) dan cinta yang hilang.
Mengakui kesalahan dan mohon ampun atas apa yang sudah dilakukan kepada istri dan keluarga. Dan berjanji untuk tidak lagi melakukannya. Untuk melangkah ke depan, perlu mengingat memori yang indah bersama pasangan Anda, dengan mengingat kelebihan bukan kekurangannya.
Ingat, teladan apa yang akan Anda wariskan kepada anak cucu? Nilai-nilai dan iman yang benar atau kesalahan yang tidak pernah Anda lepaskan? - Tidak ada keluarga yang sempurna, karena setiap pasangan tidak ada yang sempurna, tetapi kita dalam proses untuk belajar menjadi sempurna. Tidak ada kesalahan yang tidak dapat Tuhan ampuni. Tuhan melihat kesungguhan hati setiap orang yang datang ke hadapan-Nya. Setiap keluarga memiliki tantangan, setiap kita mempunyai tanggung jawab untuk kembali melaksanakan peran kita masing-masing. Dalam keluarga selalu ada proses perbaikan dan pemulihan, ada pengakuan kesalahan dan ada pengampunan.
Indahnya ketika kita dapat bertahan dan melalui badai di tengah-tengah keluarga kita.
Jika Anda masih mengalami kesulitan dalam pemulihan keluarga dan kesehatan mental Anda, silakan hubungi konselor atau orang yang dapat menolong Anda.
Jika anda membutuhkan konsultasi Keluarga,
silakan mengirim pertanyaan ke Sekretariat YAPAMA WA: 0811-8888-804