Home > Ungkapan Hati

Hery Sudarno: Anugerah Mengikut Kristus

Perjalanan mengenal Kristus adalah kisah penuh anugerah yang terjadi bagi setiap pribadi yang dipilih oleh Tuhan. Bagaimana mungkin dari latar belakang non Kristen, dan dibesarkan di lingkungan melayu yang dominan, bisa membuat seorang Hery Sudarno menjadi percaya dan mengikut Kristus? Ini mustahil, namun inilah yang disebut kasih karunia.

Dibesarkan dari keluarga Konghucu yang kental dan hidup di lingkungan melayu yang aktif, tidak menjadi penghalang bagi pria kelahiran Riau, 2 November 1967 ini dapat menjadi percaya pada Yesus Kristus.

Awal Kegelisahan Menuju Keselamatan

Tepatnya di bangku kelas 4 SD, dalam pelajaran agama Islam. Sebuah kalimat gurunya, menyentak jiwa dan menggelisahkan hati, serta memutar pikiran Hery. “Tuhan yang benar bukan buatan manusia”, inti catatan guru ini mengusik ingatan Hery waktu itu.

Walaupun dikenal sebagai anak yang nakal, namun begitu serius pada apa yang menyentak pikirannya. Tanpa bertanya, hanya menyimpan di hati, kegelisahan itu sesaat namun kembali memengaruhinya hingga di bangku kelas 6 SD.

Lagi-lagi ketika mendengar dalam pelajaran agama bahwa jika di usia 17 tahun, seseorang akan mulai bertanggungjawab atas perbuatannya di hadapan Tuhan, Hakim dunia dan akhirat.  Hery mulai berseru lirih, “Tuhan, dari kelima agama yang ada di Indonesia, yang mana benar untuk diikuti?,” tanya Hery dalam doa pribadinya.

Pertanyaan sederhana seorang anak SD yang terlihat cuek dengan kehidupan, namun ternyata begitu serius memikirkan kehidupannya kelak. Inilah misteri karya Allah yang menyentuh hidup anak manusia.

Hery kecil senang bermain sepak bola bersama anak-anak melayu di kampungnya. Tak terlihat gereja apalagi orang Kristen di sana, selain Pak Tarigan yang tinggal di belakang rumahnya. Namun, tak pernah memperkenalkan imannya.

Awal Musibah Menuju Kehidupan Baru

Si bungsu dari dua bersaudara ini adalah anak dari Almarhum Hendra Sucipto dan Listiyani. Berlatar keluarga Tionghoa perantauan, yang dibesarkan di dusun: Kotabaru Seberida,  Indragiri Hilir, Riau. Hidup dalam lingkungan melayu sejak di masa anak-anak hingga remaja.

Latar belakang keluarga yang open minded telah membentuknya sejak kecil. Sangat terbuka bergaul dan senang berkomunikasi dengan siapa saja tanpa memandang muka. Sebagaimana dibangun dari keluarga yang selalu membuka pintu rumahnya bagi siapa saja, termaksud para pendatang asing di kampung tempat tinggal orang tuanya di Riau.

Orang tua Hery adalah pedagang yang memiliki toko. Hery terbiasa dengan kehadiran banyak orang yang beraneka saat menghampiri toko orang tuanya. Situasi pasar di rumah papan, jalanan papan, serta banyak penyimpanan plastik-plastik jualan di kolong rumah, menjadikan kampungnya rentan kebakaran.

Peristiwa menyedihkan itu tiba-tiba terjadi, tepatnya di bulan puasa.  Ada kompor yang meledak, Ini mengakibatkan toko orang tua Hery terbakar, juga rumahnya. Mereka kehilangan semua harta yang mereka miliki. Peristiwa ini  terjadi tepatnya saat Hery di bangku SMP kelas 1, semester 1. Inilah menghantar Hery untuk berpindah ke kabupaten Kuala Tungkal,  ibu kota dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi.

Melalui ijin kedua orang tuanya, Hery tinggal dengan kakak dari ibunya. Di kabupaten Kuala Tungkal, melanjutkan pendidikannya hingga selesai SMP.  Hery mendapat Pengalaman pertama masuk gereja di sana, karena di ajak oleh saudara. Belum terasa apa-apa. Semua berjalan biasa saja. Hingga akhirnya Hery mendapatkan kesempatan untuk pindah ke Jambi, mengikuti paman, kakak dari ibunya.

Kepastian Melangkah

Di  hari pertama sekolah, saat itu sudah memasuki SMA kelas 1. Pertemuan awal di kelas memberi kesempatan Hery bertemu dengan kedua teman di samping tempat duduknya, yang sedang menceritakan tentang Sekolah Minggu. Ada dorongan yang besar, Hery memberanikan diri menyodorkan kerinduannya untuk bergabung. Kerinduannya disambut kedua temannya hingga masuk gereja. Inilah kali kedua Hery masuk gereja.

Pulang dari Sekolah Minggu, Firman Tuhan bergejolak dalam diri Hery: “Tuhan akan datang kedua kalinya. Dia akan mengangkat orang yang percaya.” Jika demikian, “Apakah Tuhan datang, Saya telah menjadi percaya?,” tanya Hery penuh gejolak. Sejak saat itulah Hery aktif untuk datang beribadah di gereja dan memutuskan untuk menjadi percaya.

Mulailah hari lepas hari, Hery beribadah di pemuda pemudi, sampai tahun 1984. Mendapat undangan GMI (Gereja Methodist Indonesia) Latumeten Jakarta. Perjalanan 30 jam melalui Jalan darat yang rusak, dengan hanya menggunakan bus. Namun di sinilah benar-benar pertobatan lahir baru dirasakan Hery.

Yang membuat Hery terpanggil maju ke depan sambil menangis. “Tuhan menyentuh dosa saya dengan kenakalan-kenakalan yang saya lakukan. Saya suka melawan orang tua. Saya menangis dan Saya bertobat. Setelah itu pulang ke Jambi itu luar biasa. Masih kelas 2 SMA,” Kisah Hery.

Tuhan mengubahnya, dan mau dibaptis walau tahu tidak mudah dapat dipahami keluarga. Kesempatan menginjili orang tua setelah pertobatan, dan kesaksian perubahan hidup menjadi kekuatan yang bersaksi. Orang tua yang semula menentang akhirnya menerima keputusan Hery sebagai seorang Kristen. “Inilah keajaiban Tuhan. Tuhan mendengar doa saya, dan meneguhkan iman saya,” tandas Hery penuh syukur.

Kesaksian yang Tak Berakhir

Perjalanan panjang hingga akhirnya ke Jakarta. Tak mudah namun penuh anugerah. Hatinya terus dibakar untuk hidup bagi Kristus dan melayani-Nya hingga akhir hidup. Mulai dari masa kuliah hingga bekerja dan memasuki masa pensiun, Hery tak berhenti untuk memberi dirinya dalam setiap pelayanan.

Tuhan menganugerahkan istri yang takut akan Tuhan dan melayani bersama: Juaniva Sidharta. Kedua buah hati yang bertumbuh dengan cerdas. Seorang putra Jorsh Amadeus, dan putri Jorshy Amanda.

Anugerahnya tak berakhir, kini melalui Yayasan MIKA yang fokus untuk pelayanan pendidikan, Hery dipercayakan sebagai Ketua yang memimpin perjalanan yayasan ini. Tuhan memberkati Bapak Hery Sudarno dan setiap pelayanan yang dipercayakan-Nya.

Tak ada yang mustahil jika Tuhan berkenan ingin memakai setiap orang yang dipilih-Nya. Selamat menjadi saksi dan berkat bagi banyak orang, Bapak Hery Sudarno. Tuhan memberkati.

Jakarta, 16 Juni 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *