
Di balik sosoknya yang tenang hari ini, tersimpan sebuah kisah tentang bahu kecil yang harus belajar memikul beban jauh sebelum waktunya. Lahir sebagai anak kelima dari delapan bersaudara, masa kecil Merdiany Chandra bukanlah tentang bermanja-manja di pangkuan orang tua, melainkan tentang bagaimana menjadi dewasa di usia yang masih sangat belia.
Kedewasaan yang Datang Lebih Awal
Jarak usia yang terlampau jauh antara Merdiany dan adik-adik bungsunya terpaut tujuh hingga delapan tahun membuat perhatian orang tua secara otomatis beralih kepada si bungsu. Di titik inilah, alih-alih merasa diabaikan, Mer justru menemukan kemandiriannya.
Di usia 7 tahun, ketika anak-anak seusianya mungkin masih merengek meminta mainan, Perempuan kelahiran Jakarta ini  sudah terbiasa berjalan ke pasar dan memasak untuk adik-adiknya. Kehidupan memaksanya menjadi âkakak sekaligus pelindungâ bagi adik-adiknya. Semuanya ia lakukan secara otomatis, tanpa diajari, dan yang paling luar biasa tanpa sedikit pun keluh kesah.
â Merdiany orangnya memang rajin⊠diproses menjadi mandiri dan dewasa untuk bertanggung jawab menolong orang tua dan memerhatikan adik-adikku.â
Melewati Badai Kehidupan dan Krisis Ekonomi
Kehidupan keluarga kelahiran Jakarta ini ibarat roda yang berputar begitu cepat. Sempat mengecap masa-masa berkecukupan di Petojo, di sebuah rumah besar peninggalan Belanda, keluarga mereka harus pindah karena situasi yang tidak aman di sekitar tangsi tentara. Perpindahan demi perpindahan pun dimulai, dari Petojo, Rawamangun, hingga ke Jatinegara.
Ujian terberat datang ketika krisis ekonomi menghantam. Nilai uang yang tiba-tiba dipotong drastisâdari Rp 1.000 menjadi hanya 1 Rupiah. Membuat harta keluarga yang tadinya bernilai jutaan lenyap seketika, menyisakan hanya beberapa ribu perak. Rumah kebanggaan terpaksa dijual, dan mereka harus menyewa rumah kontrakan.
Di tengah himpitan ekonomi itu, Mer  yang saat itu masih duduk di bangku kelas 5 atau 6 SD, turut membantu keluarga dengan berdagang. Untuk berangkat ke sekolah yang jaraknya sangat jauh, Mer harus rela menahan lelah dengan berjalan kaki atau ngompreng (menumpang) mobil bak terbuka yang lewat, karena uang sakunya hanya cukup untuk bertahan hidup, bukan untuk kemewahan transportasi.
Perjalanan Spiritual dalam Kesunyian
Di tengah keluarga yang berpikiran modern dan membebaskan anak-anaknya memilih jalan hidup, Mer menemukan kedamaian batinnya sendiri. Sejak kelas 4 SD, sebuah panggilan hati yang tak bisa dijelaskan menuntun langkah kecilnya berjalan sendirian menuju gereja setiap hari Minggu.
Tanpa paksaan, tanpa ada yang mengantar, perempuan kelahiran Mei 1953 ini duduk di bangku gereja mencari kekuatannya sendiri. Kesadaran spiritual ini tumbuh murni dari dalam dirinya, menjadi penopang rahasia yang membuatnya tetap kuat menghadapi kerasnya hidup di usia muda.
Hati Baja
Mungkin bagian paling indah dari kisah Merdiany adalah keikhlasan hatinya. Menghabiskan masa kecil dengan bekerja, mengangkut air dari rumah tetangga, hingga mencuci dan memasak, tidak pernah sedikit pun membuat hatinya mengeras.
Masa kecil yang direnggut oleh keadaan tidak pernah melunturkan kasih sayangnya. Justru, masa-masa sulit itulah yang menempanya menjadi sosok wanita yang tidak pernah cengeng, tidak mudah menyerah, dan memiliki cinta yang tak bersyarat untuk keluarganya. Mer tidak hanya bertahan melewati kerasnya hidup, ia tumbuh mekar di dalamnya.
Kisah ini bukan sekadar tentang bertahan hidup, melainkan tentang bagaimana keteguhan iman, dan kejujuran yang dapat mengubah jalan hidup sebuah keluarga. Istri Janto Chandra ini adalah cerminan wanita yang manis dan penurut, namun memiliki fondasi baja di dalam hatinya.
âCinta Tuhan Seperti Orang Gila yang Percayaâ
Merdiany kini memiliki satu prinsip yang terus ia pegang erat sejak masa remajanya. Ia memercayai sebuah pepatah dari mentor spiritualnya: orang yang sungguh mencintai Tuhan harus percaya layaknya orang gila tanpa ragu, mencari Tuhan ke mana pun ia pergi. Hari-harinya diisi dengan rentetan doa, pagi dan sore. Kepercayaan itulah yang menjadi kompas dalam setiap langkah hidupnya.
Tangan yang Pantang Terdiam
Meski sang suami memiliki pekerjaan dengan posisi yang mapan, tapi mereka harus berpindah-pindah kota antara Jakarta dan Surabaya, Merdiany bukanlah tipe wanita yang bisa berpangku tangan. Ia selalu memutar otak untuk menambah pundi-pundi keluarga tanpa ingin mengganggu atau membebani uang suaminya. Berbagai usaha kecil ia rintis dengan tangannya sendiri:
- Membungkus dan menjual kerupuk bal-balan satu per satu, hanya dengan merekatkannya menggunakan api lilin.
- Membawa barang dagangan seperti tas, seprei, dan baju dari Jakarta untuk dijual di Surabaya.
- Membawa kain batik dari Surabaya untuk dijajakan sekembalinya ke Jakarta.
- Menjadi sales pakaian yang rela berkeliling dari Jatinegara, Pasar Jati, hingga Cawang.
- Mengkreditkan berbagai barang, mulai dari pakaian hingga motor Vespa kepada rekan-rekannya di kantor.
Semua itu ia lakukan semata-mata agar keluarganya memiliki arus kas tambahan, tanpa pernah mengeluh. Dan inilah bekal yang mengantarnya kini untuk memiliki restoran dan tokoh kue.
Mukjizat Melalui Sepucuk Surat
Puncak dari segala ketekunan dan doa Merdiany terjadi pada momen yang paling tak terduga. Â Selama bertahun-tahun, suami tak pernah merayakan Natal dan enggan pergi ke gereja. Oleh karena itu, setiap bulan Desember, mami Mer akan membawa anak-anaknya: Ronald, Melka, Rendi, dan Reisha untuk pulang ke Jakarta, sementara sang suami tinggal sendirian di Surabaya.
Suatu hari sempat berdoa dengan sangat khusyuk di sebuah gereja di Surabaya, memohon keajaiban bagi keluarganya. Tuhan seolah mengatur semesta dengan cara-Nya sendiri. Saat Mami sudah berada di Jakarta untuk Natal, sebuah selebaran undangan peresmian gereja baru diantarkan oleh Pak RT (yang bahkan beragama Katolik) ke rumah mereka yang sepi di Surabaya.
Menerima undangan tersebut, hati Papi Janto tergerak. Tanpa kehadiran istri, ia melangkah masuk ke dalam gereja. Tak lama setelah itu, sepucuk surat balasan dari Papi Janto tiba di tangan istrinya, berisi sebuah kalimat singkat namun berdampak luar biasa bagi hidupnya:
âMa, kemarin Natal Papi ke gereja.â
Sebuah akhir yang manis dari penantian yang panjang. Kisah Mami Mer membuktikan bahwa dedikasi, kerja keras tanpa gengsi, dan doa yang tulus selalu menemukan jalannya untuk berbuah manis di waktu yang tepat.
Kini Mami Mer bersama keluarganya bertumbuh menjadi keluarga Tuhan. Tak hanya itu, mereka dikarunia keberhasilan sebagai upah kerja keras dalam dunia usaha, serta hati yang lembut dan penuh kasih kepada semua orang. Ini pun dianugerahi Tuhan bagi mereka.