Bapak Pengasuh,
Saya ingin bertanya dengan melihat kondisi alam dan begitu banyaknya bencana saat ini.
- “Dalam banyak tradisi keagamaan, manusia diberi mandat untuk ‘menguasai’ dan ‘memelihara’ bumi. Bagaimana kita menafsirkan ulang mandat ini di tengah era krisis iklim, di mana tindakan manusia justru sering kali bersifat eksploitatif dan merusak alam alih-alih merawatnya?”
- “Jika alam semesta diciptakan sebagai ‘bait’ atau wujud kehadiran Sang Pencipta, sejauh mana kerusakan lingkungan hari ini dapat dipandang sebagai dosa ekologis atau pelanggaran terhadap relasi kita dengan Sang Pencipta?”
Ignatius, Bandung
Jawaban
Saudara Ignatius yang dikasihi Tuhan, akhir-akhir ini semakin sedikit orang yang peduli dengan kehidupan alam atau lingkungan di mana, di sanalah seluruh kehidupan berlangsung. Maka menjadi penting, untuk kita kembali melihat dengan serius dan sama-sama turut bertanggung jawab di dalamnya.
Alkitab menuliskan: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kejadian 1:1). Dengan jelas kita menemukan, bahwa bumi yang ada, tempat di mana manusia tinggal, bukan terjadi dengan sendirinya, tetapi semua tercipta, dalam rancangan dan ketetapan Allah.
Tuhan menciptakan bumi, dengan tujuan yang mulia, dan betapa bersyukurnya, manusia ada di dalamnya.
Bumi adalah rumah atau tempat tinggal manusia, maka dengan sendirinya, ada tanggung jawab yang besar bagi kita yang ada di dalamnya. “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kejadian 2:15).
Rumah tempat kita tinggal tidak mungkin diabaikan. Kita hidup dan menikmatinya, maka kita harus menjaga dan memeliharanya. Populasi kehidupan bertumbuh dan berkembang di sana, sama-sama saling menguntungkan, itulah hubungan timbal balik yang terjadi.
Lingkungan di mana kita tinggal saat ini, memang sudah mengalami banyak perubahan dalam pengelolaan yang tidak lagi pada tujuannya. Dosa membuat manusia tidak mampu melihat lagi secara utuh, apa yang menjadi tujuan Tuhan. Sehingga yang ada hanyalah keinginan untuk memenuhi kepuasan diri dengan merusak dan mengabaikan lingkungan.
Dalam tradisi keagamaan, ada banyak ciptaan justru menjadi pusat penyembahan manusia, dan tidak lagi melihat Tuhan sebagai pencipta yang seharusnya menjadi pusat penyembahan atau ketaatan manusia.
Bumi yang seharusnya mendapatkan perawatan yang baik, justru kini dirusak oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.
Mandat menjaga dan memelihara diabaikan, yang hadir adalah mandat menguasai dan mengeksploitasinya. Bumi yang harusnya dijaga dengan baik, tapi akhirnya dirusak untuk kepuasan diri.
Hadirnya alam semesta mau membuktikan ada Penguasa yang menciptanya, serta mengatur seluruh kehidupan. Maka, sangat disayangkan melihat keserakahan manusia. Tuhan Sang Pencipta-pun dilawannya, bahkan pemanfaatan sumber daya alam pun menjadi tidak terukur. Semua dieksploitasi secara berlebihan, sehingga ketidakadilan sosial pun semakin nyata.
Dampak kerusakan lingkungan, hutan, seperti banjir, polusi serta krisis iklim semakin tidak tertanggulangi.
Manusia tidak lagi memandang bumi sebagai milik Allah, yang harus dijaga dan dirawat, untuk keberlangsungan kehidupan masa depan. Tetapi bumi menjadi milik pribadi atau sekelompok orang, yang dikuasai untuk memberi kepuasan sesaat. Menyedihkan, tetapi itulah yang terjadi.
Sungguh Ironi, manusia diciptakan untuk mengusahakan dan memelihara lingkungan, tetapi justru menjadi penguasa yang merusak lingkungan.
Maka, hal yang penting untuk dilakukan saat ini adalah:
Pertama, sadarlah bahwa bumi Adalah milik Allah.
Kedua, manusia harus mengusahakan dan memeliharanya.
Ketiga, merusak lingkungan adalah bentuk manusia melawan Penciptanya.
Empat, memperbaiki lingkungan itu penting, tetapi akan menjadi tidak berarti, ketika manusia terus merusak dan mengeksploitasinya.
Tuhan Memberkati!