
Ada satu pertanyaan penting yang perlu kita majukan kepada sekolah hari ini: anak seperti apa yang sebenarnya sedang kita siapkan?
Apakah anak yang mampu menghafal banyak materi? Apakah anak yang memperoleh nilai tinggi dalam ujian? Apakah anak yang menguasai berbagai kompetensi?
Semua itu penting. Tetapi tidak lagi cukup.
Dunia telah berubah. Informasi tersedia hampir tanpa batas. Teknologi berkembang sangat cepat. Kecerdasan buatan mulai mengambil alih berbagai pekerjaan rutin. Persoalan kehidupan semakin kompleks dan tidak selalu dapat diselesaikan dengan pengetahuan dari satu bidang saja.
Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan juga perlu bergerak.
Dulu, orang disebut buta huruf karena tidak dapat membaca dan menulis. Kemudian persoalannya berkembang: seseorang dapat membaca, tetapi belum tentu memahami apa yang dibacanya. Ia dapat memiliki pengetahuan, tetapi belum tentu mampu menggunakannya. Ia bahkan dapat memiliki kompetensi, tetapi belum tentu kapabel menghadapi situasi baru.
Di sinilah pendidikan hari ini menghadapi tantangan yang berbeda. Sekolah tidak cukup menghasilkan anak yang tahu.
Sekolah harus menghasilkan anak yang mampu. Bahkan lebih dari itu: anak yang kapabel. Kapabilitas bukan sekadar kemampuan melakukan sesuatu yang sudah pernah diajarkan. Kapabilitas adalah kemampuan menggunakan pengetahuan, keterampilan, karakter, dan sumber daya yang dimiliki untuk menghadapi situasi yang baru, berubah, dan tidak selalu terduga.
Maka pelajar masa kini membutuhkan kecakapan yang lebih luas: mampu berpikir kritis dan bernalar, kreatif dan inovatif, berkomunikasi secara efektif, berkolaborasi, memiliki literasi digital dan AI, adaptif terhadap perubahan, mampu memecahkan masalah kompleks, memiliki karakter dan integritas, serta mampu belajar sepanjang hayat.
Inilah yang kita sebut sebagai kapabilitas global.
Namun ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan.
Menjadi global tidak berarti kehilangan akar.
Anak Indonesia tidak perlu dicabut dari budaya, bahasa, nilai, sejarah, lingkungan, dan masyarakatnya agar mampu bersaing di dunia. Justru sebaliknya. Anak membutuhkan akar yang kuat agar mampu berdiri tegak ketika berhadapan dengan dunia yang semakin terbuka.
Karena itu, pendidikan Indonesia membutuhkan dua dimensi sekaligus: kecakapan lokal dan kecakapan global.
Kecakapan lokal membuat anak mengenal siapa dirinya, dari mana ia berasal, nilai apa yang diyakininya, bagaimana masyarakatnya hidup, persoalan apa yang dihadapi lingkungannya, dan kontribusi apa yang dapat ia berikan.
Kecakapan global membuat anak mampu melihat dunia yang lebih luas, memahami perbedaan, berkomunikasi lintas budaya, bekerja bersama orang yang berbeda, menggunakan teknologi, berpikir kritis, dan menghadapi persoalan yang melampaui batas geografis.
Keduanya tidak boleh dipertentangkan.
Sebab anak yang hanya memiliki kecakapan lokal berisiko gagap menghadapi dunia yang berubah. Sebaliknya, anak yang hanya dibekali kecakapan global tetapi kehilangan akar dapat tumbuh menjadi manusia yang mampu berkompetisi, tetapi tidak tahu untuk apa kompetensinya digunakan.
Maka rumusan sederhananya adalah:
Berakar lokal.
Berkapabilitas global.
Kalimat ini sebenarnya mengandung filosofi pendidikan yang sangat dalam.
Akar memberi identitas. Kapabilitas memberi daya jelajah.
Pohon yang besar bukan pohon yang akarnya tidak ada karena seluruh energinya diarahkan untuk tumbuh ke atas. Justru semakin tinggi pohon bertumbuh, semakin penting akarnya kuat.
Demikian pula manusia.
Semakin luas dunia yang dimasukinya, semakin penting ia memahami siapa dirinya.
Karena itu, tugas sekolah bukan sekadar membuat anak mampu menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Sekolah harus mempersiapkan anak menghadapi pertanyaan yang belum pernah diberikan.
Bukan hanya, “Apa yang kamu ketahui?”
Bukan hanya, “Apa yang dapat kamu lakukan?”
Tetapi juga: “Apa yang akan kamu lakukan ketika menghadapi sesuatu yang belum pernah kamu pelajari?” Di situlah kapabilitas diuji.
Dan di situlah peran guru mengalami perubahan besar.
Guru tidak lagi cukup menjadi sumber pengetahuan. Pengetahuan sudah berada di mana-mana. Guru perlu menjadi pembangun kapabilitas: menciptakan pengalaman belajar yang membuat anak berpikir, bertanya, mencoba, gagal, memperbaiki, bekerja sama, mengambil keputusan, dan menemukan solusi.
Dengan demikian, sekolah bukan tempat untuk mempersiapkan anak menghadapi ujian masa lalu, melainkan tempat untuk mempersiapkan mereka menghadapi dunia masa depan.
Tentu, kita tidak boleh mengabaikan pengetahuan. Kapabilitas tanpa pengetahuan adalah kosong. Kecakapan global tanpa karakter juga berbahaya. Teknologi tanpa kebijaksanaan dapat menjadi alat yang merusak.
Karena itu, pendidikan yang kita perlukan bukan pendidikan yang memilih antara pengetahuan atau kecakapan, antara lokal atau global, antara karakter atau kompetensi.
Kita membutuhkan semuanya dalam sebuah kesatuan.
Anak perlu tahu.
Anak perlu mampu.
Anak perlu kapabel.
Dan yang paling penting, anak perlu tahu untuk apa kemampuan itu digunakan.
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita masukkan ke dalam kepala anak.
Pendidikan adalah tentang manusia seperti apa yang keluar dari sekolah dan kemudian hadir di tengah dunia.
Kita ingin mereka mampu hidup di tengah perubahan tanpa kehilangan arah. Mampu memasuki dunia global tanpa kehilangan identitas. Mampu menggunakan teknologi tanpa diperbudak teknologi. Mampu berkompetisi tanpa kehilangan integritas. Mampu mencapai keberhasilan tanpa kehilangan kepedulian.
Karena itu, barangkali inilah arah pendidikan yang perlu kita perjuangkan bersama:
Anak-anak Indonesia yang berakar kuat pada lokalitasnya, tetapi memiliki kapabilitas untuk hidup, berkarya, dan memberi dampak di dunia global.
Berakar lokal.
Berkapabilitas global.
Itulah anak Indonesia yang kita butuhkan hari ini.
YMP Malang, 14 September 2025
Daftar Rujukan
OECD. (2019). OECD Learning Compass 2030: A series of concept notes. OECD.
OECD. (2020). What students learn matters: Towards a 21st century curriculum. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/d86d4d9a-en
OECD. (2024). PISA 2022 assessment and analytical framework: Creative thinking. OECD Publishing.
OECD. (2025). OECD Teaching Compass: Reimagining teachers as agents of curriculum change. OECD Publishing.
World Economic Forum. (2025). The future of jobs report 2025. World Economic Forum.
Tulisan yang sangat relevan dengan kondisi pendidikan sekarang. Saya setuju bahwa anak tidak cukup hanya dibekali pengetahuan, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk menghadapi perubahan dan persoalan yang belum pernah mereka temui. Gagasan “berakar lokal, berkapabilitas global” menurut saya sangat kuat. Mungkin akan lebih menarik jika disertai contoh penerapannya secara nyata di sekolah.
Sangat menarik. Pendidikan memang jangan hanya mengejar nilai dan prestasi akademik. Anak juga perlu dibentuk menjadi pribadi yang punya karakter, mampu beradaptasi, berpikir kritis, dan tetap mengenal identitasnya. Bagian tentang tetap memiliki akar lokal di tengah tuntutan global menurut saya sangat penting.
Saya suka dengan sudut pandang tulisan ini. Dunia berubah begitu cepat, sehingga sekolah juga harus berubah. Anak bukan hanya perlu diajarkan jawaban, tetapi juga dilatih menghadapi pertanyaan yang belum pernah mereka temui. Ini tantangan besar bagi guru dan sekolah saat ini.
A timely and thought-provoking article. I especially like the distinction between knowing something, being able to do something, and being truly capable of facing new situations. That is an important challenge for education today.