Home > Pendidikan

Kepala Sekolah Bukan Manajer

Kita jarang menyebutnya secara jujur. Kita lebih suka mengatakan bahwa sekolah kita “berjalan baik”. Administrasi rapi. Laporan selesai. Sistem tertata. Semua tampak aman.

Namun ada satu pertanyaan yang sering kita hindari: apa yang sebenarnya terjadi di dalam kelas? Sebab di sanalah sekolah seharusnya hidup. Dan justru di sanalah, sering kali, ia perlahan kosong.

Pembelajaran tidak selalu gagal dengan cara yang mencolok. Ia tidak runtuh. Ia tidak gaduh. Ia berjalan. Guru mengajar. Siswa mendengarkan. Kelas selesai. Secara formal, tidak ada masalah.

Namun sesuatu yang lebih penting tidak terjadi. Siswa tidak benar-benar berpikir. Rasa ingin tahu tidak tumbuh. Pertanyaan tidak hidup. Di situlah masalahnya. Diam-diam. Rutin. Dan konsisten.

Banyak kepala sekolah tidak melihat ini. Bukan karena mereka tidak bekerja keras. Justru karena mereka terlalu sibuk. Mengelola. Mengatur. Memastikan semuanya berjalan. Rapat demi rapat. Laporan demi laporan. Semua terasa tuntas.

Tetapi perlahan, fokus bergeser. Yang dijaga adalah keterlaksanaan. Yang hilang adalah kebermaknaan. Kita tidak gagal karena tidak bekerja. Kita gagal karena bekerja pada hal yang salah. Sekolah pun berubah. Bukan lagi ruang belajar. Melainkan kantor yang tertib.

Padahal persoalannya sederhana. Perubahan dalam pendidikan hanya terjadi di satu tempat: di dalam kelas. Seperti yang diingatkan oleh Richard Elmore, kualitas belajar tidak akan berubah jika kita tidak menyentuh inti pembelajaran—hubungan antara guru, siswa, dan apa yang mereka pelajari bersama.

Jika tiga hal ini tidak berubah, maka apa pun yang kita kerjakan di luar kelas, tidak akan banyak berarti. Namun justru di situlah perhatian kita paling sedikit.

Data hanya memperjelas kenyataan itu. Selama bertahun-tahun, hasil PISA menunjukkan pola yang sama. Banyak siswa mampu menjawab soal rutin, tetapi kesulitan ketika diminta berpikir. Menganalisis. Menilai. Memecahkan masalah.

Seperti yang sering diingatkan oleh Andreas Schleicher, dunia hari ini tidak lagi menghargai sekadar apa yang kita tahu, tetapi apa yang bisa kita lakukan dengan apa yang kita tahu.

Namun anehnya, ini tidak mengusik. Sekolah tidak gelisah. Tetap berjalan sama seperti hari-hari kemarin. Guru tetap mengajar seperti sebelumnya. Sistem tetap dianggap berhasil. Di sinilah paradoks itu. Hasil belajar rendah. Tetapi rasa ‘baik-baik saja’ tetap tinggi.

Padahal riset sudah lama berbicara. John Hattie menunjukkan bahwa dampak terbesar dalam pembelajaran bukan datang dari fasilitas atau sistem, tetapi dari hal-hal kecil di kelas. Dari umpan balik. Dari interaksi. Dari cara guru melihat muridnya. Hal-hal yang sederhana. Tetapi menentukan. Namun bagian ini sering tidak menjadi pusat perhatian.

Di titik ini, persoalannya menjadi lebih dalam. Mengajar bukan sekadar soal metode. Ia soal siapa kita sebagai manusia.

Parker J. Palmer pernah mengingatkan: pengajaran yang baik tidak lahir dari teknik, tetapi dari integritas. Dari keutuhan diri seorang guru.

Jika guru hadir tanpa makna, maka pembelajaran pun kehilangan makna. Dan jika kepemimpinan hanya mengatur sistem, maka tidak ada yang benar-benar berubah.

Di sinilah letak kekeliruannya. Kepala sekolah sibuk menjaga keteraturan. Padahal sekolah tidak dibangun untuk sekadar berjalan. Ia dibangun untuk membentuk.

Dalam terang iman, pendidikan tidak pernah netral. Ia adalah proses memanusiakan manusia. Pengetahuan bukan sekadar dipindahkan. Tetapi dihidupi. Relasi bukan sekadar formalitas. Tetapi perjumpaan.

Yesus tidak mengajar dengan sistem yang rumit. Ia hadir. Ia bertanya. Ia mengubah cara orang melihat dunia. Pembelajaran terjadi dalam relasi. Bukankah itu yang seharusnya terjadi di sekolah?

Karena itu, persoalannya bukan pada kurangnya manajemen. Tetapi pada arah. Ketika manajemen menjadi pusat, pembelajaran akan tersisih.

Ketika laporan lebih penting daripada proses belajar, yang hilang bukan hanya kualitas akademik tetapi makna pendidikan itu sendiri. Dan ketika makna hilang, yang tersisa hanyalah rutinitas.

Perubahan yang dibutuhkan sebenarnya sederhana. Bukan menambah program. Bukan menambah beban. Melainkan kembali. Kembali ke kelas. Melihat. Mendengar. Bertanya. Apakah siswa benar-benar belajar? Apakah mereka berpikir? Apakah pembelajaran sudah mengubah sesuatu di dalam diri mereka?

Di situlah kepemimpinan dimulai. Bukan di ruang rapat. Tetapi di ruang kelas.

Pada akhirnya, kita kembali pada pertanyaan yang tidak bisa dihindari: apa tujuan sekolah? Jika hanya untuk memastikan sistem berjalan, maka kita sudah berhasil. Tetapi jika untuk membentuk manusia, maka kita belum selesai.

Sebab sekolah bukan kantor. Dan kepala sekolah bukan manajer. Ia adalah penjaga arah. Dan arah itu tidak pernah berubah: membawa setiap anak belajar berpikir, bertumbuh, dan menjadi manusia seutuhnya.

YMP
Malang, 280426

Rujukan
Elmore, R. F. (2008). Improving the instructional core. Harvard Graduate School of Education.
Hattie, J. (2009). Visible learning: A synthesis of over 800 meta-analyses relating to achievement. Routledge.
OECD. (2019). PISA 2018 results (Volume I): What students know and can do. OECD Publishing.
Palmer, P. J. (1998). The courage to teach: Exploring the inner landscape of a teacher’s life. Jossey-Bass.
Schleicher, A. (2018). World class: How to build a 21st-century school system. OECD Publishing.

2 Comments

  1. Sangat setuju.
    Kepala sekolah harusnya fokus kepada KBM yang berkualitas dan bagaimana guru mempersiapkan mengajar dengan penuh kebermaknaan.

    Jangan jadikan kesibukan lainnya mengalihkan fokus utama KS.

  2. Menurut saya, tulisan ini pengungkapan realitas dengan jujur dan berani yang reflektif. Menyentuh kesadaran guru, kepala sekolah dan keberadaan pendidikan kita di Indonesia. Tidak banyak guru yang menyadari kondisi ini, atau mungkin banyak guru/kepsek dan insan pendidikan tahu hal ini tetapi “pura-pura” tidak tahu atau bahkan ada “pembiaran”. Yang penting bekerja, semua tampak baik-baik saja, sekolah dan pembelajaran berjalan sesuai aturan. Tulisan ini menjadi tamparan dan penyadaran yang keras bagi guru/kepsek dan seluruh insan pendidikan untuk sadar, bergerak bersama dalam menumbuhkan pendidikan yang bermakna untuk membentuk murid sebagai i nsan yang utuh dan berintegritas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *