Nuki: Pejuang Kanker yang Tetap Membawa Tawa dan Sukacita di Tengah Rasa Sakit

Nuki adalah sosok perempuan asal Nias yang memancarkan keceriaan dan sukacita ke mana pun ia melangkah. Aktif melayani di gereja maupun di komunitas kaum ibu, pemilik suara merdu dan tinggi ini dikenal sangat ramah, hangat, dan selalu mencairkan suasana.

Melihat senyumnya yang tulus, pasti tak seorang pun menyangka bahwa ia adalah seorang pejuang kanker. Perempuan tangguh yang justru memilih untuk terus menghadirkan tawa di tengah badai terberat dalam hidupnya.

Jejak Ketegaran dan Perjalanan Medis

Perjalanan medis Nuki terbilang sangat panjang dan penuh liku. Saat ini, ia tengah menjalani sesi kemoterapi kelima, melengkapi rentetan perjuangan berat yang telah ia lewati selama bertahun-tahun:

  1. Tahun 2017: Operasi tumor payudara sebelah kanan (setelah pertama kali terdiagnosa pada 2015).
  2. Tahun 2020: Operasi pengangkatan rahim akibat miom dan kista.
  3. Tahun 2023: Operasi kanker ganas di payudara sebelah kiri.
  4. Fase Lanjutan: Operasi akibat penyebaran sel kanker ke kelenjar getah bening, yang disusul dengan tindakan radiasi sebanyak lima kali.

Sebelum menjalani operasi kanker ganas pada 11 Oktober 2023, Nuki sempat menghadapi ujian psikologis yang sangat berat. Di diagnosa dengan sel kanker yang sangat progresif dan agresif, dokter memberikannya waktu singkat – hanya tiga hari – untuk bersiap sebelum ke meja operasi. Di balik ketegarannya, di bawah sadarnya sempat merespons lewat syok psikologis: dua hari berturut-turut ia selalu merasa lemas, mual, dan nyaris limbung setiap kali bangun tidur. Badai kecemasan itu baru mereda ketika seorang sahabat datang memeluknya erat dan menenangkannya dengan penuh kasih.

Ujian fisiknya pun tak kalah menguji iman. Kadar leukositnya sempat anjlok drastis hingga menyentuh angka 1 (jauh di bawah batas normal 4–5), mengharuskannya menerima suntikan leukogen. Dengan daya tahan tubuh yang sangat rendah, ia harus mematuhi protokol kesehatan yang ketat, mengenakan masker, dan menghindari area tertutup di rumah sakit demi mencegah risiko infeksi. Menariknya, di tengah pergumulan tersebut, berat badannya justru sempat meningkat sebelum operasi dan baru turun setelah seluruh tindakan medis selesai.

Sumber Kekuatan: Iman, Komitmen, dan Pelayanan

Di tengah kenyataan pahit ketika penyakitnya terus berulang, Nuki sempat bertanya-tanya mengenai makna di balik semua penderitaan ini. Namun, ia berhasil menemukan kedamaian batin dengan memandangnya sebagai sebuah proses pemurnian. Sejak lulus sekolah, ia telah mengambil komitmen personal untuk tidak menikah agar dapat mendedikasikan seluruh hidupnya sepenuhnya bagi pelayanan Tuhan. Baginya, penderitaan fisik ini adalah sebuah kehormatan karena dapat dipikul bersama Kristus.

Keteguhan hatinya semakin dikokohkan oleh pesan rohani dari sang pendeta, Pdt. Erastus Sabdono, sesaat sebelum operasinya pada tahun 2023. Doa singkat yang penuh kuasa: “Bapa, aku serahkan kekasih-Mu ini ke dalam tangan pengasihan-Mu. Amin. Sudah tenang, saya tidak mencium bau kematian” dorongan ini menjadi jangkar kedamaian yang mengusir ketakutan terbesar Nuki akan risiko kekambuhan (relapse).

Disiplin Hidup dan Seni Menjaga Semangat

Untuk menopang pemulihannya, Nuki menjalani gaya hidup dan pola makan yang sangat disiplin. Ia menerapkan puasa intermiten (intermittent fasting) setiap hari, serta menghindari gula dan segala jenis daging, termasuk ayam broiler. Sebagai gantinya, nutrisinya dipasok dari ubi, pisang, ikan, alpukat sebagai sumber lemak baik, serta 4 hingga 6 butir telur setiap hari. Ia juga rutin mengonsumsi obat kemo tablet khusus yang harus dijaga ketat di dalam lemari es dengan suhu minimal 2 derajat Celcius.

Untuk meredakan stres akibat pantangan makanan yang ketat, Nuki memiliki cara unik yang ia sebut sebagai “trik mengunyah tanpa menelan.” Jika ia sangat merindukan makanan tertentu seperti martabak, ia akan membelinya, mengunyahnya secukupnya agar indra perasanya mengecap kelezatan, lalu mengeluarkannya kembali. Cara sederhana ini ampuh mengirimkan sinyal kepuasan ke otak tanpa merusak diet ketatnya.

Menjadi Berkat di Tengah Keterbatasan

Meskipun efek samping kemoterapi kerap menyiksanya, mulai dari kulit kaki dan jari yang pecah-pecah hingga menghitam, sampai sariawan hebat yang membuatnya kesulitan berjalan dan memakai sepatu. Nuki menolak untuk mengasihani diri sendiri.

Di ruang-ruang rumah sakit, ia justru kerap menghampiri pasien lain, membagikan semangat, bercanda, dan mendengarkan keluh kesah mereka. Bagi Nuki, membawa tawa di tengah rasa sakit adalah sebuah kemewahan batin yang tak ternilai.

Perjuangan medis ini telah menelan biaya sekitar Rp900 juta dalam tiga tahun terakhir. Sebagai anak ke-10 dari 11 bersaudara asal Nias yang merantau jauh dari keluarga besar, Nuki sangat bersyukur. Tuhan selalu menggerakkan hati para sahabat di komunitas pelayanannya untuk mengulurkan tangan, menjadi keluarga sejati yang menopang langkahnya.

Pesan bagi Sesama Pejuang

Kepada siapa pun yang sedang berada di titik terendah, Nuki menitipkan pesan dari lubuk hatinya yang paling dalam:

“Mari kita lewati perjuangan ini bersama-sama, karena kita tidak pernah sendiri. Kita memiliki Tuhan dan digerakkan oleh-Nya. Di dalam kelemahan kita, di situlah kuasa Tuhan nyata dan melimpah.”

Dengan penyerahan total kepada Sang Pemilik hidup, Nuki terus memegang erat sebuah moto hidup yang menjadi napas perjuangannya:

“Selama masih diberi kesempatan oleh Tuhan, lakukanlah yang terbaik, baik dalam kondisi lemah maupun kuat. Karena jika saya sembuh, saya adalah milik Tuhan; dan jika tidak pun, saya tetap milik Tuhan.”

About the Author: Lidya Wattimena

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *