Huldrych Zwingli, Reformator Swiss yang Mengguncang Sejarah & Mengubah Gereja

Di balik megahnya Pegunungan Alpen yang membentang di Swiss, terukir kisah hidup seorang manusia fana yang rapuh, namun dibakar oleh api kebenaran yang tak terpadamkan. Namanya Huldrych Zwingli. Sering kali namanya berada di bawah bayang-bayang Martin Luther atau Johanes Calvin, namun siapa pun yang meneliti jejak langkahnya akan menemukan sebuah kisah pergumulan batin yang sangat membumi. Sebuah kisah reformator di Swiss, tentang bagaimana Allah memakai seorang manusia biasa untuk mengguncang sejarah dan mengubah wajah gereja selamanya.

Benih Pemikiran di Kaki Gunung Alpen (1484–1506)

Lahir pada hari pertama tahun 1484 di desa agraris Wildhaus, Zwingli bukanlah seorang pangeran dari istana, melainkan anak dari seorang kepala desa terhormat. Dididik dalam lingkungan yang menghargai keteraturan dan didukung oleh jaringan keluarga gerejawi, Zwingli muda mendapatkan hak istimewa menimba ilmu humanisme di universitas-universitas terbaik seperti Basel dan Wina.

Namun, bukan sekadar gelar Magister Artium yang membentuknya. Di bawah bimbingan pemikiran reformis Kristen seperti Erasmus, Zwingli mulai belajar melihat melampaui tradisi abad pertengahan yang kaku. Ia mulai memegang naskah asli Perjanjian Baru berbahasa Yunani. Ia menyalinnya dengan tangannya sendiri, meresapinya, hingga ayat-ayat suci itu bukan lagi sekadar teks mati, melainkan napas hidup yang menelanjangi kepalsuan zaman itu.

Luka Moral dan Titik Balik di Ambang Maut (1515–1519)

Sebelum ia menjadi seorang reformator yang radikal, Zwingli adalah seorang pendeta lapangan (kapelan) bagi para pemuda Swiss yang disewa sebagai tentara bayaran demi uang dan kepentingan politik Paus di Italia. Di medan pertempuran Marignano (1515), matanya terbuka menyaksikan kengerian yang meremukkan hatinya: ribuan anak muda sebangsa mati sia-sia demi ambisi duniawi para penguasa. Dari sinilah kebencian mendalamnya terhadap korupsi kekuasaan rohani yang bercampur aduk dengan politik duniawi berakar.

Namun, titik balik paling dramatis dalam hidup Zwingli terjadi pada musim panas tahun 1519, tak lama setelah ia menginjakkan kaki sebagai imam kepala di Katedral Grossmünster, Zürich. Wabah mematikan Black Death melanda kota itu, merenggut nyawa sepertiga warganya. Zwingli tidak melarikan diri. Ia tetap tinggal, merawat orang sakit, hingga akhirnya ia sendiri terjangkit dan berada di ambang gerbang kematian.

Di atas ranjang penderitaan itu, di hadapan keheningan maut, seluruh atribut kehebatannya sebagai seorang sarjana runtuh. Zwingli menanggalkan segala sandaran pada ritual manusia dan perantaraan orang-orang kudus. Ia berserah bulat kepada Allah. Dari pergumulan maut inilah ia menuliskan kidung penyerahan diri yang abadi, Pestlied:

“Lakukanlah kehendak-Mu atas diriku; sebab aku tidak kekurangan sesuatu pun. Akulah bejana-Mu, untuk Engkau pecahkan atau Engkau utuhkan…”

Ketika ia bangkit dari maut, Zwingli bukan lagi sekadar imam yang pandai berteologi; ia adalah seorang hamba yang terbakar oleh keberanian ilahi.

Nyala Api Reformasi di Zürich (1519–1531)

Sekeluar dari krisis itu, Zwingli memulai gebrakan yang mengubah sejarah. Pada 1 Januari 1519, ia memutus tradisi leksionaris gereja yang membosankan. Ia berdiri di mimbar Grossmünster dan mulai berkhotbah ayat demi ayat langsung dari Injil Matius dalam bahasa aslinya. Ia meneriakkan satu prinsip yang mengguncang: Sola Scriptura. Alkitab adalah satu-satunya otoritas tertinggi, melampaui titah Paus maupun tradisi manusia.

Reformasinya tidak berhenti di atas kertas. Ketika warga Zürich melanggar aturan puasa Katolik dengan memakan sosis pada masa Prapaskah (Affair of the Sausages, 1522), Zwingli berdiri membela mereka, menegaskan bahwa aturan buatan manusia tidak boleh memperbudak hati nurani umat tebusan. Ia membersihkan gereja-gereja dari patung berhala, mengubah Perjamuan Kudus dari ritual Misa yang kaku menjadi peringatan penuh syukur atas kasih Kristus, serta bersama rekannya Leo Jud menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa rakyat (Zürcher Bibel) bahkan sebelum Luther menyelesaikan terjemahannya.

Bayangan Gelap dan Pelajaran Berharga dari Sebuah Perjuangan

Kisah Zwingli bukanlah kisah kepahlawanan yang steril dari noda. Sebagai manusia, ia bergulat dengan kerapuhannya sendiri. Ia gagal sepenuhnya memisahkan iman dari kekuasaan politik duniawi. Dalam ambisinya mempertahankan ketertiban tatanan masyarakat Kristen di Zürich, ia tergelincir dalam sikap intoleran yang tragis terhadap kelompok Reformasi radikal, Kaum Anabaptis. Aliansi politik-militer yang ia bangun demi membela gerejanya pun berujung pada pertumpahan darah.

Pada 11 Oktober 1531, dalam Perang Kappel II, Zwingli maju ke medan pertempuran mengenakan baju zirah mendampingi pasukan Zürich. Di sanalah ia gugur di usia 47 tahun. Tubuhnya direnggut oleh musuh, diadili secara anumerta, dan dibakar.

Warisan yang Mengubah Kita Hari Ini

Mengapa kisah Zwingli tetap relevan dan menggetarkan hati kita hingga hari ini?

  1. Keberanian Berakar pada Firman: Dari Zwingli, kita belajar bahwa reformasi sejati selalu dimulai ketika seseorang kembali membuka Kitab Suci dengan jujur, membiarkan Firman itu mengoreksi hidupnya sebelum mengoreksi dunia.
  2. Ketaatan Tanpa Kompromi: Pengalaman di ambang kematian mengajarkan kita untuk menyerahkan diri sepenuhnya sebagai bejana di tangan Sang Pencipta. Siap dibentuk, dipecahkan, atau di utuhkan demi kemuliaan-Nya.
  3. Ketulusan di Tengah Keterbatasan: Kisah hidupnya mengingatkan kita bahwa Tuhan sanggup memakai orang-orang biasa yang penuh dengan kelemahan dan pergumulan, untuk menorehkan jejak keabadian bagi generasinya.

Zwingli telah tiada di medan juang berabad-abad silam, tetapi gema suaranya dari mimbar Grossmünster bahwa kebenaran Allah memerdekakan akal budi dan hati nurani, terus hidup di dalam denyut nadi Gereja masa kini.

About the Author: Lidya Wattimena

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *