Dok,
Belakangan ini dengan menyemaraknya cuaca panas dan banyaknya bencana, ditemukan banyak yang mengalami batuk, pilek, dan demam. Saya ingin bertanya.
1. Anak usia balita: 5 tahun, mengalami demam 100 hari. Menurut dok, apa penyebabnya dan apakah ini menjadi alarm pada penyakit lanjutan?
2. Anak usia SD, mengalami demam dan menggigil tidak berakhir selama 3 minggu, setelah dicek ternyata mengalami infeksi paru. Pertanyaannya apakah situasi cuaca dan bencana ini memberi kontribusi persoalan paru pada seorang anak?
3. Menurut dok, apa kaitannya infeksi paru dengan TBC? Apakah bisa memberi gejala lanjutan seperti LUPUS?
Saya sangat menantikan jawaban dokter, yang bisa menolong kami yang awam dan mengantisipasinya sejak dini.
Fransiska, Tangerang
Jawaban:
Terima kasih, Bu Fransiska, atas pertanyaannya.
Batuk, pilek, dan demam memang cukup sering meningkat ketika terjadi perubahan cuaca, polusi udara, asap, maupun kondisi setelah bencana. Tetapi, demam yang berlangsung cukup lama pada anak tidak boleh langsung dianggap hanya sebagai akibat cuaca, sebaiknya tetap dicari penyebabnya.
1. Balita 5 tahun mengalami demam sampai 100 hari
Demam selama berhari-hari, apalagi sampai berbulan-bulan, merupakan alarm medis yang harus dievaluasi secara menyeluruh. Penyebabnya bisa sangat beragam, misalnya infeksi yang menetap atau berulang, termasuk infeksi bakteri, virus tertentu, TBC, infeksi saluran kemih, maupun penyebab lain yang lebih jarang.
Pada anak dengan demam berkepanjangan, dokter biasanya akan melihat pola demam dan gejala penyerta, kemudian menentukan pemeriksaan yang diperlukan. Misalnya pemeriksaan darah, urine, pemeriksaan paru atau pemeriksaan lain sesuai temuan klinis.
Jadi, demam 100 hari bukan selalu berarti pasti TBC atau penyakit berat tertentu, tetapi jelas merupakan kondisi yang tidak sebaiknya ditunggu tanpa evaluasi dokter anak sehingga bisa ditemukan penyebabnya.
2. Anak usia SD demam dan menggigil selama 3 minggu dan ternyata mengalami infeksi paru
Ya, kondisi lingkungan dapat berkontribusi terhadap meningkatnya risiko gangguan pernapasan, tetapi biasanya bukan sebagai satu-satunya penyebab.
Cuaca panas, perubahan kelembapan, polusi udara, asap kebakaran, debu, dan asap kendaraan dapat mengiritasi saluran pernapasan. Pada situasi bencana, persoalan dapat bertambah karena anak mungkin terpapar debu/asap, tinggal di tempat yang padat, ventilasi kurang baik, kebersihan air dan lingkungan terganggu, serta kontak dengan orang yang sedang mengalami infeksi menjadi lebih sering.
Semua keadaan tersebut dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran pernapasan. Namun infeksi paru tetap perlu dicari penyebab spesifiknya, apakah virus, bakteri, TBC, atau penyebab lainnya.
3. Apakah infeksi paru berkaitan dengan TBC?
TBC adalah salah satu penyakit infeksi yang terutama menyerang paru, disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Jadi, TBC memang termasuk salah satu kemungkinan penyebab penyakit paru yang berlangsung lama, tetapi tidak semua infeksi paru adalah TBC.
Pada anak, TBC dapat memberikan gejala seperti:
- demam berkepanjangan atau berulang,
- batuk yang menetap,
- berat badan atau pertumbuhan yang tidak sesuai,
- berkeringat pada malam hari,
- mudah lelah,
- nafsu makan menurun,
- atau pembengkakan kelenjar tertentu.
Tetapi gejala-gejala tersebut tidak spesifik untuk TBC. Karena itu, diagnosis TBC tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan lamanya demam atau batuk.
Lalu apakah TBC atau infeksi paru dapat menyebabkan LUPUS?
Ini perlu diluruskan. TBC tidak secara langsung berubah menjadi lupus.
Lupus adalah penyakit autoimun, yaitu keadaan ketika sistem kekebalan tubuh mengalami gangguan sehingga menyerang jaringan tubuh sendiri. Lupus dan TBC merupakan dua penyakit yang berbeda.
Namun, pada seseorang yang mempunyai gangguan sistem imun, infeksi dan penyakit autoimun dapat mempunyai gejala yang saling menyerupai, misalnya:
- demam berkepanjangan,
- lemah,
- penurunan berat badan, atau
- kelainan pada paru.
Bahkan obat-obatan penekan sistem imun yang digunakan pada lupus dapat meningkatkan risiko infeksi tertentu, termasuk TBC.
Karena itu, bila seorang anak mengalami demam yang tidak kunjung jelas penyebabnya, batuk lama, sesak, menggigil berulang, berat badan turun, atau kondisi umum semakin menurun, sebaiknya jangan langsung menyimpulkan “TBC” ataupun “lupus”. Anak perlu diperiksa oleh dokter anak dan, bila diperlukan, dirujuk ke dokter spesialis terkait.
Pesan penting untuk orang tua
Cuaca dan bencana memang dapat menciptakan lingkungan yang lebih memungkinkan terjadinya gangguan pernapasan, tetapi demam berkepanjangan adalah tanda yang perlu dicari penyebabnya, bukan sekadar dianggap “masuk angin”, “panas dalam”, atau akibat perubahan cuaca.
Semakin dini penyebab ditemukan, semakin besar kesempatan anak mendapatkan penanganan yang tepat.
Dan satu hal yang sangat penting yang perlu diketahui: bila anak mengalami sesak atau napas cepat atau berat, sulit minum, sangat lemas atau sulit dibangunkan, kejang, kebiruan, dehidrasi, atau demam dengan kondisi yang memburuk, jangan menunggu tapi harus segera di bawa ke fasilitas kesehatan.