Pergeseran Otoritas: Dari “Guru Suci” ke “Layar Digital”

Syalom Pak Pendeta,

Perkembangan AI yang semakin menolong manusia. Saya menjadi takut jangan-jangan manusia lebih bergantung pada mesin daripada dengan sesama apalagi dengan Tuhan. Pertanyaan saya:

  • Ketika seseorang lebih memilih bertanya pada chatbot karena merasa “tidak dihakimi” dibandingkan berkonsultasi dengan pemuka agama, apa implikasinya terhadap esensi komunitas beragama yang sejatinya menuntut keterbukaan sosial dan pertanggungjawaban moral?
  • Kitab suci lahir dari pengalaman historis, pergumulan umat, dan penafsiran berlapis yang hidup. Ketika AI mereduksi ayat-ayat suci menjadi teks statistik instan, apakah kita sedang kehilangan “roh” dan konteks mendalam dari firman itu sendiri?
  • Ketika algoritma digital dan chatbot mulai banyak dirujuk orang untuk mencari jawaban-jawaban spiritual, bagaimana otoritas kitab suci dan para pemuka agama beradaptasi dalam memelihara kebenaran iman?

Salam

Kristian, Jabar

Jawaban

Saudara Kristian yang dikasihi Tuhan, zaman memang terus berubah, perkembangan teknologi pun tidak dapat dibendung, ini menjadi pertanda, bahwa manusia tumbuh semakin cerdas dalam menciptakan banyak hal di zaman modern ini. Salah satunya, perkembangan AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan, yang dikenal  sebagai cabang ilmu komputer yang merancang sistem atau mesin untuk meniru kemampuan intelektual manusia, seperti belajar, bernalar, mengenali pola, memecahkan masalah, dan menarik perhatian pengguna dengan begitu luar biasa.

Hadirnya teknologi baru AI, bukanlah musuh yang harus ditakuti, tetapi sebenarnya justru akan menjadi “teman penolong” keseharian banyak orang di kehidupan. Yang terpenting dan  harus diingat bahwa AI bukan segalanya, karena hanya ciptaan manusia yang pasti akan berakhir. Sedangkan Tuhan pencipta segalanya, Dialah alfa dan omega.

  1. Ketika seseorang lebih memilih bertanya pada chatbot karena merasa “tidak dihakimi” dibandingkan berkonsultasi dengan pemuka agama, apa implikasinya terhadap esensi komunitas beragama yang sejatinya menuntut keterbukaan sosial dan pertanggungjawaban moral?

Secara umum manusia menghendaki kenyamanan dalam diri, termasuk ketika dia sedang bermasalah. Persoalannya adalah, ketika seseorang memiliki paradigma seperti ini, cenderung menyembunyikan dirinya dengan mencari kenyamanan, tanpa harus diketahui apalagi dihakimi oleh orang lain. Maka pasti, “chatbot” menjadi pilihannya.

Pilihan untuk berkonsultasi dengan chatbot dibandingkan pemuka agama demi menghindari penghakiman bukan lagi hal yang baru. Sejatinya komunitas agama berfungsi sebagai ruang pertanggungjawaban moral. Ketika seseorang berkonsultasi dengan manusia (pemuka agama), ada komitmen sosial dan konsekuensi psikologis yang mendorong perubahan perilaku.

Kecerobohan dan kurangnya penguasaan diri, cenderung menjadi petaka bagi pemuka agama (Pihak yang dipercaya) akibatnya, dihindari banyak orang. Contohnya ketika kerahasiaan pribadi terpublikasi ke umum. Fenomena ini menggeser paradigma spiritualitas dari yang awalnya berbasis hubungan sosial menjadi berbasis privasi digital. Fenomena ini menunjukkan perlunya institusi agama memperbaiki diri agar kembali menjadi ruang pemulihan yang aman dan inklusif.

  1. Kitab suci lahir dari pengalaman historis, pergumulan umat, dan penafsiran berlapis yang hidup. Ketika AI mereduksi ayat-ayat suci menjadi teks statistik instan, apakah kita sedang kehilangan “roh” dan konteks mendalam dari firman itu sendiri?

Mereduksi ayat-ayat firman Tuhan, cenderung akan menghilangkan arti dan makna sesungguhnya dari kebenaran itu sendiri. Maka, ketika AI mereduksi ayat suci menjadi teks statistik instan, kitab suci dicabut dari akar historis, tradisi lisan, dan pergumulan spiritual yang melahirkannya. Biasanya, AI hanya mengolah kata berdasarkan prediksi, tanpa memiliki kesadaran emosional maupun spiritual.

Kitab Ulangan 4:2 dan Wahyu 22:18-19 menjelaskan, mereduksi firman Tuhan berarti melawan perintah Tuhan. Kemajuan teknologi, tidak selalu menjadi penolong yang baik, maka, penting untuk kita semua berhati-hati dalam menggunakannya.

  1. Ketika algoritma digital dan chatbot mulai banyak dirujuk orang untuk mencari jawaban-jawaban spiritual, bagaimana otoritas kitab suci dan para pemuka agama beradaptasi dalam memelihara kebenaran iman?

Zaman sekarang, kekuatan AI begitu luar biasa, membantu memberikan jawaban yang “cepat” sesuai dengan instruksi. Maka, dapat dikatakan bahwa, Kitab suci dan para pemuka agama menghadapi tantangan pergeseran otoritas, di mana kebenaran iman berisiko tereduksi oleh algoritma yang berbasis popularitas data.

Pemuka agama dituntut untuk lebih bijaksana dan hadir secara interaktif di ruang digital guna mendampingi, memberikan bimbingan dan penegasan-penegasan akan asas-asas kebenaran kitab suci, sehingga umat Tuhan tidak menjadi salah dalam memahami kebenaran. Rasul Paulus mengingatkan dalam 1 Korintus 2:5 “Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.”

Dengan demikian, pergeseran otoritas dari kitab suci ke dunia digital, sangat bisa terjadi bagi banyak orang yang tidak berhati-hati dalam menjalani hidup ini, dan di sinilah menjadi tantangan bagi gereja, yang harus terus berpegang pada firman Tuhan, menjaga langkah untuk tertuju pada kebenaran dan bukan pada dunia digital. AI itu menolong, tapi bukanlah segalanya. Tuhan memberkati!

About the Author: Pdt. Julius Mokolomban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *