Home > Pendidikan

Kapabilitas: Menyiapkan Murid Menghadapi Persoalan yang Belum Pernah Dipelajari

Pada tulisan bulan lalu saya mengajak kita merenungkan sebuah pertanyaan sederhana: Mau dibawa ke mana murid-murid kita? Ternyata tulisan itu mendapat banyak tanggapan. Yang menarik, sebagian besar pembaca tidak lagi bertanya mengapa pendidikan perlu membangun kapabilitas. Mereka justru mengajukan pertanyaan yang lebih penting: Bagaimana kapabilitas itu dibangun dalam pembelajaran?

Pertanyaan itulah yang terus menggelisahkan saya.

Bayangkan seorang murid yang selama bertahun-tahun selalu memperoleh nilai tinggi. Ia mampu menjawab hampir semua soal ujian dengan baik. Namun beberapa tahun kemudian, ketika memasuki dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat, ia berhadapan dengan persoalan-persoalan yang sama sekali berbeda. Tidak ada buku yang memberinya jawaban. Tidak ada guru yang menuntunnya langkah demi langkah. Ia harus mengambil keputusan di tengah informasi yang saling bertentangan, bekerja sama dengan orang-orang yang berbeda latar belakang, memanfaatkan teknologi yang terus berubah, bahkan menghadapi persoalan-persoalan yang belum pernah ia pelajari selama di sekolah.

Di situlah saya mulai bertanya: Apakah sekolah sungguh telah mempersiapkan murid menghadapi kehidupan?

Selama ini kita sering beranggapan bahwa semakin banyak materi yang dikuasai murid, semakin siap pula mereka menghadapi masa depan. Karena itu sekolah berlomba menyelesaikan kurikulum, guru berlomba menuntaskan materi, sementara murid berlomba memperoleh nilai terbaik.

Namun, benarkah penguasaan materi dengan sendirinya mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan?

Saya melihat ada sebuah paradoks yang jarang kita sadari.

Sekolah mengajarkan soal. Kehidupan menghadapkan manusia pada persoalan.

Soal telah diketahui jawabannya. Guru mengetahuinya. Buku teks menyediakannya. Bahkan soal ujian pun disusun berdasarkan materi yang telah dipelajari.

Sebaliknya, persoalan kehidupan hampir tidak pernah datang seperti soal ujian. Persoalan kehidupan bersifat baru, kompleks, sering kali tidak memiliki satu jawaban yang pasti, bahkan banyak di antaranya belum pernah dipelajari sebelumnya.

Bukankah dunia yang sedang kita hadapi hari ini seperti itu?

Perkembangan kecerdasan buatan, perubahan iklim, disrupsi ekonomi, banjir informasi, hingga munculnya berbagai profesi baru memperlihatkan bahwa kehidupan berubah jauh lebih cepat daripada isi buku pelajaran. Anak-anak kita tidak hanya akan menghadapi perubahan. Mereka akan hidup di dalam perubahan.

Karena itu, menurut saya, tujuan pembelajaran tidak cukup lagi hanya membuat murid mampu menjawab soal. Pembelajaran perlu mempersiapkan mereka menghadapi persoalan-persoalan kehidupan.

Bagaimana caranya?

Kuncinya terletak pada cara kita memandang materi pelajaran.

Selama ini materi sering diposisikan sebagai tujuan pembelajaran. Padahal materi sesungguhnya hanyalah wahana pembelajaran. Yang seharusnya dibangun melalui materi bukan sekadar penguasaan isi pelajaran, melainkan cara berpikir, cara belajar, cara mengambil keputusan, dan cara memecahkan persoalan.

Ambillah contoh matematika. Selama ini murid belajar matematika agar mampu menyelesaikan soal-soal matematika. Tentu kemampuan itu penting. Namun yang jauh lebih penting adalah membangun kemampuan berpikir logis, mengenali pola, menganalisis data, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti. Kelak kemampuan tersebut mereka gunakan ketika mengelola keuangan keluarga, membaca hasil survei, mengevaluasi data kesehatan, atau membedakan informasi yang menyesatkan di media sosial. Materi matematikanya mungkin sudah lama terlupakan, tetapi cara berpikir matematisnya tetap bekerja.

Hal yang sama terjadi dalam pembelajaran IPA. Tujuannya bukan sekadar memahami konsep-konsep ilmiah. Yang jauh lebih penting adalah membangun cara berpikir ilmiah: mengamati dengan cermat, mengajukan pertanyaan, mencari bukti, menguji berbagai kemungkinan, lalu menarik kesimpulan secara bertanggung jawab. Ketika suatu hari mereka menghadapi persoalan kesehatan, perubahan iklim, atau perkembangan teknologi yang belum pernah mereka pelajari, cara berpikir ilmiah itulah yang akan menolong mereka.

Demikian pula dalam IPS. Pembelajaran IPS tidak berhenti pada mengingat sejarah atau memahami konsep ekonomi. Melalui IPS, murid belajar melihat hubungan sebab-akibat, memahami dinamika masyarakat, menghargai berbagai sudut pandang, dan mempertimbangkan dampak dari setiap keputusan. Kemampuan inilah yang akan mereka gunakan ketika memimpin sebuah organisasi, membangun usaha, menyelesaikan konflik sosial, atau menghadapi perubahan-perubahan yang terus terjadi di masyarakat.

Perhatikanlah, pada ketiga contoh tersebut yang sesungguhnya sedang dibangun bukan hanya pengetahuan, melainkan cara berpikir yang dapat dibawa ke berbagai situasi kehidupan.

Kemampuan membawa cara berpikir, pengalaman belajar, kreativitas, dan nilai-nilai ke dalam berbagai persoalan kehidupan inilah yang saya sebut sebagai kapabilitas.

Kapabilitas berbeda dengan kompetensi. Kompetensi membuat seseorang mampu melakukan suatu pekerjaan dengan baik. Kapabilitas membuat seseorang mampu mentransfer kompetensinya ke dalam situasi-situasi baru, bahkan ke bidang-bidang yang sama sekali berbeda. Saya menyebutnya sebagai divergenitas kemampuan berkembang melampaui batas disiplin ilmu yang pernah dipelajari.

Di sinilah kapabilitas juga melampaui Higher Order Thinking Skills (HOTS). HOTS merupakan kemajuan penting karena mengajak murid menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Namun dalam banyak praktik pembelajaran, HOTS masih berada di dalam konteks persoalan yang telah disiapkan guru dan tetap berada dalam batas-batas mata pelajaran yang sedang dipelajari.

Kapabilitas melangkah lebih jauh.

Kapabilitas mempersiapkan murid menghadapi persoalan-persoalan yang belum pernah dipelajari, bahkan mengantisipasi tantangan-tantangan yang belum pernah muncul. Bukankah justru persoalan-persoalan seperti inilah yang akan semakin banyak dihadapi generasi mendatang?

Karena itu, mungkin sudah saatnya kita mengubah pertanyaan kita sebagai guru.

Bukan lagi sekadar, “Materi apa yang harus saya ajarkan minggu depan?”

Tetapi,

“Cara berpikir apa yang sedang saya bangun melalui materi ini?”

“Persoalan kehidupan apa yang kelak dapat dihadapi murid melalui pengalaman belajar ini?”

Perubahan pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mengubah arah seluruh pembelajaran.

Di tengah dunia yang terus berubah dan penuh ketidakpastian, pendidikan tidak lagi cukup hanya membicarakan apa yang harus dipelajari. Sudah saatnya kita lebih bersungguh-sungguh memikirkan bagaimana setiap pengalaman belajar membentuk manusia yang mampu menghadapi persoalan-persoalan yang belum pernah dipelajari.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar mempersiapkan murid menghadapi ujian.

Pendidikan mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan.

YMP

Malang, 3 Agustus 2026

Rujukan

Morin, E. (2001). Seven Complex Lessons in Education for the Future. Paris: UNESCO.

OECD. (2018). The Future of Education and Skills: Education 2030. Paris: OECD Publishing.

Perkins, D. N., & Salomon, G. (1992). Transfer of Learning. International Encyclopedia of Education (2nd ed.). Oxford: Pergamon Press.

Stephenson,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *