
Kita sering berkata sekolah adalah tempat anak bertumbuh. Tempat belajar ilmu, karakter, dan kemanusiaan. Namun di banyak sekolah, ada anak-anak yang justru belajar satu hal yang pahit: bahwa dirinya dianggap tidak cukup layak untuk diterima.
Dan ironisnya, itu terjadi di ruang yang bernama pendidikan.
Bullying di sekolah sebenarnya bukan cerita baru. Kita sudah terlalu sering mendengarnya. Ejekan tentang warna kulit. Bentuk tubuh. Rambut. Agama. Logat bicara. Kondisi ekonomi. Kemampuan akademik. Bahkan sekedar karena seorang anak terlihat berbeda dari kelompok mayoritas.
Tetapi anehnya, setiap kali kasus muncul, respons kita hampir selalu sama:
“Anak-anak memang begitu.”
“Cuma bercanda.”
“Namanya juga proses pendewasaan.”
“Atau… sekolah kami baik-baik saja.”
Benarkah baik-baik saja?
Kalau seorang anak mulai takut masuk sekolah, apakah itu baik-baik saja? Kalau seorang anak pulang dengan hati hancur tetapi memilih diam karena merasa tidak akan dipahami, apakah itu baik-baik saja? Kalau seorang anak perlahan kehilangan rasa percaya diri hanya karena terus-menerus direndahkan, apakah itu juga baik-baik saja?
Melihat Bullying Secara Jujur
Kita terlalu sering menilai sekolah dari gedungnya, fasilitasnya, rangkingnya, media sosialnya, atau prestasi akademiknya. Tetapi jarang bertanya: apakah anak-anak merasa aman menjadi dirinya sendiri di sana?
Padahal di balik banyak sekolah yang tampak tenang, sebenarnya ada korban-korban yang diam. Ada anak-anak yang bertahan sendirian. Ada yang menangis di rumah. Ada yang mulai membenci dirinya sendiri. Ada yang kehilangan keberanian berbicara. Bahkan ada yang setiap pagi harus mengumpulkan ‘tenaga’ hanya untuk masuk ke kelas.
Namun karena mereka masih datang ke sekolah, kita menganggap semuanya normal. Di situlah letak paradoks pendidikan kita.
Kita berbicara tentang karakter, profil pelajar, nilai-nilai kemanusiaan, bahkan sekolah ramah anak. Poster-poster tentang toleransi dipasang di dinding-dinding. Seminar motivasi dilakukan. Slogan-slogan indah dikutip dalam upacara. Tetapi di lorong sekolah, di grup percakapan siswa, di sudut kelas, penghinaan tetap hidup setiap hari.
Dan sering kali sekolah tidak sungguh melihatnya. Atau lebih tepatnya: tidak sungguh mau melihatnya. Karena melihat bullying secara jujur berarti mengakui bahwa ada sesuatu yang gagal dalam budaya sekolah kita.
Bullying adalah Gejala Sosial
Bullying bukan sekadar kenakalan individu. Ia adalah gejala sosial. Ia tumbuh ketika budaya merendahkan dianggap lucu. Ketika senioritas dianggap biasa. Ketika kelompok mayoritas merasa berhak menentukan siapa yang “normal”. Ketika anak-anak belajar bahwa berbeda adalah kelemahan yang bisa dijadikan bahan hiburan.
Yang lebih menyedihkan, banyak bullying berlangsung terang-terangan tetapi dianggap biasa karena sudah terlalu lama dinormalisasi. Anak diejek soal warna kulit? Dianggap candaan. Anak dipermalukan karena tubuhnya? Dianggap cuma iseng saja. Anak dikucilkan dari kelompok? Dianggap dinamika pertemanan. Anak menangis karena terus direndahkan? Dibilang terlalu sensitif.
Kita gagal memahami satu hal penting: sesuatu yang diulang setiap hari tidak lagi menjadi candaan. Ia berubah menjadi kekerasan psikologis. Dan luka psikologis sering jauh lebih dalam daripada luka fisik. Seorang anak mungkin bisa melupakan satu pukulan. Tetapi tidak mudah melupakan rasa dipermalukan terus-menerus di depan teman-temannya. Tidak mudah melupakan pengalaman merasa sendirian di tengah keramaian kelasnya sendiri.
Yang ironis, banyak sekolah baru bergerak setelah kasus menjadi besar. Setelah viral. Setelah orang tua marah. Setelah media sosial ramai. Padahal bullying hampir selalu dimulai dari hal-hal kecil yang dibiarkan. Ini menunjukkan bahwa banyak sekolah masih bekerja secara reaktif, bukan preventif.
Bullying, Persoalan Budaya
Kita belum sungguh melihat program anti-bullying sebagai bagian inti dari pendidikan. Kalau pun ada, sering kali hanya formalitas administratif: seminar setahun sekali, slogan di mading, atau imbauan singkat saat upacara. Setelah itu selesai. Bagai angin lewat. Padahal bullying bukan persoalan musiman. Ia persoalan budaya. Dan budaya tidak berubah hanya dengan poster.
Budaya berubah ketika seluruh ekosistem sekolah secara sadar membangun rasa hormat terhadap manusia. Ketika guru tidak menertawakan siswa di depan kelas. Ketika sekolah serius membangun relasi antar siswa, bukan hanya kompetisi akademik. Ketika keberagaman tidak sekadar diterima, tetapi dihargai. Ketika anak-anak belajar bahwa kekuatan bukan berarti bisa merendahkan yang lemah.
Sekolah Memanusiakan Manusia
Sekolah sering bangga karena siswanya berprestasi. Tetapi kita perlu mulai bertanya lebih dalam: apakah siswa-siswi itu juga belajar berbelas kasih? Sebab pendidikan tanpa empati bisa melahirkan manusia pintar yang terbiasa melukai orang lain.
Dan mungkin inilah pertanyaan paling penting yang perlu kita jawab bersama: untuk apa sebenarnya sekolah didirikan?
Kalau sekolah hanya menjadi tempat mengejar angka dan prestasi, maka bullying akan terus dianggap gangguan sampingan. Tetapi jika sekolah adalah tempat memanusiakan manusia, maka bullying adalah kegagalan yang sangat serius.
Karena pada akhirnya, sekolah yang benar-benar hebat bukanlah sekolah yang hanya menghasilkan siswa pintar. Tetapi sekolah yang tidak membiarkan satu pun anak merasa sendirian saat terluka.
YMP Malang, 21 Mei 2026
Rujukan
Espelage, D. L., & Swearer, S. M. (2010). A social-ecological model for bullying prevention and intervention: Understanding the impact of adults in the social ecology of youngsters. In S. R. Jimerson, S. M. Swearer, & D. L. Espelage (Eds.), Handbook of bullying in schools: An international perspective (pp. 61–72). Routledge.
Fullan, M. (2007). The new meaning of educational change (4th ed.). Teachers College Press.
OECD. (2019). PISA 2018 results (Volume III): What school life means for students’ lives. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/acd78851-en
Olweus, D. (1993). Bullying at school: What we know and what we can do. Blackwell Publishing.
UNESCO. (2019). Behind the numbers: Ending school violence and bullying. UNESCO Publishing.
UNESCO. (2020). School violence and bullying: Global status report. UNESCO Publishing.
Lidah yang mengejek sesama adalah lidah yang lupa takut akan Allah. Sebab orang yang sungguh melihat salib Kristus tidak akan dengan ringan mempermalukan orang yang juga diciptakan menurut gambar-Nya. Sekolah Kristen harus menjadi tempat di mana stakeholder belajar memperlakukan sesamanya sebagaimana Kristus.
Artikel kali ini berhasil membuka mata bahwa bullying bukan sekadar kenakalan siswa, melainkan cermin budaya sekolah yang belum sepenuhnya sehat. Penulis dengan sangat kuat menggambarkan luka psikologis korban dan sikap sekolah yang sering terlambat bertindak. Namun, artikel ini akan menjadi lebih lengkap apabila tidak hanya menyoroti kegagalan sekolah, tetapi juga memberikan ruang pembahasan tentang peran keluarga dan lingkungan digital yang kini turut memperbesar budaya perundungan.
Selain itu, kritik terhadap sekolah terasa sangat tajam, tetapi solusi praktis yang bisa diterapkan sehari-hari masih belum banyak diuraikan. Padahal guru dan sekolah membutuhkan contoh konkret, seperti pola pendampingan korban, pendidikan empati di kelas, atau mekanisme pelaporan yang aman bagi siswa. Artikel ini juga cenderung menggambarkan sekolah sebagai pihak yang kurang peduli, meskipun pada kenyataannya banyak guru sebenarnya ingin membantu tetapi belum memiliki pelatihan dan dukungan sistem yang memadai.
Meski demikian, tulisan ini tetap penting karena mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya prestasi akademik, melainkan kemampuan sekolah menciptakan rasa aman dan penghargaan terhadap martabat setiap anak. Kritik terbesar dari artikel ini bukan ditujukan untuk menjatuhkan sekolah, tetapi untuk mengajak dunia pendidikan lebih jujur melihat luka yang selama ini sering disembunyikan.
1. Ortu maupun guru kadang tdk paham tentang arti bullying. Sehingga respon yg dilakukan sering terlambat dan salah.
2. Ketika trauma (akibat bullying dlsb) muncul, peran Ortu maupun guru “tdk ada”, dimana seharusnya mereka memberi rasa aman dan nyaman bagi anak utk bisa menceritakan kejadiannya dng jujur dan transparan
3. Krn tdk ada “wadah” utk bercerita, maka trauma itu tersimpan dalam diri sang anak, yg secara perlahan akan merusak Jiwa dan mental anak di kemudian hari.
Ditambah lagi, anak² jaman sekarang…strawberry generation…
Hal ini membuat semakin rapuh generasi penerus kita.
Contoh yg paling gampang adalah tugas piket kebersihan kelas sdh jarang ada, kalaupun ada itu cuman formalitas krn sdh diserahkan ke Cleaning service.
Padahal, tugas bersihkan kelas itu mendidik sang anak utk:
– peduli/berempati
– berkontribusi
– bertanggung jawab mengerjakan hingga selesai/bersih