Kekeliruan yang Merugikan: Narasi Menyesatkan vs Realitas yang Terabaikan

Dalam percakapan publik, kita sering mendengar pernyataan yang terdengar meyakinkan bahkan ilmiah namun sebenarnya keliru. Masalahnya bukan sekadar salah kutip atau kurang paham. Lebih dari itu, kekeliruan seperti ini pelan-pelan membentuk cara kita memandang diri sendiri: sebagai bangsa, sebagai guru, sebagai pelajar, bahkan sebagai manusia. Dan kita tahu, ketika cara pandang keliru, arah langkah pun ikut melenceng. Yang lebih mengkhawatirkan, kekeliruan yang diulang terus menerus pada akhirnya terasa seperti kebenaran.

Vonis “128 Tahun” yang Dramatis

Nama Prof. Lant Pritchett kerap dikutip untuk menggambarkan betapa tertinggalnya pendidikan kita.
Muncul angka yang terasa menghentak: 128 tahun. Bahwa pendidikan kita ketinggalan 128 tahun jika dibandingan dengan negara-negara maju.
Sepintas, ini seperti kesimpulan ilmiah yang tegas. Ringkas, tajam, dan mudah diingat. Namun justru di situlah letak masalahnya.
Jika menelusuri gagasan Pritchett – misalnya dalam ‘The Rebirth of Education’ – yang ia kritik bukan “jarak waktu”, melainkan kegagalan sistem menghasilkan pembelajaran.
Masalahnya sederhana: anak-anak kita bersekolah lebih lama, tetapi tidak selalu belajar lebih baik. Mereka naik kelas, tetapi belum tentu paham. Mereka lulus, tetapi belum tentu menguasai dasar.

Di ruang publik, kritik ini berubah bentuk. Dari refleksi menjadi vonis. Dari persoalan sistem menjadi seolah-olah persoalan bangsa.
Akibatnya, kita mudah terjebak pada dua sikap ekstrem: merasa terlalu tertinggal, atau menolak kritik sama sekali. Padahal yang dibutuhkan bukan vonis, melainkan kejujuran melihat apa yang sungguh terjadi di ruang kelas.

IQ Bukan Takdir

Kekeliruan lain muncul dari angka IQ. Rata-rata IQ kita konon sangat rendah. Angka seperti 78 atau 87 sering dikutip, IaIu dibandingkan secara tidak pantas – bahkan dijadikan bahan gurauan.
Angka itu terdengar objektif. Seolah-olah netral. Padahal tidak sesederhana itu.
IQ sering diperlakukan seolah-olah tetap, biologis, dan menentukan nilai manusia. Seolah-olah ia adalah takdir. Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa skor IQ sangat dipengaruhi oleh: gizi, pendidikan, dan lingkungan.
Seorang anak yang tumbuh dengan nutrisi baik, stimulasi cukup, dan pendidikan yang tepat akan berkembang berbeda dengan anak yang tidak mendapat kesempatan yang sama. Artinya, IQ lebih mencerminkan kesempatan yang dimiliki, bukan semata-mata kemampuan bawaan.
Ketika angka ini digunakan tanpa konteks, ia kehilangan maknanya. Lebih jauh lagi, ia berubah menjadi label. Dan label yang diulang terus-menerus bisa menjadi batas yang tidak terlihat, membatasi cara kita melihat diri sendiri.
IQ rendah bukan bukti kurangnya potensi, melainkan bukti kurangnya keadilan akses.

Jebakan Perbandingan

Kita juga gemar membandingkan. Melihat anak di negara lain lebih fasih menjelaskan sesuatu, IaIu buru-buru menyimpulkan: anak kita tertinggal.
Sekilas terlihat masuk akal.
Namun yang sering luput adalah konteks di baliknya: bagaimana cara mereka diajar, bagaimana rasa ingin tahu dipupuk, dan bagaimana lingkungan belajar dibangun.
Anak yang terbiasa diajak berdiskusi akan berbeda dengan anak yang terbiasa hanya mendengar. Anak yang dilatih bertanya akan berbeda dengan anak yang hanya diminta menjawab. Perbedaan performa sering kali bukan soal kecerdasan, melainkan soal kesempatan belajar.
Tanpa melihat konteks ini, perbandingan hanya akan melahirkan kesimpulan yang tergesa-gesa dan sering kali merendahkan diri sendiri.

Kekeliruan yang Dalam: Salah Menentukan Arah

Ada kekeliruan lain yang lebih halus, tetapi tidak kalah penting. Kita sering sibuk memperdebatkan kurikulum, mengganti istilah, dan memperkenalkan konsep baru.
Namun praktik di kelas tidak banyak berubah. Inilah rutinitas di kelas kita. Guru tetap menjelaskan. Siswa tetap mencatat. Lalu mengerjakan soal-soal.
Perubahan cuma terjadi di dokumen, tetapi tidak selalu di pengalaman belajar.
Akibatnya, kita merasa sudah bergerak maju, padahal sebenarnya masih berjalan di tempat. Di sini, persoalannya bukan kurangnya ide, melainkan belum berubahnya praktik.

Mengapa Kekeliruan-Kekeliruan Ini Bertahan?

Karena ia sederhana. Karena mudah diingat. Dan karena terdengar seperti didukung data.
Dalam dunia yang serba cepat, narasi yang ringkas sering terasa lebih meyakinkan daripada penjelasan yang utuh. Kita cenderung menerima yang cepat dipahami, tanpa selalu memeriksa apakah ia benar. Di sinilah kekeliruan menemukan tempatnya.

Penutup: Kembali pada yang Esensial

Dalam pendidikan, kekeliruan yang diulang akan mengeras menjadi keyakinan. Dan keyakinan yang keliru bisa menentukan arah masa depan.
Karena itu, meluruskan pemahaman bukan sekadar urusan
akademik. Ini soal arah.

Barangkali kita tidak sedang tertinggal ratusan tahun. Barangkali kita hanya belum cukup jujur melihat apa yang terjadi di ruang kelas. Barangkali masalahnya bukan pada kemampuan, melainkan pada cara kita belajar.
Dan jika itu yang terjadi, maka harapan itu masih ada. Sebab sesuatu yang bisa dipahami dengan benar, pada akhirnya bisa diperbaiki dengan sungguh-sungguh.

YMP
Malang, 15 April 2026

Referensi

Pritchett, L. (2013). The rebirth of education: Schooling ain’t learning. Washington, DC: Center for Global Development.
OECD. (2023). PISA 2022 results (Volume I): The state of learning and equity in education. Paris: OECD Publishing.
Hanushek, E. A., & Woessmann, L. (2015). The knowledge capital of nations: Education and the economics of growth. Cambridge, MA: MIT Press.
Nisbett, R. E. (2009). Intelligence and how to get it: Why schools and cultures count. New York, NY: W. W. Norton & Company.
Flynn, J. R. (2007). What is intelligence? Beyond the Flynn effect.
Cambridge: Cambridge University Press.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *