Tetap Kristen di Dunia Sekuler

Shaloom Bapak Pengasuh,

Ijinkan saya menyampaikan pertanyaan seputar perkembangan kekristenan saat ini.

  1. “Bagaimana gereja dapat tetap relevan dan efektif dalam menyebarkan Injil di era digital, di mana teknologi dan media sosial telah mengubah cara orang berinteraksi dan mencari kebenaran?”
  2. “Bagaimana orang Kristen dapat menjadi garam dan terang di dunia yang semakin pluralistik dan sekuler, tanpa kehilangan identitas dan integritas mereka?”

Terima kasih Pak, ditunggu jawabannya.

Salam,
Dewi, Sidoarjo


Jawaban

Dewi yang dikasih Tuhan, sadar atau tidak, tugas utama gereja adalah memberitakan Injil. Banyak gereja yang berjibaku mempersiapkan bentuk-bentuk atau metode-metode supaya pemberitaan Injil dapat berjalan dengan baik. Sekalipun tidak bisa dipungkiri, ada banyak gereja terkadang menjadi kaku, abai, dan lemah karena tidak mengikuti perubahan-perubahan dalam perkembangan teknologi masa kini.

Di era dunia digital saat ini, bukan hanya teknologi yang terus mengalami perubahan, tetapi manusia sebagai pengguna digital juga mengalami perubahan yang sangat signifikan. Setiap waktu kita berinteraksi dengan dunia teknologi, yang tampak kita sadari, gaya hidup manusia pun semakin berubah, yang akhirnya membawa kepada individualisme (kemandirian). Situasi seperti ini bukan hal yang baru lagi, tetapi terus bertumbuh dan semakin sulit untuk dikendalikan. Akibatnya, bukan hanya di kehidupan dunia, tetapi juga memengaruhi kehidupan orang percaya dalam mencari kebenaran maupun dalam pemberitaan Injil.

Dunia modern menuntut pemikiran dan cara kerja modern. Contohnya, Injil disuarakan melalui media sosial (Facebook, Instagram, WhatsApp, YouTube, dan lain-lain). Hal ini sangat efektif dilakukan untuk kalangan perkotaan serta memiliki jangkauan yang sangat luas. Maka tidak heran saat ini dunia digital dipenuhi nuansa-nuansa rohani yang bertujuan untuk menyuarakan kebenaran (menyebarkan Injil). Namun di sinilah gereja harus berhati-hati dan mawas diri. Mengapa? Karena gereja adalah persekutuan: “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kisah Para Rasul 2:42). Jangan sampai kita hebat berinteraksi di dunia maya, tetapi lupa persekutuan sesama orang percaya.

Gereja bukan hanya dipanggil untuk memberitakan Injil, tetapi juga harus hidup dalam persekutuan. Teknologi mampu membawa dan mempertemukan kita dalam dunia maya, tetapi tidak dalam kebersamaan. Bersama namun terpisah itulah dunia teknologi; bersama namun tetap sendiri itulah dunia maya. Maka menjadi penting bagi gereja untuk bijak dalam berteknologi, namun jangan abai dalam pertemuan. “Dengan bertekun dan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergiliran dan makan bersama-sama dengan gembira dan tulus hati, sambil memuji Allah dan mereka disukai semua orang. Tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan” (Kisah Para Rasul 2:46–47). Artinya, teknologi menolong kita untuk menyuarakan Injil kebenaran, tetapi tidak menggantikan pertemuan-pertemuan dalam rumah ibadah.

Dengan demikian, hadirnya teknologi menjadi peluang besar untuk menjangkau sebanyak-banyaknya orang agar mendengar Injil. Namun sebaliknya, hal ini juga menjadi tantangan besar bagi gereja. Mengapa? Karena gereja harus hadir menjadi garam dan terang dunia. Bagaimana orang lain dapat melihat dan merasakan kehadiran gereja secara nyata. Teknologi penting, tetapi tidak kalah pentingnya adalah kehadiran kita dalam kehidupan banyak orang.

Maka menjadi penting untuk kita pikirkan bersama bahwa gereja juga hadir dalam kehidupan dunia yang pluralistik. Menerima dan menghargai keberagaman itu penting, dan inilah sesungguhnya ladang pelayanan gereja yang nyata. Ketika Sadrakh, Mesakh, dan Abednego hadir dalam perbedaan dengan pemerintahan raja Nebukadnezar, berkatalah mereka: “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu” (Daniel 3:17–18). Mereka menghargai keberagaman, namun tidak harus menjadi sama dan mengikuti yang salah. Itulah identitas orang yang percaya.

Tuhan memberkati!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *