Home > Kepemimpinan

Utang holic

Ardo Ryan Dwitanto, SE, MSM*

“…yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi.” (Amsal 22:7)

KALAU kita pergi ke pusat-pusat perbelanjaan, tawaran mendapatkan suatu produk dengan mencicil merupakan suatu yang tidak asing lagi. Dengan men-cicil alias berhutang, kita akan mendapatkan produk-produk impian. Karena itu, banyak sekali orang yang akhirnya terjebak dalam hutang yang besar. Selain itu, kita juga sering melihat tawaran-tawa-ran potongan harga dari beberapa penjual untuk pemegang kartu kredit. Secara tidak disadari, hal ini telah membuat banyak orang me-ningkatkan belanjanya, dan selan-jutnya, mereka terkejut dengan tagihan mereka yang sangat besar di akhir bulan. Mau tidak mau, akhirnya , mereka tidak dapat membayar seluruh tagihan dan ber-hutang untuk sisa tagihannya. Kita hidup di dalam suatu generasi tren gaya hidup berhutang untuk men-dapatkan apa yang kita inginkan.

Saya pernah melihat bagaimana seseorang hidup dari utang ke utang. Selama beberapa tahun, dia tidak lepas dari jerat utang. Ibarat gali lubang tutup lubang. Bagai-mana dengan kehidupannya? Sungguh menyedihkan. Dia tidak dapat menabung. Dia bekerja keras dan tidak dapat menikmati hasilnya karena sudah habis untuk,… baca selanjutnya dalam REFORMATA edisi 105

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *