
Pdt. Bigman Sirait
PEMIKIRAN Kristus adalah suatu kekuatan yang sangat luar biasa, dan menjadi pola pikir satu-satunya di muka bumi, karena tidak pernah ada manusia berpikir seperti Kristus berpikir. Kristus berpikir dengan tidak mem-pertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah… (Fil 2: 5-11). Artinya, Dia rela melepaskan atribut itu. Istilahnya “mengo-songkan diri”. Sementara se-mua orang, di dalam pemikiran-nya mau berkuasa. Adam jatuh ke dalam dosa karena ingin sama dengan Allah. Lucifer (malaikat) jatuh menjadi iblis karena ingin sama dengan Allah. Tetapi apa yang Yesus lakukan? Dia memang sudah sama dengan Allah, tetapi Dia rela melepaskannya. Ini pola pikir yang berlawan sekali dengan pola pikir dunia, melawan arus jaman.
Menyombongkan diri itu benih-benih keinginan berkua-sa. Dan keinginan berkuasa bukan hanya ada pada orang kaya saja, orang miskin juga. Itu juga tidak monopoli orang dewasa, anak-anak pun ingin berkuasa. Semua orang ingin tampak tinggi. Semua orang ingin lebih baik dari yang lain. Semua orang ingin tampak lebih luar biasa dari yang lain. Nah, ketika kita menjadi manusia yang bukan biasa-biasa saja, karena menjadi manusia yang dibalikkan citranya, menjadi seperti apa yang Allah kehendaki, yang sudah dikembalikan kepada hekaket gambar dan rupa Allah itu, maka kita akan menjadi manusia yang berbeda dengan jaman. Sehingga kita bukan manusia yang mau menggapai ketinggian, di mana kita menjadi pusat daripada pujian, tetapi justru mengambil suatu sikap yang sangat luar biasa, merendah, sehingga tidak menjadi pusat perhatian.
Mendemonstrasikan
Kita juga tidak sekadar merendahkan diri, tetapi harus berani melepas hak, memaafkan untuk menciptakan perdamaian. Yesus melepas hak-Nya, kemu-dian menjadi manusia, tetapi Dia menegur keras orang-orang berdosa, menelanjangi dosa. Tetapi Dia selalu membuka pintu pengampunan bagi orang yang percaya. Betapa ajaib dan benar pikiran Kristus itu. Justru ke-kuatan-Nya ada di dalam kerelaan untuk melepaskan kekuasaan. Dan kekuasaan sejati itu adalah kekuasaan yang tidak kita rengkuh untuk diri sendiri. Karena kekuasaan yang sejati itu adalah keberanian melepas diri, keberanian melepas hak.
Kita berpikir seperti Kristus membuat kita mampu menuruni lembah, di mana harga diri kita tercabik-cabik tetapi kita menemukan kebenaran. Ini tak mudah, tetapi untuk itulah Kristus mati bagi kita, supaya kita mampu mengikut Dia. Tetapi alangkah indahnya, dan amat sangat luar biasa kalau kita mencapainya maka tahulah kita bahwa Yesus tidak pernah salah meminta pada kita. Yesus tidak pernah salah memerintahkan apa yang harus kita kerjakan. Yesus tidak pernah salah. Dia melakukan apa yang menjadi tuntutan dan kehendak Bapa.
Begitu pula kita, melakukan tuntutan-tuntunan yang Kristus tetapkan supaya kita seperti Kristus, berpikir seperti Dia berpikir. Itulah berpikir yang benar. Sehingga dengan ber-pikiran seperti Kristus kita bisa menyongsong, membangun kerendahan hati, menjadi titik kemenangan.v
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)