Home > Konsultasi Kesehatan

Diabetes Tipe 2 dan Hipertensi Usia Muda

Dokter, saya ingin bertanya dengan melihat berkembangnya Diabetes Tipe 2 dan Hipertensi Usia Muda.

  1. Bagaimana mekanisme biologis pola makan tinggi gula dan perilaku mager bisa memicu penyakit dewasa ini pada tubuh anak-anak?
  2. Apa saja gejala awal diabetes dan hipertensi pada remaja yang sering kali tidak disadari atau diabaikan oleh orang tua?
  3. Jika anak muda sudah terkena penyakit ini, bagaimana dampaknya terhadap organ tubuh mereka dalam 5–10 tahun ke depan?
  4. Apakah penanganan medis dan obat-obatan untuk pasien muda sama dengan pasien lansia?

Seriti, Sulsel

Sarwendah

Jawab

Waah pertanyaan dari Sarwendah ini sangat penting. Itu mengingatkan banyak orang tua agar dapat memperhatikan kesehatan anak/remaja mereka dengan lebih saksama, karena diabetes tipe 2 dan hipertensi pada anak/remaja sering berkembang secara diam-diam. Bahkan keduanya juga dapat saling memperkuat risiko kerusakan organ bila berlangsung lama.

  1. Bagaimana pola makan tinggi gula dan “mager” bisa memicu diabetes tipe 2 ?

Secara sederhana, mekanismenya seperti yang berikut ini:

-Terlalu banyak kalori atau gula + aktivitas fisik rendah → terjadi resistensi insulin → gula darah meningkat → pankreas bekerja lebih keras → akhirnya kemampuan menghasilkan insulin akan menurun.

Insulin normalnya membantu glukosa masuk ke sel untuk digunakan sebagai energi. Pada resistensi insulin, sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin sehingga glukosa menjadi lebih sulit masuk ke sel sehingga tetap tinggi di dalam darah.

Pada pola hidup sedentari juga membuat otot memakai lebih sedikit glukosa dan mengurangi pengeluaran energi. Bila keadaan seperti ini berlangsung lama, terutama pada anak yang memiliki faktor genetik atau kelebihan berat badan, maka  risiko diabetes tipe 2 meningkat.

Catatan penting: bukan berarti setiap anak yang makan makanan manis akan terkena diabetes. Penyebabnya bisa multifaktor seperti antara lain : faktor genetik, pola makan keseluruhan, aktivitas fisik, tidur, lingkungan, dan kondisi metabolik semuanya berperan.

-Untuk hipertensi, pola makan yang kurang sehat, kelebihan berat badan, kurang aktivitas, dan faktor genetik dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah. Pada anak/remaja, penyebab lain seperti penyakit ginjal juga perlu dipertimbangkan.

  1. Apa gejala awal yang sering tidak disadari?

Ini justru bagian yang sangat penting: hipertensi pada anak dan remaja sering tidak menimbulkan gejala sama sekali. Karena itu tekanan darah perlu diperiksa secara berkala. Pedoman AAP menekankan pentingnya pengukuran tekanan darah dan evaluasi kemungkinan kerusakan target organ bila hipertensi terkonfirmasi.

*(American Academy of Pediatrics +1).

Untuk diabetes, gejala yang perlu diperhatikan antara lain:

  • sering haus,
  • sering buang air kecil,
  • mudah lelah,
  • penglihatan kabur,
  • penurunan berat badan yang tidak disengaja,
  • luka yang sulit sembuh,
  • atau infeksi yang berulang.

Tetapi, diabetes tipe 2 pada anak juga dapat relatif tanpa gejala, sehingga pemeriksaan menjadi penting pada anak yang memiliki faktor risiko.

Jadi pesan kepada orang tua bukanlah “tunggu sampai anak menunjukkan gejala”, tetapi cobalah mengenali faktor risiko dan lakukan pemeriksaan bila dokter merekomendasikannya.

  1. Kalau sudah terkena penyakit ini sejak muda, bagaimana dampaknya 5–10 tahun kemudian?

Ini yang membuat diabetes tipe 2 dan hipertensi pada usia muda perlu ditangani serius.

Bayangkan seorang remaja terkena diabetes pada usia 15 tahun. Bila gula darah dan tekanan darahnya tidak terkendali, maka pada usia 20-an ia sudah membawa beban paparan penyakit selama bertahun-tahun, bukannya baru mulai saat dewasa.

Organ yang dapat terdampak antara lain:

√ Jantung dan pembuluh darah

Diabetes dan hipertensi meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Pada hipertensi anak, bahkan perubahan pada otot jantung seperti left ventricular hypertrophy dapat menjadi tanda kerusakan organ sasaran.

*(American Academy of Pediatrics)

√ Ginjal

Gula darah tinggi dan tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil ginjal dan meningkatkan risiko penyakit ginjal.

√ Mata

Diabetes yang berlangsung lama dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah retina.

√ Saraf

Diabetes dapat menyebabkan neuropati atau kerusakan saraf.

√ Pembuluh darah

Kerusakan pembuluh darah dapat dimulai jauh sebelum seseorang memasuki usia lanjut.

Yang cukup mengkhawatirkan, penelitian pada youth-onset type 2 diabetes menunjukkan komplikasi dapat muncul relatif cepat. Dalam satu penelitian besar, setelah rata-rata hampir 8 tahun sejak terdiagnose, komplikasi atau faktor risiko komplikasi sudah ditemukan pada sebagian besar peserta dengan diabetes tipe 2.

Tetapi ini bukan berarti seorang anak yang didiagnosis diabetes pasti mengalami kerusakan organ dalam 5–10 tahun. Karena dengan pengendalian gula darah, tekanan darah, kolesterol, aktivitas fisik, pola makan, dan pemantauan medis akan dapat sangat mengurangi risiko.

Bahkan kerusakan organ akibat hipertensi pada anak dapat membaik setelah tekanan darah dikendalikan.

*(American Academy of Pediatrics)

  1. Apakah obat untuk anak/remaja sama dengan orang lansia?

Wah, masalah ini tidak bisa disamakan begitu saja.

Prinsip pengobatannya sama—mengendalikan gula darah dan tekanan darah serta melindungi organ—tetapi pemilihan obat, dosis, target, pemeriksaan, dan pertimbangan keselamatan harus disesuaikan dengan usia dan kondisi anak.

Untuk hipertensi pada remaja dengan diabetes, misalnya, pedoman ADA 2026 merekomendasikan perubahan gaya hidup untuk tekanan darah yang meningkat, sedangkan hipertensi yang sudah terkonfirmasi dapat memerlukan obat seperti ACE inhibitor atau ARB, dengan pertimbangan klinis khusus pada pasien muda.

Diabetes Journals

Untuk diabetes tipe 2 pada anak/remaja, terapi juga tidak sekadar “memberikan obat diabetes orang dewasa dengan dosis lebih kecil”. Dokter perlu mempertimbangkan usia, pubertas, tingkat gula darah, fungsi ginjal dan hati, adanya penyakit penyerta, serta respons pasien yang bersangkutan terhadap terapi.

Jadi apa pesan terpenting bagi orang tua?

Menurut saya, kalimat yang sangat baik untuk masyarakat adalah:

“Diabetes tipe 2 dan hipertensi bukan lagi semata-mata penyakit orang tua.

Pada anak dan remaja, keduanya dapat berkembang tanpa gejala dan mulai memberikan dampak pada organ justru jauh sebelum anak merasa sakit.”

Karena itu pendekatannya bukan menyalahkan anak dengan mengatakan “kamu malas” atau “kamu kebanyakan makan manis”. Yang jauh lebih efektif adalah membangun lingkungan keluarga yang sehat: makanan bergizi, aktivitas fisik yang menyenangkan, tidur cukup, membatasi minuman manis dan waktu sedentari, serta melakukan pemeriksaan kesehatan berkala bila terdapat faktor risiko.

Dan satu hal penting: jangan memberikan obat diabetes atau obat tekanan darah kepada anak berdasarkan obat milik orang dewasa. Diagnosis dan terapi harus ditentukan dokter, idealnya dokter anak atau dokter yang berpengalaman menangani diabetes dan hipertensi pada usia muda.

Kiranya informasi yang diberikan ini bukan hanya benar secara ilmiah, tetapi juga bisa menjadi berkat membawa pengharapan dan mendorong orang untuk mengambil langkah bijaksana bagi kesehatan  dan kehidupan.

Saya juga berharap penjelasan ini bisa menjadi edukasi preventif bagi orang tua, bukan untuk menakut-nakuti tetapi supaya bisa menjadi lebih peka terhadap kesehatan anak sejak dini.

Jika anda membutuhkan konsultasi Kesehatan,
silakan mengirim pertanyaan ke sekretariat yapama WA: 0811-8888-804

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *