
Saya ingin mempertanyakan kehadiran Tuhan di tengah penderitaan mental dan kelelahan kerja (hustle culture):
- Apakah salah mempertanyakan keadilan Tuhan?
- Bagaimana menyelaraskan keyakinan bahwa Tuhan itu baik dengan realitas penderitaan mental yang dialami?
- Mengapa rasa lelah membuat kita seakan-akan begitu jauh bahkan seperti ditinggalkan oleh Tuhan?
- Bagaimana kita seharusnya memaknai penderitaan mental ini?
- Apakah doa atau ritual keagamaan dapat meredakan burn-out yang sering membuat kehidupan spiritual kita hambar?
- Bagaimana respon yang sepatutnya untuk mendapatkan solusi?”
Dion, Sunter
Jawaban:
Inti persoalan theodisi [Yunani: Theos, Tuhan dan Dike: hukum/keadilan] sebenarnya bukan sekadar pertanyaan, “Mengapa Tuhan membiarkan kejahatan dan penderitaan?” ujar Gottfried Wilhelm Leibniz, 1710. Lebih dalam lagi, theodisi berusaha mempertahankan tiga pernyataan sekaligus bahwa: [1] Allah itu baik dan adil. [2] Allah berkuasa atas ciptaan. [3] Di dunia nyata terdapat penderitaan dan ketidakadilan yang kadang tampaknya tidak masuk akal. Justru ketika ketiganya dipertemukan, muncullah ketegangan yang tidak selalu dapat diselesaikan secara rasional karena penderitaan tidak selalu mempunyai jawaban sebab-akibatnya.
Contohnya kasus Ayub, dia seorang yang saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan; meski arti namanya yang dibenci: the hated one!. Ayub nyaris kehilangan semua kecuali tubuh yang rusak karena sakit kulit. Namun dalam keyakinannya, dia berkata [nubuat] bahwa, “Tetapi, aku tahu Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit membelaku di atas bumi. Juga sessudah kulit tubuhku rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah. Aku akan melihat Dia memihak padaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu.” Ayub 19:25-27. Ketika Ayub bertanya meminta penjelasan, justru Allah hadir mendampinginya ketimbang memberi jawaban filosofis-teologis.
Dalam hustle culture: seseorang membangun paradigma berpikir bahwa “kesuksesan didapat dengan semakin keras, lama dan terus-menerus bekerja”. Nilai diri seseorang diukur dari apa yang dicapai dan bukan dari siapa dirinya. Tidak heran orang ini rela mengorbankan kehidupan pribadi, keluarga, kesehatan bahkan spiritualitasnya demi pencapaian tersebut.
Polanya berpikirnya menjadi: Saya bekerja à saya berhasil à saya berharga.
Manusia mencoba memperoleh rasa berharga melalui performa. Pola ini bahwa harus produktif à harus sukses à harus terus berkembang à tidak boleh kalah à harus menghasilkan pada akhirnya burnout.
Dalam kondisi lelah kita mempertanyakan keadilan Tuhan padahal kita sudah melakukan banyak aktivitas rohani namun apa yang kita harapkan tidak menjadi kenyataan. Kehidupan spiritualitas kita menjadi hambar dan kita merasa semakin jauh dari Allah. Kecemasan, kekuatiran dan ketakutan menjadi konsumsi harian kita karena komunitas sekitar berujar bahwa: “Kita kurang disiplin, kurang bersyukur, kurang beriman dan kurang bekerja keras.”
Jadi, “Apakah penderitaan ini benar-benar kehendak Tuhan, atau merupakan akibat dari struktur kehidupan yang telah dibentuk manusia?” Sebuah struktur seperti: pilihan manusia, ketidakadilan sosial, sistem ekonomi, budaya kompetisi, relasi yang abusif, eksploitasi, keserakahan, bahkan cara kita yang salah dalam mendefinisikan keberhasilan yang pada gilirannya menciptakan theodisi yang mengakar pada teologi sekuler yang seharusnya dibenahi.
Padahal dalam budaya Kristiani, logikanya justru terbalik: Saya telah dikasihi dan diterima Allah à karena itu saya bekerja dan berkarya sebagai ungkapan syukur! Jadi kita perlu membedakan antara penderitaan dan kehendak Allah. Contoh kasus Yesus yang menderita di salib, sebuah penderitaan ekstrim yang dipakai Allah untuk menghadirkan penebusan. Allah dapat membawa kebaikan keluar dari penderitaan. Allah tidak perlu membuat penderitaan demi sebuah kebaikan. Kalau semua penderitaan dianggap baik karena “Tuhan menghendakinya”, maka kita kehilangan keberanian untuk melawan ketidakadilan. Tetapi kalau kita percaya Allah dapat bekerja di tengah penderitaan, kita tidak akan kehilangan pengharapan.
Seperti permohonan Yesus di Getsemani:”Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini berlalu dari hadapan-Ku, tetapi janganlah seperti yang Ku-kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Kedua kalinya Yesus berujar, “Ya, Bapa-Ku, jikalau cawan ini tidak mungkin berlalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” Ada sebuah interaksi batin dalam doa Yesus, persis seperti kita yang mempertanyakan di mana keadilan Allah di tengah penderitaan mental kita? Untuk memahami penderitaan kita perlu bertanya, “Bagaimana saya memahami Allah ketika realitas hidup tidak sesuai dengan apa yang saya yakini tentang Allah?”
Jadi orang beriman akan berkata: “Saya tidak mengerti mengapa ini terjadi, tetapi saya tetap percaya bahwa Allah tidak meninggalkan saya di dalamnya.”
Dalam Roma 8:28 kita tahu bahwa Dia turut bekerja dalam segala sesuatu demi kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Allah, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya. Oleh karena itu kita wajib merespon bahwa “Penderitaan itu nyata, ketidakadilan itu harus dilawan, penyebabnya tidak selalu dapat dipahami, tetapi Allah hadir dan karya penebusan-Nya belum selesai.” Jadi sebagai orang Kristen “mengeluh” sambil menantikan penebusan karena menderita adalah hal wajar. Jadi, orang beriman boleh mengeluh, bertanya, menangis, bahkan mempertanyakan Tuhan—tanpa harus kehilangan iman.
Jadi Theodisi tidak selalu berakhir pada jawaban “mengapa”, tetapi pada pertanyaan “di mana Allah ketika manusia menderita?” Dan Injil menjawab: Allah bukan hanya berdiri jauh mengamati penderitaan; di dalam Kristus, Ia masuk ke dalam penderitaan manusia. Sebuah jawaban eksistensial: Allah hadir di dalam penderitaan dan membuka jalan menuju penebusan.
Jika anda membutuhkan konsultasi teologi,
silakan mengirim pertanyaan ke sekretariat yapama WA: 0811-8888-804