
Setiap kali kurikulum berubah, perhatian kita hampir selalu tertuju pada materi pelajaran, buku teks, asesmen, administrasi guru, atau model pembelajaran yang baru. Semua itu memang penting. Namun, ada satu pertanyaan yang justru jarang kita ajukan: Mau dibawa ke mana murid-murid kita? Pertanyaan ini tampak sederhana, padahal di dalamnya tersimpan arah seluruh pendidikan.
Kalau tujuan pendidikan hanya agar peserta didik menguasai materi pelajaran, maka sekolah cukup mengajarkan sebanyak mungkin pengetahuan. Tetapi apabila tujuan pendidikan adalah mempersiapkan manusia menghadapi dunia yang terus berubah, maka materi saja tidak pernah cukup. Di sinilah pendidikan perlu kembali bertanya, bukan hanya apa yang dipelajari murid, tetapi akan menjadi manusia seperti apa mereka kelak.
Dunia Berubah Lebih Cepat daripada Sekolah
Tidak seorang pun mengetahui secara pasti seperti apa dunia dua puluh tahun mendatang. Sebagian pekerjaan yang hari ini kita kenal mungkin akan hilang. Sebaliknya, akan lahir profesi-profesi baru yang bahkan belum pernah kita bayangkan. Kalau demikian, apakah masuk akal apabila sekolah hanya mempersiapkan anak-anak untuk dunia yang sudah ada hari ini?
Anak-anak kita tidak sekadar akan menghadapi perubahan; mereka akan hidup di dalam perubahan. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan jawaban atas persoalan yang sudah dikenal. Pendidikan harus mempersiapkan mereka menghadapi persoalan yang belum pernah muncul.
Ketika Materi Menjadi Tujuan
Selama bertahun-tahun pendidikan kita sering menempatkan materi sebagai pusat pembelajaran. Guru merasa berhasil apabila seluruh materi selesai diajarkan, sementara siswa dianggap berhasil apabila mampu mengingat kembali materi tersebut pada saat ujian. Padahal materi bukanlah tujuan pendidikan, melainkan sebuah wahana belajar.
Melalui materi itulah peserta didik belajar berpikir, bertanya, menyelidiki, berdiskusi, mengambil keputusan, memecahkan masalah, bekerja sama, serta membangun cara belajar yang akan mereka gunakan sepanjang hidupnya. Ketika materi berubah menjadi tujuan, pembelajaran mudah berhenti pada hafalan. Tetapi ketika materi diposisikan sebagai wahana, pembelajaran mulai membangun kompetensi dan kapabilitas.
Kegelisahan yang Telah Lama Menyertai
Pertanyaan ini sebenarnya telah lama menggelisahkan saya. Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, ketika menempuh studi doktoral, saya menggugat paradigma pendidikan yang saat itu sangat kuat. Keberhasilan pendidikan sering diukur dari sejauh mana lulusan mampu bekerja secara linear, sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya. Namun, semakin saya mengamati dunia kehidupan, semakin saya melihat kenyataan yang berbeda.
Kehidupan tidak berjalan secara linear. Perubahan sosial, perkembangan ilmu pengetahuan, dan kemajuan teknologi terus melahirkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah diajarkan secara langsung di ruang kelas. Karena itulah saya mengembangkan gagasan tentang transfer of learning.
Bagi saya, transfer of learning bukan sekadar kemampuan menggunakan pengetahuan pada situasi baru — itu baru langkah awal. Transfer of learning adalah kemampuan mentransfer kompetensi, cara berpikir, strategi pemecahan masalah, kreativitas, dan pengalaman belajar ke dalam tantangan-tantangan baru, bahkan pada bidang atau disiplin ilmu yang berbeda dari bidang yang pernah dipelajari. Di sinilah letak perbedaan antara kompetensi dan kapabilitas. Kompetensi membuat seseorang mampu melakukan suatu pekerjaan dengan baik, sedangkan kapabilitas membuat seseorang mampu membawa kompetensi itu ke mana pun kehidupan membutuhkannya.
Pendidikan Tidak Cukup Mencetak Pegawai
Barangkali di sinilah kita perlu melakukan refleksi bersama. Apakah pendidikan hanya bertugas menghasilkan lulusan yang siap mengisi pekerjaan yang telah tersedia? Ataukah pendidikan seharusnya menghasilkan manusia yang mampu menciptakan peluang baru, mengembangkan inovasi baru, memecahkan persoalan baru, bahkan memasuki bidang-bidang yang sama sekali berbeda?
Dalam realitasnya, kita bisa melihat seorang insinyur pertanian dapat memimpin lembaga keuangan, seorang sarjana pendidikan dapat menjadi pengembang teknologi instruksional, atau seorang insinyur dapat menjadi inovator sosial. Keberhasilan mereka bukan terutama karena pernah mempelajari semua bidang itu di bangku kuliah, melainkan karena mereka memiliki kemampuan mentransfer kompetensinya ke dalam tantangan-tantangan baru, bahkan pada bidang atau disiplin ilmu yang berbeda dari yang pernah mereka tekuni. Inilah yang semakin dibutuhkan dunia saat ini.
Dari Linearitas Menuju Divergenitas
Selama bertahun-tahun pendidikan lebih banyak dibangun di atas paradigma linear: belajar A, bekerja di A, dan berkembang di A. Padahal kehidupan tidak selalu bergerak seperti itu.
Pendidikan perlu mulai membangun divergenitas, yaitu kemampuan mengembangkan dan mentransfer kompetensi ke berbagai konteks kehidupan yang berbeda. Bukan berpindah tanpa dasar, tetapi bertumbuh karena memiliki fondasi berpikir yang kuat. Inilah yang memungkinkan seseorang terus belajar, beradaptasi, dan berkarya sepanjang hayat.
Mau Dibawa Kemana Murid Kita?
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar pendidikan bukanlah berapa banyak materi yang telah diselesaikan, bukan pula berapa tinggi nilai ujian yang berhasil dicapai. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: Apakah sekolah sedang mempersiapkan anak-anak untuk dunia yang kita kenal hari ini, atau untuk dunia yang belum kita kenal?
Kalau pendidikan hanya menyiapkan mereka menjadi pegawai yang menguasai pekerjaan yang sudah ada, pendidikan akan selalu tertinggal oleh perubahan. Tetapi apabila pendidikan membangun manusia yang mampu berpikir, belajar, mentransfer kompetensi, beradaptasi, berinovasi, dan memecahkan persoalan dalam berbagai konteks kehidupan, maka kita sedang menyiapkan generasi yang bukan hanya siap menghadapi masa depan, tetapi juga mampu menciptakan masa depan.
Sebab tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan lulusan yang kompeten dalam satu bidang. Tujuan pendidikan adalah membangun manusia yang memiliki kapabilitas untuk mentransfer kompetensinya ke berbagai bidang kehidupan, menghadapi tantangan yang belum pernah ada, dan menciptakan masa depan yang lebih baik daripada yang kita warisi hari ini.
Mungkin, inilah saatnya kita kembali bertanya kepada diri sendiri: Sebenarnya, mau kita bawa ke mana murid-murid kita?
YMP
Malang, 3 Juli 2026
Rujukan
Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. New York: Herder and Herder.
Morin, E. (2001). Seven Complex Lessons in Education for the Future. Paris: UNESCO.
OECD. (2018). The Future of Education and Skills: Education 2030. OECD Publishing.
Perkins, D. N., & Salomon, G. (1992). Transfer of learning. International Encyclopedia of Education, 2, 2-10.
Stephenson, J. (1998). The Concept of Capability and Its Importance in Higher Education. Dalam J. Stephenson & M. Yorke (Eds.), Capability and Quality in Higher Education. London: Kogan Page.
Tulisan ini sangat membuka cara pandang saya. Selama ini memang kita sering sibuk mengejar target materi. Menurut Bapak, bagaimana sekolah dapat mulai mengukur kapabilitas siswa, bukan hanya kompetensinya?
Terima kasih, hari ini saya memulai membicarakan dan melatihkan hal tsb sd Jumat di sekolah Kristen di Pekanbaru. Cukup panjang dan dalam Pak. Moga kelak ketemu Bapak untuk bisa memapsrkan apa, mengapa, dan bagaimananys. GB.
Saya setuju bahwa pendidikan harus mempersiapkan anak menghadapi masa depan yang belum kita kenal. Akan menarik jika pada tulisan berikutnya penulis memberikan contoh penerapan konsep transfer of learning di sekolah dasar. Terima kasih atas inspirasinya.
Artikel ini membuat saya banyak merenung sebagai orang tua. Bagaimana peran keluarga agar proses transfer of learning juga dapat terjadi di rumah, bukan hanya di sekolah?
Sangat setuju bahwa materi hanyalah wahana belajar. Semoga ke depan penulis juga membahas strategi pembelajaran yang paling efektif untuk membangun kemampuan berpikir kritis siswa.
Saya menyukai bagian tentang divergenitas. Selama ini memang banyak lulusan yang takut keluar dari bidang studinya. Menurut penulis, apakah perguruan tinggi juga perlu mengubah sistem kurikulumnya agar lebih fleksibel?
Tulisan yang sangat reflektif. Saya penasaran, bagaimana cara guru tetap memenuhi tuntutan kurikulum tetapi sekaligus membangun kapabilitas murid? Rasanya ini menjadi tantangan terbesar saat ini.
Terima kasih atas perspektif yang sangat segar. Saya berharap penulis juga mengulas bagaimana dunia industri dapat bekerja sama dengan sekolah untuk menumbuhkan kemampuan adaptasi peserta didik.
Saya menikmati alur tulisan ini. Pesannya sangat kuat. Mungkin akan lebih menarik bila pada artikel selanjutnya ditambahkan contoh praktik sekolah yang sudah berhasil menerapkan gagasan tersebut.
Saya menikmati alur tulisan ini. Pesannya sangat kuat. Mungkin akan lebih menarik bila pada artikel selanjutnya ditambahkan contoh praktik sekolah yang sudah berhasil menerapkan gagasan tersebut.
Betul sekali, dunia berubah jauh lebih cepat daripada sekolah. Pertanyaan saya, apakah sistem evaluasi nasional saat ini sudah cukup mendukung lahirnya peserta didik yang adaptif?
Gagasan mengenai kapabilitas sangat menarik. Saya berharap penulis suatu saat menjelaskan perbedaan kompetensi dan kapabilitas dengan contoh yang lebih banyak agar mudah dipahami guru di lapangan.
Artikel yang sangat baik. Saya jadi bertanya-tanya, apakah pelatihan guru saat ini sudah cukup membekali mereka untuk membangun kemampuan berpikir tingkat tinggi pada siswa?
Saya setuju bahwa pendidikan tidak boleh hanya mencetak pegawai. Menurut penulis, bagaimana sekolah dapat menumbuhkan keberanian berinovasi tanpa mengabaikan karakter dan etika?
mantap sekali pemikiran ini pak…terkadang menjadi dilema kemana anak anak ini akan dibawa di era global nanti yang mana jenis pekerjaan pun sudah tidak lagi sma sepperti dulu, bahkan yang tidak sekolah pun sudah bisa menghaslkan uang sendiri jadi tidak perlu bekerja formal dibawah perusahaan. Yang terpenting adalah pribadi yang tetap mengandalkan Tuhan dalam hidupnya.
Tulisan ini memberikan prespektif yang segar bagi saya. Selama ini saya sebagai guru sering sibuk mengejar materi. Tulisan ini membuka dan mengubah cara pandang saya untuk membuat materi sebagai wahana pembelajaran sehingga murid bertumbuh membangun kompetensi menjadi kapabilitas. Saya sangat bersyukur karena dapat bertemu langsung dengan Bapak penulis, dimana dalam 3 hari ini Bapak memberikan pelatihan di sekolah kami di Pekanbaru. Materi pelatihannya termasuk apa yang disampaikan dalam tulisan ini.
Terima kasih Pak, teruslah berkarya, dan sehat selalu.
Tulisan ini sangat menarik. Selama ini saya sebagai guru sering mengutamakan materi. Tulisan ini membuka dan mengubah cara pandang saya untuk membuat materi sebagai wahana pembelajaran sehingga murid bertumbuh membangun kompetensi menjadi kapabilitas. Saya sangat bersyukur karena dapat bertemu langsung dengan Bapak penulis, dimana dalam 3 hari ini Bapak memberikan pelatihan di sekolah kami di Pekanbaru. Materi pelatihannya termasuk apa yang disampaikan dalam tulisan ini.
Terima kasih Pak, teruslah berkarya, dan sehat selalu.
Artikel ini menggugah pembaca merenungkan secara mendalam mau dibawa kemana murid kita ini, khususnya sebagai guru kristen. Materi bukanlah fokus tapi kapabilitas untuk mampu mrnghadapi dunia nyata dengan segala perubahannya. Kita sebagai guru siapkah kita memfokuskan pembelajaran kita pada kapabilitas?
Artikel ini menggugah pembaca merenungkan secara mendalam mau dibawa kemana murid kita ini, khususnya sebagai guru kristen. Materi bukanlah fokus tapi kapabilitas untuk mampu mrnghadapi dunia nyata dengan segala perubahannya. Kita sebagai guru siapkah kita memfokuskan pembelajaran kita pada kapabilitas?
Tulisan ini sangat menginspirasi saya untuk berubah, tidak mengutamakan materi lagi, tetapi membuat materi menjadi wahana pembelajaran sehingga murid bertumbuh membangun kompetensi dan kapabilitas. Saya bersyukur karena bisa bertemu langsung dengan Bapak penulis, dimana dalam 3 hari ini Bapak memberikan pelatihan di sekolah kami di Pekanbaru. Terimakasih Pak Mul, teruslah berkarya, menginspirasi, dan sehat selalu ya Pak.
Hello There. I found your blog using msn. This is a really well wrіtten articlе.
I will be ѕure to bookmark it and come back to read more of
youг useful info. Thanks for the post. I’ll certainly return.
Here iѕ my web bⅼog: fintechbase
Lagi-lagi tulisannya senantiasa menginspirasi. Semoga pendidikan saat ini mampu memperlengkapi murid-murid menjadi navigator-navigator masa depan yang handal bahkan menciptakan masa depan itu sendiri dan menjadi semakin memuliakan Sang Pencipta.
Сезонные акции Вавада отличаются особой щедростью. Ссылка vavada регистрация ведёт на официальный ресурс. Кэшбэк приходит на счёт без дополнительных условий. Каждая акция — шанс увеличить банкролл.