Home > Konsultasi Theologi

Tantangan Teknologi dan Kecerdasan Buatan (AI)

Bapak Pengasuh,

Saya ingin bertanya dalam konteks perkembangan digitalisasi melalui penggunaan AI.

• Bagaimana teologi memandang kesadaran pada mesin dan AI, dan apakah manusia tetap menjadi satu-satunya citra Allah (Imago Dei)?
• Bagaimana etika Kristen menjawab isu privasi, manipulasi algoritma, dan realitas virtual?

Saya menantikan jawaban Bapak, yang dapat mencerahkan pikiran kami sebagai umat Tuhan dalam menggunakan dan menghadapi perkembangan saat ini.

Salam,
Anjelo, JakBar

Jawaban

Teknologi dan kecerdasan buatan terus melesat karena ada metodologi baku yang menjadi sarana yang biasa disebut dengan algoritma sebagai sistem kerja komputer untuk menyelesaikan masalah. Komputer tahu memproses data perihal apa yang harus dilakukan, bagaimana urutannya untuk menghasilkan sesuatu yang dirancang programmer. Jadi algoritma memiliki cara kerja persis seperti otak manusia, tetapi tidak bisa menggantikan otak karena algoritma tidak punya kesadaran, emosi, serta jiwa sehingga bisa merasakan eksistensinya dan memiliki pengalaman batin.

Artificial Intelligence (AI)

AI bekerja dengan basis algoritma yang lebih adaptif ketimbang komputer konvensional yang sudah diprogram langkah-langkahnya. AI dirancang untuk bisa belajar dengan menggunakan data agar hasil bisa semakin akurat. Singkatnya, AI dilatih melalui data untuk mengenali pola kerja dan membuat prediksi sebagaimana kecerdasan otak manusia berfungsi. AI diibaratkan seperti chef yang terus belajar memperbaiki resep memasak melalui pengalaman mengolah bahan-bahan makanan sebagai data melalui proses algoritma.

Teknologi AI ini sekarang tidak lagi statis dan pasif. Ia menjadi begitu aktif dan dinamis dalam bentuk robot yang dapat membantu manusia hidup menjadi lebih baik bahkan membuat solusi lebih mudah dan lebih murah karena sudah diprogram. Dan hasilnya akan lebih presisi. Namun demikian, karena AI tidak berperasaan dan tidak memiliki emosi dan jiwa, maka apa yang seharusnya manusia pertanggungjawabkan sebagai ciptaan menurut gambar dan rupa Allah tidak dapat digantikan.

Jadi kesadaran pada mesin AI adalah hasil pelatihan dan pembelajaran bagaimana mesin itu mengolah sedemikian banyak data untuk mengambil keputusan demi hasil yang lebih baik. Namun sekali lagi, itu bukan karena kesadaran atau kehendak sebagaimana manusia miliki dalam akal yang dicipta segambar dengan Allah. Ia melakukan karena pelatihan dan pengalamannya memproses masalah setiap saat. AI pada dirinya tidak bertanggung jawab atas apa yang ia putuskan dan lakukan karena ia hanya alat atau teknologi yang membantu manusia.

Bagaimana etika Kristen menjawab isu privasi, manipulasi algoritma, dan realitas virtual?

Sejatinya hal itu akan dapat dijawab secara proporsional melalui hikmat dan pengertian setelah kita tahu bagaimana mesin algoritma bekerja. Etika Kristen adalah sistem moralitas yang menjadi panduan kehidupan yang mengakar kepada perintah Allah yang tertulis dalam Alkitab. Jadi etika Kristen adalah seperangkat aturan bagaimana orang Kristen berperilaku.

Nah, ketika etika Kristen harus menjawab isu-isu di atas seperti yang dilakukan oleh mesin AI yang nampaknya lebih cerdas dari manusia, namun sejatinya bukan manusia, kita akan mengalami kesulitan.

Alternatifnya, kita perlu membuat mesin AI yang ranah pertanyaannya bukan: “Bisa seperti apa mesin itu?” tetapi “Apa yang boleh dilakukan mesin itu?” agar hasilnya tidak diskriminatif, dapat melindungi data pribadi agar tidak disalahgunakan orang yang berniat jahat, dan pada akhirnya dapat membuat kehidupan lebih baik.

Kitab Pengkhotbah 7:29 → “Lihatlah, hanya ini yang kudapati: Allah telah menjadikan manusia yang jujur, tetapi mereka mencari banyak dalih.”

Jika mesin AI adalah alat untuk membuat manusia dengan kecanggihan teknologinya untuk “membenarkan” banyak dalih, maka teknologi AI bukanlah alat berkat, tetapi alat yang berujung pada manusia mendapatkan kutuk.

Jika anda membutuhkan konsultasi teologi,
silakan mengirim pertanyaan ke sekretariat yapama WA: 0811-8888-804

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *