Paradoks Pendidikan: Intoleransi di Sekolah Kita

Kita jarang menyebutnya secara jujur. Kita lebih suka istilah yang terdengar ringan: kenakalan remaja, konflik siswa, atau sekadar salah paham. Padahal, di balik banyak peristiwa di sekolah, ada satu kata yang sering kita hindari: intoleransi.

Kasus kekerasan di sekolah belakangan ini seharusnya tidak hanya membuat kita sedih, tetapi juga gelisah. Bukan karena peristiwanya semata, melainkan karena apa yang tersembunyi di baliknya. Sebab yang kita lihat sering kali bukan awal, melainkan puncak.

Intoleransi jarang tampil keras di awal. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk bentakan atau pukulan. Ia tumbuh pelan, hampir tak terasa. Dalam candaan yang diulang. Dalam label yang dilekatkan. Dalam cara pandang yang membedakan “kita” dan “mereka”.

Di situlah ia bekerja. Diam-diam, tetapi konsisten.

Perundungan (Bullying), Merusak Iklim Sekolah

Banyak penelitian sekarang melihat perundungan (bullying) dan kekerasan di sekolah bukan sekadar perilaku individu. Ia merupakan proses sosial yang berakar pada norma dan cara pandang bersama. UNESCO bahkan mendefinisikan perundungan sebagai proses sosial yang ditopang oleh ketimpangan kekuasaan dan norma yang hidup dalam lingkungan sekolah.

Artinya, intoleransi bukan penyimpangan kecil. Ia bagian dari sistem yang kita biarkan.

Skalanya pun tidak kecil. Data global menunjukkan bahwa sekitar satu dari tiga siswa di dunia mengalami perundungan secara rutin. Bahkan, banyak kasus terkait langsung dengan identitas -penampilan, latar belakang, atau perbedaan sosial. Dengan kata lain, anak sering diserang bukan karena apa yang ia lakukan, tetapi karena siapa dirinya.

Di titik ini, kita mulai melihat wajah asli intoleransi. Ia seperti gunung es. Yang tampak, sedikit. Namun di bawahnya, ia beku, dingin, dan keras. Dan justru karena ia dingin, ia berbahaya.

Dalam pengalaman saya berkeliling di berbagai daerah Indonesia, saya beberapa kali merasakan hal yang sederhana, tetapi mengusik. Saya dipandang sebagai “orang luar”. Ada jarak yang halus dalam interaksi. Bukan sesuatu yang kasar. Bahkan bisa ditertawakan. Tetapi terasa. Seolah-olah identitas dibaca lebih dulu, baru kemudian manusia dilihat.

Pengalaman seperti ini mungkin ringan bagi orang dewasa. Namun bayangkan jika itu dialami setiap hari oleh seorang anak di sekolah. Pelan-pelan, ia belajar satu hal: bahwa dirinya tidak sepenuhnya diterima. Di sinilah intoleransi menjadi berbahaya. Ia tidak selalu melukai secara langsung, tetapi mengikis rasa memiliki. Dan ketika rasa memiliki hilang, hubungan sosial mulai retak.

Penelitian dari OECD menunjukkan bahwa perundungan bukan hanya berdampak pada korban. Tetapi juga merusak iklim sekolah secara keseluruhan dan mengganggu kualitas pembelajaran. Bahkan dampaknya bisa meluas hingga jangka panjang – pada kesehatan mental, relasi sosial, dan kehidupan masa depan.

Lebih jauh lagi, studi menunjukkan bahwa siswa yang mengalami perundungan cenderung memiliki capaian belajar yang lebih rendah. Dan rasa keterhubungan yang lebih lemah dengan sekolah. Jadi persoalannya bukan hanya moral. Ia juga akademik. Dan bahkan struktural.

Intoleransi Tumbuh Tanpa Perhatian Serius

Namun ironisnya, intoleransi justru sering tidak menjadi fokus utama kebijakan pendidikan. Kita sibuk membicarakan kurikulum, asesmen, dan capaian belajar. Sementara itu, ruang sosial tempat intoleransi tumbuh berjalan tanpa perhatian serius.

Kita memperbaiki apa yang terlihat. Tetapi membiarkan yang mendasar tetap retak.

Padahal intoleransi tidak pernah berdiri sendiri. Ia dibentuk oleh ekosistem. Di rumah, anak belajar dari cara orang tua berbicara tentang orang lain. Di masyarakat, ia belajar dari siapa yang dianggap “normal” dan siapa yang “berbeda”. Di sekolah, ia belajar dari apa yang diajarkan – dan yang dibiarkan. Di media, ia menemukan penguatan dari algoritma yang menyempitkan pandangan. Semua ini saling menguatkan.

Ketika lingkungan-lingkungan ini bergerak dalam arah yang sama, satu hal terjadi: empati membeku. Siswa tidak lagi melihat teman sebagai individu. Mereka melihat label. Perbedaan tidak lagi dipahami, tetapi dikategorikan. Dalam kondisi seperti ini, intoleransi tidak lagi terasa salah. Ia menjadi “normal”. Dan ketika sudah sampai di titik itu, kekerasan tinggal menunggu waktu.

Itulah sebabnya intoleransi adalah bom waktu. Ia tidak meledak setiap hari. Tetapi ketika meledak, dampaknya selalu membuat kita bertanya: bagaimana ini bisa terjadi? Jawabannya sederhana, meski tidak nyaman: karena kita membiarkannya tumbuh.

Karena itu, kita tidak bisa lagi menempatkan intoleransi sebagai isu pinggiran. Ia harus menjadi pusat perhatian dalam pendidikan. Bukan hanya sebagai sekedar materi, tetapi sebagai praktik sehari-hari.

Intoleransi Ancaman Utama Di Sekolah

Sekolah perlu menjadi ruang perjumpaan yang nyata dengan perbedaan. Bukan sekadar menerima, tetapi mengolahnya. Guru perlu didukung untuk tidak hanya mengajar, tetapi juga menunjukkan bagaimana menghargai perbedaan secara konkret.

Kebijakan pendidikan juga perlu bergeser. Rasa aman harus dimaknai secara utuh – bukan hanya bebas dari kekerasan fisik, tetapi juga bebas dari rasa terasing.

Di sisi lain, keluarga dan masyarakat tidak bisa dilepaskan. Intoleransi tidak lahir di sekolah, tetapi sekolah bisa menjadi tempat ia dipatahkan – jika kita sungguh-sungguh menghendakinya.

Pada akhirnya, kita kembali pada pertanyaan paling dasar: apa tujuan pendidikan?

Jika pendidikan hanya tentang pengetahuan, maka intoleransi mungkin akan terus kita anggap sebagai gangguan kecil. Namun jika pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, maka intoleransi adalah ancaman utama.

Ia mungkin tidak selalu terlihat. Ia sering terasa sepele. Namun seperti gunung es, ia beku, dingin, dan menyimpan daya rusak yang besar. Dan jika kita terus menundanya, suatu saat, ia tidak lagi diam.

YMP

Malang, 2 April 2026

Referensi:

Espelage, D. L., & Swearer, S. M. (2010). A social-ecological model for bullying prevention and intervention: Understanding the impact of adults in the social ecology of youngsters. Handbook of bullying in schools: An international perspective, 61–72.

OECD. (2019). PISA 2018 results (Volume III): What school life means for students’ lives. Paris: OECD Publishing.

UNESCO. (2019). Behind the numbers: Ending school violence and bullying. Paris: UNESCO.

UNESCO. (2020). School violence and bullying: Global status report. Paris: UNESCO.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *