
Akhir-akhir ini juga ramai dibicarakan tentang politik ”Jaga Image”, di mana seorang pejabat dituduh terlalu memfokuskan pada menjaga citra pribadinya sebagai seorang pejabat. Isti-lahnya politik ’pencitraan’. Akibat politik pencitraan yang berlebihan tersebut sang pejabat malahan dicerca dan dihujat habis-habisan sebagai pejabat yang yang berlebihan dalam menjaga penam-pilannya bahkan disebutkan sebagai pejabat ’tukang curhat’ (mencurahkan isi hati ke publik).
Si peminjam jadi bingung, lho kan saya sudah bicara langsung, kok malah diminta menulis surat resmi segala. Karena si peminjam tahu betul, bahwa organisasi PD tersebut merupakan organisasi yang sangat sederhana, jadi sebenarnya birokrasi surat-menyurat yang menghambat dan menyulitkan proses peminjaman sama sekali tidak diperlukan. Namun karena butuh, dan peralatan tadi dikuasai pegawai pengurus tadi, terpaksa sang peminjam mengetik surat dan menyerahkannya kepada si pengurus. ”Hih, sebel deh gue – ”jaim” bener tuh si ’X’ . Mana gue lagi buru-buru, waktu acara sudah mepet dan gue harus menyiapkan yang lain, eh dia minta surat segala. Lagian tuh surat buat apaan ya, palingan juga disimpan dalam laci,” gerutu si peminjam.
Seringkali kata-kata nyinyir yang diucapkan sang bos itu sangat pedas dan bikin telinga merah. Ada kesan sang pemimpin sedikit mengadu domba pihak yang sedang berseberangan. ”Wah, Pak Bodan, maksud Jeng Sri ini kan membodoh-bodohkan Bapak. Lihat nih, urutan detail yang disampaikan Jeng Sri ….., ini sih jelas maksudnya Pak Bodan yang goblok…”.
”O, rupanya karena Mas Bodan itu ada di bawah supervisi beliau langsung, maka setiap pendapat kurang memuaskan perihal sesuatu di wilayah kerja beliau dampaknya bisa mempengaruhi langsung ’image’ sang bos. Karena laporan tersebut akan beredar di ’high level” Mas. Jadi beliau takut dicap tidak bisa ’mengontrol’ bawahannya dengan baik”. ” Sampai sekarang Pak Bodan masih berpendapat saya menusuknya dari belakang Mas, emang ”jaim” banget deh si bos yang itu Mas,” lanjut Jeng Sri.
Menjaga image atau citra diri, memang penting. Tapi haruskah demi menjaga image kita harus mengorbankan pihak lain, mengadu domba pihak lain atau membuat keputusan-keputusan yang mengambang sehingga membingungkan banyak pihak? Pemimpin kristiani, marilah kita kembangkan citra diri dan harga diri yang positif berdasarkan firman Tuhan, bukan dengan mengguna-kan cara-cara dunia yang seringkali merugikan orang lain bahkan diri kita sendiri. Kita perlu mencatat kembali bahwa rancangan Tuhan bagi kita adalah: (i) Kita adalah orang yang berharga di mata Tuhan; (ii) Tuhan menjadikan kita insan ilahi yang tidak terpisahkan dari diri-Nya; (iii) Tuhan menjadikan kita partner-Nya; (iv) Tuhan memilih kita untuk berbuah banyak; (v) Tuhan selalu beserta dengan kita betapa pun sulitnya keadaan kita; (vi) Tuhan menga-runiai kita dengan kemampuan yang unik, dan meminta kita meng-gunakan kemampuan itu untuk kemuliaan-Nya; (vii) Sadari karunia yang sudah diberikan, bersyukurlah dan kembangkan karunia tersebut untuk mencapai tujuan-tujuan yang terbaik untuk kemulian Tuhan.
Rekan Pemimpin, menyadari betapa kita sudah dirancang sedemikian rupa, maka kita perlu menyadari bahwa citra diri kita atau image kita adalah ’sudah positif’ sesuai pencipta-Nya. Jadi tidak perlu menggunakan cara-cara ’tidak halal’, cara-cara yang merugikan orang lain dan memperkeruh suasana hanya untuk sekadar ‘jaim’.v