
“Dia yang membuat para pembesar menjadi tidak ada dan yang menjadikan para hakim dunia sia-sia. Baru saja mereka ditanam, baru saja mereka ditabur, baru saja batang mereka berakar di dalam tanah, ditiup oleh-Nya sehingga mereka kering, dan badai menerbangkan mereka seperti jerami.” (Yesaya 40:23-24)
Panggung politik nasional kita hari ini sering mempertontonkan sebuah realitas yang sangat dinamis, cair, sekaligus mengejutkan. Di gedung parlemen Senayan maupun di lingkaran kabinet pemerintahan, kita menyaksikan bagaimana formasi kepemimpinan dapat bergeser dalam hitungan hari, bahkan jam. Dalam dunia bisnis dan pelayanan, pergantian posisi pimpinan pun terus saja terjadi.
Bagi mata sekuler, fenomena kejar-mengejar posisi ini adalah hal yang lumrah demi mengamankan kepentingan taktis. Namun, baik kita yang memimpin di ranah politik, di sebuah perusahaan swasta, bekerja di instansi pemerintahan, mengelola yayasan, maupun melayani di gereja, dinamika pergeseran posisi yang bergerak cepat ini menyingkapkan sebuah kebenaran: kekuasaan manusia itu fana, rapuh, dan sementara. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak ada “kursi empuk” yang abadi di bawah kendali manusia. Ketika konstelasi kepentingan bergeser—entah karena perubahan struktur manajemen korporat, pergantian kepengurusan yayasan, atau keputusan sinode—mandat kita bisa dicabut seketika. Ada ungkapan bijak, “Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya.”
Natur organisasi yang serba tidak pasti ini berbenturan keras dengan kecenderungan dasar manusia yang selalu mencari rasa aman pada jabatan dan privilese. Ketika seorang pemimpin mulai mengidentifikasi harga dirinya dari ruang kerja yang mewah, plat nomor kendaraan dinas, fasilitas tunjangan, atau rasa hormat yang dituntut dari bawahan, sesungguhnya ia sedang membangun rumah di atas pasir. Yesaya 40:23-24 mengingatkan kita bahwa di hadapan Allah, para pembesar di dunia ini seperti jerami yang mudah kering dan diterbangkan badai. Baru saja mereka merasa “ditanam” dan “berakar” di atas kursi kekuasaan, embusan angin perubahan seketika dapat menghempaskan mereka.
Dari sudut pandang iman Kristen, jabatan politik, posisi struktural di dunia profesional, maupun kedudukan di dalam pelayanan bukanlah sebuah hak milik yang harus dipertahankan dengan segala cara, melainkan sebuah “penugasan sementara” untuk dipertanggungjawabkan. Tuhan menempatkan kita di satu posisi bukan untuk membangun kerajaan pribadi atau menimbun prestise, melainkan untuk menuntaskan sebuah mandat pelayanan khusus. Pemimpin Kristen yang sejati harus memimpin dengan kesadaran penuh bahwa setiap waktu posisinya bisa digantikan oleh strategi manajemen yang baru, perombakan organisasi, atau keputusan sepihak dari otoritas di atasnya. Kesadaran akan kefanaan kekuasaan ini seharusnya mengubah total cara kita memimpin hari ini.
Pertama, mari kita beralih dari melakukan pengamanan posisi ke penuntasan tugas. Jangan kita habiskan energi kepemimpinan kita untuk bermanuver mengamankan kursi, berpolitik kantor, atau sibuk mencari muka agar tidak digeser. Mari fokus pada integritas pribadi dan dampak nyata. Jika waktu kita di satu posisi hanya singkat, pastikan setiap kebijakan dan keputusan yang kita ambil selama masa jabatan itu benar-benar mendatangkan keadilan dan menjadi berkat bagi organisasi dan orang-orang yang dilayani.
Berikut, mari kita menolak mentalitas kompromi demi jabatan. Ketika pergeseran posisi dipicu oleh lobi-lobi transaksional atau tekanan struktur, godaan untuk berkompromi terhadap standar moral akan sangat kuat. Pemimpin Kristen yang paham bahwa bos tertingginya adalah Tuhan tidak akan takut kehilangan jabatan demi mempertahankan kebenaran. Kita tahu kapan harus bersikap lentur dalam strategi organisasi, tetapi kita harus berdiri tegak seperti batu karang ketika tiang integritas ditantang.
Dan, mari kita menaruh jati diri pada kedudukan di Kerajaan yang kekal, tidak di posisi di bumi ini. Rasa aman seorang pemimpin Kristen tidak boleh bergantung pada kartu nama, gelar, atau posisi di bagan organisasi. Jati diri kita yang sesungguhnya ada pada status kita sebagai “petugas” Kerajaan Allah. Ketika partai, manajemen perusahaan, atau sistem sekuler, bahkan organisasi pelayanan, memutuskan untuk merotasi, mendemosi, atau memberhentikan kita, kita dapat melangkah keluar dengan kepala tegak dan hati yang damai, karena kita tahu kedudukan kita di dalam Tuhan tidak pernah bisa digeser oleh keputusan rapat paripurna maupun rapat pemegang saham mana pun.
Pada akhir kata, perubahan formasi politik yang cepat di negeri ini, begitu pula dinamika di dunia kerja dan pelayanan kita, adalah alarm pengingat bagi setiap kita. Kekuasaan duniawi memiliki masa berlaku, tetapi dampak dari kepemimpinan yang berintegritas akan bergema sampai ke kekekalan. Mari kita pimpin setiap ranah yang Tuhan percayakan saat ini—baik di parlemen, perusahaan, pemerintahan, maupun pelayanan—bukan dengan ketakutan kehilangan posisi, melainkan dengan keberanian seorang hamba yang rindu menuntaskan tugas dari Tuan-Nya. Sebab ketika badai dunia menerbangkan jerami kekuasaan, hanya karakter yang berakar di dalam Kristus yang akan tetap berdiri teguh. Tuhan Yesus memberkati!