
Syalom Pak Pendeta,
Saya ingin bertanya
- Apakah neraka merupakan hukuman yang adil?
- Apa tujuan hidup yang sejati di tengah budaya materialisme dan budaya anti-kekristenan yang semakin kuat?
- Apakah mungkin bagi manusia untuk benar-benar hidup tanpa dosa dalam kehidupan sehari-hari?
Terima kasih Pak, saya merindukan jawaban bapak dapat mencerahkan kami sebagai umat.
Samuel, Tangerang
Samuel yang dikasih Tuhan, secara umum (KBBI), manusia memahami bahwa neraka adalah “Alam akhirat”: Tempat bagi orang kafir dan orang durhaka mengalami siksaan dan kesengsaraan. Menurut Alkitab, neraka adalah tempat hukuman kekal bagi Iblis, malaikatnya, dan mereka yang menolak keselamatan dari Tuhan. Artinya inilah tempat Pelabuhan siksaan, kesengsaraan dan hukuman kekal dari setiap individu yang melawan dan menolak Tuhan dalam hidup ini.
Pertanyaannya:
- Apakah Neraka merupakan hukuman adil?
Menarik untuk dicermati. Kecenderungan manusia berdosa adalah senang berbuat dosa. Aturan dan hukuman sering kali dianggap tidak tepat dan tidak manusiawi. Itulah mengapa, kesalahan dan hukuman bisa dibeli dan diputarbalikkan. Bahkan atas dasar hak asasi manusia (HAM), hukuman diringankan bahkan diabaikan, sebaliknya perbuatan dosa diterima.
Hak asasi manusia, memang dijamin oleh undang-undang, tetapi berbeda dengan neraka yang menjadi tempat penghukuman Tuhan. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala” (Matius 5:22).
Neraka, tidak bisa ditawar atau disogok, apalagi diputarbalikkan. Neraka adalah kepastian hukuman, maka tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun manusia di dunia ini. Neraka adalah tempat penghukuman Allah, bagi manusia yang menolak kebenaran. “Kemudian maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: Lautan api. Setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu”(Wahyu 20:14-15)
Dengan demikian, pola pikir manusia yang sudah tercemar dosa, sering kali menganggap neraka adalah ketidakadilan Allah bagi ciptaannya, tetapi harus disadari bahwa dalam Allah tidak mungkin tersimpan ketidakadilan. Mengapa? Karena Allah adalah yang adil, maka, neraka adalah hukuman yang adil bagi manusia yang menolak dan melawan-Nya.
- Apa tujuan hidup yang sejati di tengah budaya materialisme dan budaya anti-kekristenan yang semakin kuat?
Manusia diciptakan Tuhan untuk tujuan mulia, yaitu hidup benar di hadapan Tuhan. Namun kejatuhan manusia dalam dosa, membuat manusia kehilangan tujuan sejatinya, bukan lagi hidup benar di hadapan Tuhan, tetapi hidup benar menurut pandangannya sendiri. Semua tertuju pada diri, Tuhan pun diabaikannya. Apalagi hidup di zaman sekarang ini, hidup di tengah budaya materialisme, semua tertuju pada hal-hal materi, yang dapat dilihat dan dirasakan.
Alkitab menuliskan: “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”(Matius 6:21). Dunia dan keinginannya begitu menarik bagi manusia, maka dengan perlahan dan pasti, manusia kehilangan tujuan hidup yang sejati.
Yakobus menyampaikan dalam suratnya: “Jadi, sekarang, hai kamu yang berkata, “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”(Yakobus 4:13). Ayat ini, menjelaskan bagaimana manusia berpusat pada keuntungan diri dan bukan lagi pada kehendak Tuhan. Padahal, manusia itu tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada dirinya. “sedangkan kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap”(Yakobus 4:14). Hal ini mau mengingatkan bagi kita, manusia itu sangat rapuh dan sombong, sampai lupa jati dirinya yang sejati.
Manusia yang sejati pasti tahu tujuan hidup yang sejati. “Sebenarnya kamu harus berkata, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”(Yakobus 4:15). Ayat ini menerangkan bagi kita bahwa, tujuan hidup yang sejati adalah Tuhan dalam hidup ini, sehingga apa pun yang kita lakukan di tengah budaya materialisme dan anti kekristenan, kita tidak menjadi salah dan terbawa arus kehidupan modern yang keliru. Tetapi justru sebaliknya, orang Kristen harus semakin mengerti tujuan hidupnya, yaitu untuk menjalankan tujuan Tuhan: memuliakan-Nya senantiasa.
- Apakah mungkin bagi manusia untuk benar-benar hidup tanpa dosa dalam kehidupan sehari-hari?
Awal kehidupan manusia tercipta dalam kesempurnaan. Adam dan Hawa sebelum jatuh ke dalam dosa, mereka ‘bisa berdosa (posse peccare)’ dan ‘bisa tidak berdosa (posse non peccare)’. Namun kejatuhan manusia dalam dosa, membuat manusia tidak bisa tidak berdosa (non posse non peccare), dengan kata lain semua hidup dalam dosa. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23).
Merupakan hal yang sulit bagi manusia untuk hidup tanpa berbuat dosa. Namun kehadiran Kristus telah menjamin manusia bebas dan menang atas kuasa dosa, sekali dan selamanya. Manusia berdosa yang percaya pada Kristus telah ditebus dari hukuman dosa. Namun, tetap berdiam tubuh yang melekat dengan segala keinginan daging. Inilah perjuangan seumur hidup antara daging (tubuh dosa) dan Roh (hidup dipimpin Roh Kudus).
Kehidupan orang percaya dalam Kristus, yang telah ditebus dan menang atas kuasa dosa, ‘mampu untuk tidak berdosa (posse non peccare)’. Sebagaimana Kristus hidup tanpa dosa, demikian juga manusia dituntut untuk hidup benar di hadapan Tuhan oleh karya Roh Kudus yang tinggal dalam hidup orang percaya.
Inilah arti hidup dalam anugerah, diberi kemampuan untuk hidup tidak berdosa. Kata Yesus kepada perempuan berdosa dalam Kitab Yohanes 8:11: ”Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Hidup sebagai orang percaya, harusnya tidak berbuat dosa lagi. Itulah yang disampaikan Yesus, ketika pengampunan telah diterima dan keselamatan kekal diberi-Nya.
Dengan demikian, adalah hal yang pasti bagi manusia yang percaya pada Kristus. Dia naik ke surga, namun Roh Kudus ditinggalkan-Nya hidup dan berdiam dalam kehidupan orang percaya untuk menjamin hidup benar. Firman-Nya menuntun untuk berjalan dalam kebenaran-Nya. Sebagaimana Rasul Yohanes menuliskan dalam suratnya: “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak terus-menerus berbuat dosa; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat terus-menerus berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah” (1 Yohanes 3:9). Tuhan memberkati.