Teolog Brilian: Paus Benediktus XVI (Joseph Aloisius Ratzinger)

Joseph Aloisius Ratzinger dikenal dengan sebutan Paus Benediktus XVI.  Tepatnya pada tanggal 19 April 2005 dilantik menjadi paus pertama dari Jerman di era modern. Ia dikenal sebagai teolog brilian yang terpilih pada usia 78 tahun, menjadikannya salah satu paus tertua saat pelantikan. Dan pada tanggal 28 Februari 2013, ia memutuskan menjadi paus pertama yang mengundurkan diri secara sukarela yang dalam 600 tahun terakhir.

Joseph Ratzinger dinilai sebagai “ahli” teologi terkemuka karena kedalaman akademisnya, kontribusinya pada dokumen Gereja, dan perannya sebagai intelektual Katolik terkemuka selama beberapa dekade. Ia sering dianggap sebagai salah satu teolog terbesar yang pernah menduduki kursi kepausan. Kombinasi antara kedalaman intelektual seorang profesor universitas dan tanggung jawab penggembalaan seorang paus menjadikannya teolog yang unik di abad ke-20 dan ke-21

Latar Belakang

Joseph Ratzinger lahir di Kota Marktl, Jerman pada tanggal 16 April 1927. Dibesarkan dalam lingkungan Katolik yang taat dan sederhana. Ibunya, Maria Ratzinger dan ayahnya Joseph Ratzinger Senior. Seorang komisaris Polisi yang menentang rezim Nazi, dan imannya menjadi perisai bagi keluarganya.

Ratzinger menyaksikan persekusi Nazi terhadap Gereja, termasuk pastor parokinya yang dipukuli oleh tentara Nazi. Pengalaman kekerasan dan penolakan Nazi terhadap Tuhan justru meneguhkan tekadnya untuk melayani Gereja. Ia pernah menyatakan keinginannya menjadi pastor di tengah interogasi SS (pasukan Nazi). Teringat masa kecilnya, pada usia lima tahun, setelah melihat Kardinal Michael von Faulhaber yang agung, Ratzinger cilik menyatakan keinginannya untuk menjadi kardinal. Tuntunan Tuhan mengantarnya fokus hingga menjadi seorang Paus

Menuju Seminari  dan Karya

Menjelang akhir tragedi Perang Dunia II, Ratzinger pernah direkrut ke dalam layanan militer tambahan yang beroperasi di ruang anti serangan pesawat. Namun di tahun 1946, dirinya keluar meninggalkan unit militer Jerman (desersi) untuk menuju ke seminari, menunjukkan tekad kuat untuk meneruskan panggilannya sebagai pelayan Tuhan daripada menjadi tentara rezim yang ia anggap jahat.  Anak ke tiga dari tiga bersaudara ini melanjutkan belajar filsafat dan teologi di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi di Freising di Universitas Munchen.

Pada tanggal 29 Oktober 1950 dia menerima tahbisan diakon oleh  uskup Johannes Baptist Neuhaulser dan pada 29 Juni 1951 ia ditahbiskan menjadi imam bersamaan dengan saudaranya George Ratzinger oleh Kardinal Michael von Faulhaber.  Setahun kemudian, dirinya memulai kegiatan mengajarnya di Freising, sekolah di mana dulunya dia pernah mengenyam pendidikan sebagai siswa.

Pada tahun 1953 ia lulus dalam bidang teologi dengan disertasi berjudul: “People and House of God in the Doctrine of the Church of Saint Augustine”. (Jemaat dan Bait Tuhan dalam Doktrin Gereja menurut Santo Agustinus).  Pada tahun 1957 ia menjadi staf pengajar teologi fondamental di bawah bimbingan seorang profesor terkenal di Munchen, Gottlieb Söhngen, dengan sebuah tema berjudul: “Teologi Sejarah San Bonavantura”.

Setelah menjabat sebagai dosen dogmatik dan teologi fundamental di Sekolah Tinggi Freising, ia melanjutkan kegiatan mengajarnya di Bonn (1959-1969), Münster (1963-1966) dan Tübingen (1966-1969). Sejak 1969 ia telah menjadi Profesor dogmatika dan sejarah dogma di Universitas Regensburg, di mana ia juga memegang posisi sebagai Wakil Dekan Universitas. Aktivitas ilmiah yang intens membawanya untuk menduduki posisi penting dalam Konferensi para Uskup Jerman, di Komisi Teologi Internasional.

Ratzinger  menghasilkan karya-karya berkualitas, di antaranya “Pengenalan akan Kekristenan” (1968).  Ini adalah kumpulan materi perkuliahan yang ia bawakan di universitas tentang “pengakuan iman apostolik”. Kemudian pada tahun 1973 diterbitkan sebuah karya berjudul “Dogma dan Khotbah”, yang merupakan kumpulan esai, meditasi, dan homili yang didedikasikan untuk kegiatan pastoral.

Pada tanggal 27 Juni 1977, Paus Paulus VII mengangkatnya menjadi Kardinal dengan gelar imam “Santa Maria Consolatrice al Tiburtino”. Ratzinger akhirnya terpilih menjadi Paus ke-265 pada tanggal 19 April 2005, dengan nama Paus Emeritus Benediktus XVI. Kala itu, dia menjadi Kardinal terlama daripada Paus mana pun sejak tahun 1724.

Sebuah tema lainnya berjudul: “Mengapa saya masih di Gereja?”. Dengan tegas dan jelas ia berargumen: “Hanya di dalam Gereja ada kemungkinan untuk menjadi seorang Kristen dan bukan di luar Gereja.”

Serangkaian publikasi penting berlanjut secara masif seiring berjalannya waktu dan buah pikirannya menjadi titik referensi bagi banyak orang terlebih bagi mereka yang terlibat di bidang pendalaman teologi. Sebagai contoh karyanya yang berjudul “Relasi dalam Iman” tahun 1985 dan “Garam Dunia” tahun 1996.

Sebagai seorang teolog, Ratzinger ingin membawa “Tuhan kembali ke pusat” dunia yang mulai meninggalkan iman (sekularisasi). Ia ingin melayani melalui dialog antara iman dan akal budi, yang terlihat dari studi disertasinya tentang St. Augustinus dan St. Bonaventura.

Badai Kepemimpinan

Ratzinger merupakan seorang teolog yang brilian, namun kepemimpinannya sebagai Paus diwarnai pertengkaran di dalam Vatikan dan skandal pelecehan seks terhadap anak-anak oleh para pastor yang mengguncang Gereja Katolik sedunia, di mana Benediktus dikritik karena kurangnya kepemimpinan. Teringat tak lama sebelum terpilih sebagai Paus pada tahun 2005, dia pernah mengeluh, “Betapa banyaknya kekotoran di Gereja, dan bahkan di kalangan mereka….yang menjadi pendeta/pastor.”

Dia telah bertemu dengan para korban dan meminta maaf kepada mereka, dan menegaskan bahwa para uskup harus melaporkan bila terjadi pelecehan. Dia juga memperkenalkan aturan baru yang mempercepat pemecatan para pendeta yang diketahui melakukan pelecehan.

Selain diwarnai pertengkaran dan skandal, kepemimpinan Benediktus juga diwarnai rentetan kontroversi, mulai dari komentar yang memancing kemarahan umat Muslim sedunia hingga skandal pencucian uang di bank Vatikan dan skandal yang membuatnya malu secara pribadi ketika tahun 2012, pelayannya membocorkan dokumen rahasia ke media.

Akhir Hidup

Perjalanan hidup akhirnya berakhir,  tepatnya pada hari Sabtu, 31 Desember 2022 waktu setempat dalam usia 95 tahun, Paus Benediktus XVI kembali pada Sang Pencipta. Dibalik kesederhanaan Tuhan memakainya menjadi alat di tangan Tuhan. Dalam kepemimpinannya ada badai yang datang menghadang. Namun, sungguh terlihat Tuhan membekalinya dengan Iman dan pengenalannya akan kebenaran. Dia kembali pada Pencipta dengan meninggalkan karya, agar umat kembali kepada Tuhan.

(Kompilasi berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *