Rachel Purba, mengalami Euforia menjadi Ibu kembar dari Air dan Banyu. “Sangat senang menjadi Ibu dari mereka,” ungkap Rachel penuh kebahagiaan. Walau sering mengalami morning sick hampir selama 4 bulan di awal-awal kehamilan, namun ketika hasil USG memperlihatkan benih kembar dan bisa melahirkan mereka dengan selamat, “Sungguh sangat membahagiakan. Aku punya anak kembar,” ungkap Rahel dengan mata berkaca-kaca.
Seiring pertumbuhan mereka, kebahagiaan itu mewarnai setiap kesibukan. Sebagai orang tua yang berprofesi pekerja seni, tidak mengurangi kebahagiaan mereka dalam kesibukan. Tetap membawa ketiga putranya bersama kala bekerja, walau terlihat repot membawa stroller dan perlengkapan anak yang ribet. Perempuan Karo dengan wajah Jawa ini terlihat kuat, lincah, cekatan mengurusi ketiga putranya: Langit, Air, dan Banyu kala itu, dengan sukacita.
MASA SULIT ITU TIBA
Masa sulit itu tiba-tiba datang bagaikan reruntuhan bangunan yang menindihnya. “Anakmu mengalami global delay,” Rachel terdiam, dan tak dapat menahan tangisannya ketika dokter menyampaikan hasil diagnosa perkembangan putra kembarnya. Memori itu mulai dibuka, mengingat saat-saat pemeriksaan kehamilan, pernah terucap dari mulut dokter: “Setiap kehamilan itu ada risiko: khusus bagi kehamilan kembar bisa mengalami yang namanya: Twin to Twin Transfusion Syndrome (TTTS). Ini adalah komplikasi serius dan langka pada kehamilan kembar identik.” Ternyata ini yang terjadi pada putra kembarku, tanda tak percaya. Pikiran dan perasaan ibu kelahiran Kertosono , 29 Januari 1984 ini berkecamuk, seakan kecewa terhadap hasil pemeriksaan yang tidak akurat selama ini, dan pihak dokter yang tidak berterus terang sejak awal pemeriksaan rutin kehamilan.
Tuhan menghadiahkan Air dan Banyu, memberi kebahagiaan bagi kedua orang tuanya. Namun waktu Tuhan pun datang untuk mengambil pulang adik kembar: Banyu di tahun 2020, di usia 5 tahunnya. “Duka itu sangat dalam bahkan masih ada sampai saat ini, namun diriku terus menata hati menerima dengan ikhlas,” ungkap Ibu, pemilik suara merdu ini. Kasih Tuhan amatlah besar, duka karena kehilangan, namun Kasih Tuhan memanggil Banyu untuk memulihkannya. Istri dari Valentinus Wahyu Wibowo ini melepas dalam duka, namun dikuatkan untuk tetap semangat dan berjuang bagi kakak kembar: Air, yang tetap ada dan membutuhkan kasih tanpa akhir.
CINTA TAKKAN HABIS
Perbedaan perkembangan si kembar dari anak-anak seusianya memang semakin terlihat jelas. Saat genap 6 bulan, si kembar: Air dan Banyu sulit mengangkat kepala. Mereka hanya diam pada Stroller mereka. Semua keterlambatan ini dipikir normal tanpa curiga terhadap masalah perkembangan pertumbuhan mereka. Si kembar juga mengalami tuli, kondisi terparah: Hasil yang menunjukkan garis datar (flat) pada grafik, tidak merespons bunyi di atas 90-100 desibel, atau tingkat Profound Hearing Loss. Kondisi tuli sangat berat 120 desibel (bayangannya seperti kedalaman samudera). Sebagai Ibu yang mencintai anaknya, tak kehabisan juang untuk menangani persoalan kembar.
Sejak usia 11 bulan mengikuti terapi, fisioterapi, okupasi, sensori integrasi, akupunktur, terapi wicara bahkan telah menggunakan alat bantu dengarnya dari usia 1 tahun.
“Semua upaya penanganan kembar membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Selama 6 tahun tertolong dengan BPJS, namun kini harus membayar mandiri.” Ungkap Rachel. Inilah pergumulan yang panjang untuk tetap dapat memberikan dukungan dan pelayanan terbaik bagi Air hingga saat ini.
“Sebagai Ibu, saya tidak menutupi keadaan anakku sebagai ABK. Tidak ada perasaan malu. Saya ingin bercerita agar semua anak berkebutuhan Khusus (ABK) harus diperhatikan. Jangan hanya yang berprestasi baru ditonjolkan. Mereka yang tidak menjadi apa-apa, dianggap tidak berguna,” ungkap penyuka bernyanyi ini penuh perhatian. Tambahnya menimpali, ”diperlukan pemeriksaan kesehatan (premarital check-up) bagi calon pengantin yang disosialisasikan melalui talkshow untuk mencegah stunting dan penyakit menurun. Sangat menolong jika dilayani gratis, jadi bisa mencegah persoalan dalam tubuh,” tambah Rachel dengan penuh beban karena semakin sadar menjadi seorang Ibu ABK tak mudah, hanya kasih karunia Tuhan yang memberikan daya juang tak berakhir.
HARI-HARI BERSAMA ABK
Rachel dan suami mengejar lima tahun pertama agar Air bisa berjalan. Puji Tuhan, Air bisa berjalan dan berlari. Bisa meniup lilin saat ulang tahunnya kesepuluh, di tahun kemarin 09 September 2025.
Alat bantu pendengaran yang dimiliki Air masih sulit digunakan, karena Air masih sering melepaskannya. Alat yang sangat mahal, membuat ayah bundanya berhati-hati menjaganya. Menolong anaknya bisa tetap menggunakannya, tanpa melepaskannya dengan melempar atau membuangnya.
Air seperti anak-anak pada umumnya. Memiliki keinginan untuk dapat bermain, memiliki sesuatu yang disukai, dan sedih ketika keinginannya tak terpenuhi. Tantrum adalah ledakan emosi tidak terkendali yang ditunjukkan oleh Air, saat kebutuhannya tidak dipenuhi karena ketidakmampuan orang lain memahaminya. “Berteriak, menangis, menjambak, mencakar, itu yang ditunjukkan Air pada bunda dan ayahnya,” kisah bunda Rahel.
Persoalan bahasa yang masih harus dilatih Air dan juga keluarga. Cara yang dilakukan oleh Rachel dan keluarga saat ini adalah berupaya dengan bahasa komunikasi biasa untuk bisa menolong Air. Seperti contoh: Air akan mengajak bundanya ke dapur, membuka kulkas dan mengambil ice cream kesukaannya. Atau jika lapar, Air akan ke dapur dan menunjukkan makanan yang disediakan.
Jika di luar rumah dengan jangkauan yang luas, Air terlihat lincah, senang berlari di keramaian tanda kemerdekaannya. Kekuatan motorik Air terlihat begitu besar. Bahagia melepaskan rasa ingin tahu dan menemukan kebebasannya. Lingkungan luar menguras perhatian namun merangsang kemampuan Air. Rachel mengakui sangat kewalahan dan membutuhkan kehadiran suami atau anak sulungnya, Langit untuk ikut mendampingi.
Hal khusus yang dilakukan Rachel dan keluarga adalah merayakan keberhasilan kecil Air: Setiap pencapaian, sekecil apa pun, patut dirayakan. Demi membantu memotivasi Air dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Tak hanya itu, kebiasaan mengantarnya bersama keluarga ke tempat terapi, mengajaknya ke sekolah Minggu walau dirinya kurang fokus. “Kami tidak punya hak menjauhkan Air dari ibadah. Walaupun Air belum bisa tenang, fokus, dan memengaruhi suasana menjadi tidak tenang,” Jujur Rachel mengungkapkan perasaannya.
“Mengerjakan apa pun dengan membawa anak adalah cara untuk tak jauh dari mereka,” cetus Rachel berbinar. “Aku pernah merasa hancur dan merasa hidup paling susah, namun Tuhan membuka mata hatiku dengan melihat dengan nyata kehidupan ABK yang jauh lebih parah dari putra kembarku. Di situlah Tuhan menata hatiku perlahan namun pasti. Masih beruntung bisa bernafas,” saksi Rachel menahan haru. Kini dirinya selalu mau mencari jawaban dari setiap peristiwa untuk dimaknai.
JANGAN MENYERAH
Rachel dan suami berupaya memberi pelayanan terbaik bagi Air, walau harus bolak-balik rumah sakit. Mencari tempat terapi yang sesuai dengan kebutuhan Air untuk lingkungan alam (outdoor). Mengelola kesedihannya saat bekerja, dengan menjauhkan diri dari lagu-lagu bernuansa sedih. Dan tetap bersama anak-anak walau kesibukan kerjanya menuntut kehadirannya.
“Jangan pernah menyerah. Kita harus selalu kuat dan semangat,” urai Rachel menyemangati setiap orang tua, pendamping ABK. “Jangan menyalahkan Tuhan, maupun diri kita sendiri karena anak kita ABK. Tuhan yang menentukan segala sesuatu untuk membentuk kita lebih baik,” tandas Rachel menimpali. Rahel mengakui perubahan besar terjadi dalam hidupnya melalui proses hidup sebagai seorang Ibu ABK. “Kini diriku dibentuk untuk lebih sabar, tidak sombong, dan lebih tenang”, aku ibu empat orang anak ini: Langit, Air, Banyu, Bumi.
Kala kesulitan datang selalu tidak menyenangkan, namun seiring melewatinya mengubahkan seseorang semakin jauh lebih baik. Karena dibalik proses yang sulit, ada Tangan yang kuat memberi kasih karunia-Nya untuk memaknai hidup dan menyertai hidup setiap orang yang percaya pada-Nya.
Tuhan menyertaimu Bunda Rachel, menjadi Ibu ABK yang penuh kasih dan ketangguhan merawat dan mendidik buah hati Tuhan.
Terharu. Tetap semangat buat Rachel dan keluarga, juga keluarga-keluarga lain yang sedang bergumul. Tuhan kita, Yesus Immanuel