Seorang gadis terlihat modis, cantik, dan trendi menuju ke kampusnya. Ternyata sepanjang mata memandang, terlihat hal yang sama pada tampilan kawula muda lainnya. Menarik perhatian dan menyegarkan pandangan mata. Trendi dengan busana sederhana, namun perubahan-perubahan itu begitu cepat, secepat meraup saku pemiliknya.
Terdengar obrolan ringan di samping tempat dudukku, saat perjalanan dengan menggunakan trans Jakarta. “Ela, sudah lihat shopee atau Tokopedia? ada model terbaru Zara, H&M, Shein, dan UNIQLO? Hanya dengan seratusan hingga dua ratusan ribu, saya bisa mendapatkan setelan baju kuliah yang keren?”. Tiba-tiba si Ela menimpali pertanyaan kawannya: ”Loh, bukannya baru kemarin kamu pesan baju, Indah?”. ”Mumpung aku suka, dan hitung-hitung puasa jajanan, yang penting bisa dapat baju baru lagi,” Indah menimpali.
Fashion yang menarik dengan harga yang terjangkau, sudah pasti menggoda setiap mata untuk ingin memiliki. Apalagi jika kita suka dan punya kemampuan membelinya. Tawaran style yang berganti dengan cepat dan mudah didapatkan, akan semakin tinggi minat konsumen mengejarnya. Tak heran inilah daya tarik Fast fashion yang mengambil perhatian sebagian besar anak muda saat ini.
Apa itu Fast Fashion?
Fast fashion merupakan sebuah konsep di dunia fashion yang membuat produk serta fashion style dengan cepat dapat tersedia, siap dipakai, namun cepat berganti. Dalam proses yang cepat ini, fast fashion tentunya menghadirkan konsep serta produk trendi yang terus berganti dalam kurun waktu tertentu yang dibandrol dengan harga yang murah.
Dampak Fast Fashion
Dibalik kepuasan yang ditawarkan, ternyata ada bahaya yang mengintai. Bahaya pola hidup yang konsumtif. Membeli bukan lagi karena kebutuhan melainkan keinginan. Barang lama menjadi seperti ketinggalan zaman dan mungkin ditinggalkan untuk tidak lagi terpakai. Terjadi pemborosan dan terus terikat untuk memuaskan diri tanpa rasa cukup. Inilah bahaya yang tanpa sadar mulai menguasai kehidupan setiap konsumen.
Bahaya berikutnya adalah bagi alam, karena tingkat produksi yang terus meningkat maka perusahaan akan memproduksi lebih banyak produk daripada yang dibutuhkan pasar atau over production. Dengan demikian terjadi penumpukan sampah limbah akibat naiknya konsumsi produk. Lebih parahnya lagi, data dari World Clean Up Day juga menunjukan bahwa setiap tahun ada sekitar 30% dari produk yang diproduksi perusahaan tersebut tidak terjual. Sisa-sisa produk tersebut nantikan akan berakhir di pembuangan dan dibakar.
Melihat akibat di atas tak semua orang menyadarinya. Lalu bagaimana seharusnya langkah yang bijak untuk berhati-hati dan tidak terjebak dalam tren ini?
Bijak menghadapi Fast Fashion
Menjadi menarik dan cantik itu menyenangkan, namun tak harus mengabaikan yang terpenting atau memiliki nilai guna. Tidak melihat kepuasan trendi sebagai kebutuhan namun menggunakan yang ada dengan tetap menarik jika dipakai. Contoh pakaian-pakaian yang lama, jika memiliki bahan yang bagus dapat kembali digunakan, dengan menambah pola menarik dan cantik jika digunakan.
Hemat untuk kebutuhan yang lebih penting itulah orang bijaksana, dan tetap menggunakan barang yang lama, dengan tetap menarik itupun hikmat bagi orang yang menghargai apa yang dimilikinya.
Selamat menjadi orang menarik dan tidak mengabaikan yang terpenting!