Memelihara Pengharapan Di Tengah Bangsa Yang Sedang Membersihkan Diri

“Jangan kehilangan harapan ketika borok sebuah bangsa mulai terlihat. Bisa jadi, itu bukan tanda kehancuran, melainkan awal dari pemulihan.”

Indonesia kembali dikejutkan oleh berbagai pengungkapan kasus besar yang melibatkan pejabat tinggi negara dan aparat penegak hukum. Hampir setiap minggu masyarakat disuguhi berita mengenai penggeledahan, penyitaan aset, pemeriksaan pejabat, hingga dugaan konflik antarlembaga penegak hukum.

Di media sosial, berbagai narasi bermunculan. Sebagian menyimpulkan bahwa negara sedang berada di ambang kehancuran. Sebagian lainnya melihat semua proses hukum sebagai rekayasa politik. Tidak sedikit pula yang mulai kehilangan harapan dan berkata, “Sudahlah… Indonesia memang tidak mungkin berubah.”

Di tengah suasana seperti ini, pertanyaan yang sesungguhnya bukan lagi, “Siapa yang benar dan siapa yang salah?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: bagaimana masyarakat memelihara pengharapan ketika kepercayaan kepada institusi negara sedang mengalami guncangan?

Bayangkan seorang pasien yang baru keluar dari ruang operasi. Bajunya berlumuran darah. Dokter membawa jaringan tubuh yang baru saja diangkat. Ruangan operasi tampak berantakan. Apakah semua itu berarti dokter sedang mencelakakan pasien?

Tentu tidak.

Justru pemandangan yang mengkhawatirkan itu merupakan bagian dari proses menyelamatkan kehidupan. Darah yang terlihat bukan selalu tanda kematian; kadang-kadang itulah tanda bahwa penyakit sedang diangkat.

Begitu pula ketika sebuah bangsa mulai berani membuka kasus-kasus besar. Banyak orang langsung menyimpulkan bahwa korupsi semakin parah. Padahal, bisa jadi korupsinya sudah lama ada, hanya sekarang mulai disingkapkan.

Jangan sampai kita keliru menganggap proses pembersihan sebagai bukti kehancuran. Rumah yang sedang dibersihkan memang tampak lebih berantakan daripada rumah yang kotor tetapi semua pintunya tertutup rapat.

Tentu, pengharapan bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan. Selama beberapa tahun terakhir, masyarakat berkali-kali dikecewakan oleh berbagai kasus yang melibatkan pejabat publik, aparat penegak hukum, maupun lembaga negara. Luka itu nyata.

Kepercayaan publik memang tidak hilang dalam satu malam, sehingga tidak mungkin dipulihkan hanya dengan pidato atau janji politik.

Kepercayaan dibangun melalui tindakan yang konsisten.

Karena itu, pemerintah memikul tanggung jawab yang sangat besar. Komitmen memberantas korupsi harus dibuktikan melalui penegakan hukum yang adil, transparan, dan berlaku sama bagi siapa pun.

Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tuntutan agar proses hukumnya berlangsung secara profesional dan bebas dari intervensi. Dalam negara hukum, masyarakat berhak mengawasi jalannya proses tersebut, sekaligus memberi ruang agar pembuktian berlangsung secara jujur sesuai mekanisme yang berlaku.

Namun tanggung jawab membangun bangsa tidak hanya berada di pundak pemerintah.

Masyarakat juga dipanggil menjadi warga negara yang dewasa. Dewasa berarti tidak mudah hanyut oleh setiap narasi yang beredar sebelum fakta teruji. Dewasa berarti mampu membedakan antara kritik yang membangun dan prasangka yang menghakimi.

Mengawasi pemerintah adalah bagian dari demokrasi. Tetapi menganggap setiap institusi pasti jahat sebelum proses hukum berjalan dengan semestinya justru akan memperdalam krisis kepercayaan yang sedang kita hadapi.

Di sinilah kita menemukan bahwa persoalan bangsa sesungguhnya lebih dalam daripada persoalan sistem.

Kita sering berharap pergantian pemimpin akan menyelesaikan masalah. Kita percaya undang-undang baru akan menghapus korupsi. Kita membentuk lembaga baru, memperkuat pengawasan, bahkan memanfaatkan teknologi yang semakin canggih. Semua itu penting dan perlu.

Namun sejarah mengajarkan satu pelajaran yang sama: sistem yang baik dapat diselewengkan oleh manusia yang kehilangan integritas.

C. S. Lewis pernah berkata, “Integrity is doing the right thing even when no one is watching.” Integritas bukan lahir ketika kamera menyorot seseorang. Integritas lahir ketika hati memilih melakukan yang benar, sekalipun tidak ada seorang pun yang melihat.

Demikian pula Abraham Kuyper mengingatkan bahwa kehidupan publik akan kehilangan fondasi moralnya ketika prinsip-prinsip kebenaran diabaikan. Bangsa tidak mulai rapuh hanya karena ekonomi melemah atau politik memanas. Bangsa mulai rapuh ketika karakter manusianya kehilangan kompas moral.

Alkitab telah lebih dahulu menjelaskan akar persoalan ini. Nabi Yeremia berkata, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari segala sesuatu, hatinya sudah membatu; siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yeremia 17:9). Masalah terbesar manusia ternyata bukan pertama-tama sistem yang dibangunnya, melainkan hati yang mengendalikan sistem itu.

Menariknya, setiap kali Allah hendak memulihkan umat-Nya, Ia lebih dahulu menyingkapkan dosa mereka. Nabi-nabi tidak datang membawa penghiburan sebelum ada pengakuan. Tidak ada pertobatan tanpa penyingkapan. Tidak ada kesembuhan tanpa diagnosis. Luka harus dibuka sebelum dibersihkan.

Bukankah prinsip yang sama berlaku bagi sebuah bangsa?

Harapan Kesembuhan

Karena itu, jangan kehilangan harapan ketika semakin banyak penyimpangan mulai terungkap. Yang patut kita takutkan bukanlah bangsa yang berani membuka boroknya. Yang patut kita takutkan adalah bangsa yang memilih menutupi boroknya.

Luka yang ditutup rapat tanpa dibersihkan hanya akan bernanah. Tetapi luka yang dibuka, dibersihkan, dan diobati memang terasa sakit, namun justru di situlah harapan kesembuhan dimulai.

Sebagai orang percaya, kita dipanggil menjadi pembawa damai (Matius 5:9), memperjuangkan keadilan (Mikha 6:8), serta menguji segala sesuatu dan berpegang kepada yang baik (1 Tesalonika 5:21). Kita tidak dipanggil menjadi pembela buta pemerintah, tetapi juga bukan menjadi penyebar keputusasaan. Kita dipanggil menjadi saksi kebenaran yang memadukan keberanian mengoreksi dengan kesediaan memelihara pengharapan.

Indonesia membutuhkan pemimpin yang berintegritas. Indonesia juga membutuhkan rakyat yang tidak cepat menyerah. Sebab masa depan bangsa tidak dibangun oleh sinisme, melainkan oleh keberanian untuk terus memperbaiki diri.

Pada akhirnya, hukum dapat mengatur perilaku manusia, tetapi hanya hati yang diperbarui yang mampu melahirkan integritas. Dan melalui karya salib Yesus Kristus, Allah bukan hanya mengampuni manusia, tetapi juga membarui hati mereka agar semakin serupa dengan kehendak-Nya.

Dari hati yang diperbarui lahirlah karakter. Dari karakter lahirlah budaya. Dari budaya lahirlah institusi yang sehat. Dan dari institusi yang sehat, kepercayaan publik perlahan dipulihkan.

Kiranya kita tidak menjadi generasi yang kehilangan harapan karena melihat banyaknya dosa yang disingkapkan. Sebaliknya, marilah kita menjadi generasi yang berdoa, bekerja, mengawasi, dan terus berharap, karena kita percaya bahwa Allah sanggup memakai manusia yang bertobat untuk membangun kembali sebuah bangsa.

About the Author: Sugihono Subeno

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *