Tidak ada yang lebih indah dari mewujudkan cita-cita menjadi kenyataan. Misalnya cita-cita menjadi tentara sewaan, atau pemberontak. Kehidupan seperti itu tampak mengesankan.
Seorang jurnalis perang Belanda, Arnold Karskens menulis sebuah buku tentang beberapa orang idealis Belanda, yang berjuang di bawah panji asing. Berikut beberapa contoh para pejuang tersebut.
Suatu fragmen dari buku: "Membunuh bagi saya tidak ada masalah. Menarik pelatuk adalah pekerjaan mudah dan sering kali anda bisa membidik. Tetapi anda tidak tahu apakah tembakan anda itu mengena sasaran. Mungkin di Belanda hal itu terdengar aneh bahwa anda telah membunuh orang. Tetapi saya tidak merasakan apa pun. Tidak ada penyesalan dan sebagainya."
Menembak anak-anak
Demikian dikatakan Rob van Genderen, sekitar 50-an tahun, tentang masa hidupnya sebagai pejuang gerilya di Ell Salvador. Ia bertempur pada awal tahun delapan puluhan, selama setengah tahun melawan diktator militer di negara Amerika Latin itu.
Ia marah sekali saat masih berada di rumah, ketika ia membaca sebuah berita di surat kabar tentang tentara yang karena jengkel menembaki anak-anak di atas pohon, atau seorang perempuan yang diambil anaknya dengan dibelah perutnya.
Berdemonstrasi dan memprotes di Belanda baginya tidaklah cukup. Ia memutuskan untuk beraksi dan dengan pesawat terbang pergi ke Amerika Latin. Tanpa sadar ia tiba-tiba berhadapan dengan hadangan pertamanya.
"Ya, kalau kendaraan tentara datang, akan meledak ranjau di bagian depan. Prajurit-prajurit berhamburan dari kendaraan dan kemudian ditembaki. Saya melompat ke depan dan menembakkan habis senjata saya. Hal itu terjadi secara otomatis."
Patah hati
Di dalam buku wartawan perang Arnold Kaerskens, kita juga bisa membaca tentang pembangkang yang lain. Seorang pria aneh, yang dengan menggunakan sepeda, ia ikut terlibat dalam Perang Vietnam, dan akhirnya bergabung dengan Vietcong. ia meninggalkan Belanda karena patah hati. Dan ia tewas dalam perang itu.
Masih banyak lagi cerita lainnya. Seorang desersi prajurit Belanda, berusaha menghindarai hukuman, untuk kemudian ikut Perang Balkan. Pria ini juga tewas. Seorang remaja belasan tahun pergi mengkuti gejolak hatinya ke Budapest, membantu orang Hongaria melawan Rusia. Kedatangannya bagaikan api berjalan di seluruh pelosok kota. Ia belajar menembak dan berhasil bertahan.
Balas budi
Betapa pun indahnya sebuah impian, di medan perang, kepahlawanan dan romantika ternyata merupakan pengalaman sangat pahit. Lapar, dingin, kebosanan atau pembantaian dan penganiayaan terjadi. Namun medan perang tetap saja menarik. Arnold Karskens:
"Anda tidak bisa jadi relawan perang, jika tidak mendambakan petualangan. Tapi, tanpa idealisme, juga tidak mungkin. Orang bisa saja punya motif berbeda. Ambil contoh, seorang Yahudi Belanda, Avraham Roet. Ia kehilangan banyak anggota keluarga dalam Perang Dunia Kedua dan merasa tidak aman lagi. Akhirnya ia pergi ke Palestina ikut membangun negara Yahudi. Ia mengatakan kepada saya: ini sama saja seperti membayar kopi anda di suatu restoran. Hal itu terjadi begitu saja."
Orang-orang yang selamat dalam perang- dalam buku kira-kira separohnya, masih tetap menilai pilihan mereka dulu benar, kecuali satu orang. Rob van Genderen, pendukung pejuang gerilya El Salvador ini berpendapat, seandainya bisa diulang, dia tidak akan melakukan itu.
"Banyak orang sering melakukan hal-hal yang mengerikan demi tujuan baik. Saya jadi teringat saudara lelaki saya. Ia selalu bekerja di bidang pendidikan, kelas demi kelas. Ia berjasa bagi masyarakat. Ia banyak membantu anak-anak yang bermasalah. Anak-anak itu akan selalu berbuat baik bagi masyarakat kita. Hal itu lebih penting ketimbang membunuh dalam perang yang bukan urusan kita. Saya dulu semestinya menggunakan senjata demokrasi Barat saja."
Demikian Rob van Genderen, yang pada saat ini, hampir 30 tahun setelah El Salvador, mempunyai kegiatan yang agak berbeda. Ia adalah pengelola sistem komputer, dan bekerja di bidang teknologi informasi.
sumber:Ranesi