Tokoh Agama Diharapkan jadi Panutan Umatnya

Setelah peristiwa 11 September 2001, kesadaran akan pentingnya dialog antaragama. Di berbagai belahan dunia terus terjdi dialog antaragama. Tampaknya kesadaran keagamaan dalam masyarakat yang heterogen ini akan terus berkembang.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Pusat Muhammadiya Din Syamsuddin dan Sekretaris Jenderal Indonesian Committee on Religion for Peace Theophilus Bela secara terpisah di Jakarta, Senin (13/3), sebelum berangkat ke Filipina untuk menghadiri Dialog Agama Pasifik. “Pertemuan dialog agama dilakukan di Belanda, Australia, dan akhir bulan di Rusia,” ujar Din.

Peta dunia, menurut Din, akan diwarnai dialog antaragama. Sebuah dialog yang dilakukan dengan penuh kejujuran, tanpa ganjalan. Tujuannya agar perdamaian dunia bisa segera tercapai. “Dialog yang dibutuhkan adalah dialog dialogis, sebuah dialog yang dilangsungkan dengan kesungguhan dan tanpa ada dusta di antara kitam,” ujarnya.

Indonesia sendiri, menurut Din, juga pernah menjadi tuan rumah penyelenggaraan dialog antaragama semacam ini, seperti acara yang dilaksanakan pada awal bulan lalu. Tokoh agama dari 17 negara Asia Pasifik juga melakukan dialog antartokoh agama di Jakarta. “Dialog yang menghasilkan 10 komitmen tersebut bertekad ingin mewujudkan dunia lebih indah untuk ditinggali,” ujarnya.

Menurut Bela, dari Indonesia tokoh yang direncanakan hadir antara lain Syafi’I Ma’arif. Budi Santoso Tanuwibowo, Suwandha, AA Yewangoe, dan Mgr.Aloysius Sudarso. “Peran agama tampaknya tidak bisa ditinggalkan masyarakat dunia. Ketika urusan duniawi tidak kunjung terselesaikan, dan agama dibawa-bawa sebagai alas an berkonflik pemimpin agama pun diajak serta untuk menyelesaikan,” uarnya. Bela mengatakan, dialog antartokoh agama diharapkan dapat menjadi contoh bagi pemeluk agama.

Sumber : Kompas
Penulis : Hans P.Tan

Daily News Index