SEMUA pihak setuju bahwa pornografi dan pornoaksi harus segera dihentikan. Namun langkah itu tidak seharusnya disahuti dengan menyusun RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi. Mengapa? Karena esensi utama manusia ada pada akal, bukan tubuh.
“Hakikat agama pada umumnya menekankan esensi manusia bukan pada tubuh, melainkan pada akalnya. Karena itu seharusnya seluruh pihak menguatkan pembelajaran moral kepada masyarakat, bukan malah menyusun peraturan yang belum tentu efektif,” kata Ketua Pengurus Besar NU Masdar Farid Mas’udi dalam dialog RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi (APP) di Jakarta, Sabtu (25/2).
Dalam acara tersebut beberapa public figure seperti Angelina Sondakh, Inul Daratista, Ratna Sarumpaet hadir sebagai pembicara dalam acara yang digelar oleh PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia itu.
Dari seluruh pembicara, hanya Angelina Sondakh, yang adalah mantan putri Indonesia, yang menyatakan menudukung RUU APP tersebut. Sementara pembicara yang lain meragukan aturan yang berkaitan dengan moral tersebut akan efektif.
“Tonjolkan sikap moral yang baik jika ingin mendapat apresiasi positif dari masyarakat, bukan menunjukkan bagian tubuh. Soal batasan pornografi dan pornoaksi seperti apa, sampai sekarang pun masih diperdebatkan,” kata Masdar.
Sedangkan Inul meminta agar pemerintah lebih mengoptimalkan produk hokum yang memuat soal asusila. Karena RUU APP yang terlalu menjadikan perempuan sebagai obyek itu dikhawatirkan akan mengorbankan hak-hak dasar perempuan.
Sumber : Kompas
Oleh : Hans P.Tan