EAST Asia Religion Leaders Forum yang dihadiri 200 pemimpin 10 agama dari 17 negara di Asia Timur usai. Forum itu menghasilkan kesepakatan dan komitmen menjadikan dunia ini lebih indah, aman dan damai. Dalam pertemuan itu, kembali mencuat pertanyaan mengapa semua agam yang punya salam perdamaian, doa yang penuh kasih, serta ajaran cinta pada sesama manusia, justru bisa menimbulkan konflik berkepanjangan dan mengerikan.
Wakil Presiden Jusuf Kalla, dalam kata sambutannya saat membuka pertemuan tersebut (12/2), mengatakan bahwa hal yang kontradiktif itu disebabkan pengimplementasian dari faham keagamaan yang sempit. Pemahaman yang sempit itu makin dipicu dengan adanya ketimpangan sosial, ekonomi, dan politik. “Ketimpangan itulah yang harus dihilangkan untuk mewujudkan masyarakat dunia yang harmoni,” demikian Kalla “menjawab” pertanyaan-pertanyaan di atas.
Sementara itu, Bachtiar Effendy, dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, yang menjadi salah satu pembicara dalam forum itu mengemukakan, bahwa kita tidak bias mengontrol pikiran orang. Dan harus diakui, ada sebagian dari pengikut agama tertentu yang berpandangan bahwa jihad itu harus diterjemahkan sebagai perang secara fisik, melawan “musuh” agama dengan senjata. “Padahal, arti jihad yang sesungguhnya lebih luas dari sekadar mengangkat senjata,” cetusnya.
Ada kesamaan pandangan dan kesadaran dari 200 pemimpin agama yang bertemu dalam forum tersebut. Pemimpin agama tidak bisa lagi mempertahankan pandangan sempitnya dan stereotip buruk pada agama dan pengikut agama lain. Pasalnya, pikiran semacam itu bukan hanya tidak akan mendapat tempat lagi dalam peradaban ke depan, namun dapat pula merusak peradaban itu sendiri.
Sumber : Kompas
Penulis : Hans P.Tan