Kekerasan Lebih Dominan dalam Tradisi Beragama

PRAKTK kekerasan dengan mengatasnamakan agama—dari fundamentalisme, radikalisme, hingga terorisme—yang akhir-akhir ini marak di Tanah Air, tak lepas dari persoalan identitas murni yang makin kabur di era globalisasi. Untuk mengatasinya, perlu sosialisasi ajaran antikekerasan melalui pendidikan multicultural.
Tradisi keagamaan diakui memang berkait dengan benih-benih kekerasan, bahkan peperangan melalui simbol keagamaan, teks dan para pemimpin keagamaan. Namun di sisi lain, tradisi keagamaan juga mengajarkan semangat antikekerasan, perdamaian, dan tegaknya nilai-nilai kemanusiaan. Sayangnya, justru tradisi kekerasan saat ini yang lebih dominan dalam konteks keberagamaan dunia.

Hal itu dikemukakan oleh Direktur Konferensi Indonesia bagi Agama dan Perdamaian (Indonesian Conference on Religion and Peace), Djohan Effendi, dalam acara bedah buku “Lebih Tajam dari Pedang: Refleksi Agama-agama tentang Paradoks Kekerasan”, Sabtu (4/2) di Jakarta.

Djohan mengatakan, kebangkitan agama-agama muncul untuk membendung globalisasi, sehingga yang terjadi kembali pada ajaran agama yang puritan. Kembali ke teks tanpa melihat masalah yang kontekstual.

Sementara, Daniel L.Smith Christopher, sang penulis buku, menyayangkan seringnya tradisi agama dimanfaatkan untuk membenarkan tindakan kekerasan, termasuk perang, dalam bungkus demi teciptanya perdamaian.

Oleh : Hans P.Tan

Daily News Index