Istri Depresi, Suami Bingung

Bersama Esther Gunawan, M.K.

Saya seorang suami (51 tahun) punya isteri (50 thn). Saat ini, menurut dokter psikiater, istri saya  mengalami depresi. Isteri saya tadinya baik-baik saja, dia punya usaha se

Dia berusaha melunasi tapi, usaha lagi sepi, jadi hutangnya tidak lunas-lunas. Kira-kira 5 bulan lalu dia mulai bersikap aneh. Tidak mau kerja lagi, sering di kamar, tidak mau masak, tidak mau ketemu siapa pun, termasuk adiknya sendiri. Juga tidak mau ke gereja lagi, katanya percuma. Dia sering mengeluh sakit, mengeluh cuma menyusahkan saya dan anak-anak. Dia menuduh saya sudah tidak sayang lagi dan mungkin saya akan menceraikan dia. Padahal saya tidak pernah bilang begitu. Saya cuma sempat marah waktu tahu hutangnya banyak. Saya bilang, “kamu saja yang urus sendiri”, karena menurut saya itu memang salah dia, terlalu berani pinjam uang orang.  Saya sudah sering menasehati dia supaya banyak doa, dan kalau bisa jangan terus makan obat dokter, nanti kecanduan. Bagaimana seharusnya sikap saya, Bu?

Pak Ary

Medan

 

PAK Ary, tindakan Bapak sudah benar dengan membawa isteri ke psikiater. Dari gejala-gejala yang Pak Ary sebutkan tampaknya memang isteri mengalami depresi. Saya cukup sering mendengar kekhawatiran orang terhadap obat antidepresan dan menganggap bisa berakibat kecanduan. Sebenarnya kalau obat tersebut dimakan sesuai aturan psikiater dan berkonsultasi secara teratur dengan psikiater tsb maka tidak akan menjadi kecanduan.  

Orang yang depresi seringkali membutuhkan bantuan obat-obatan, kecuali depresinya masih taraf ringan bisa saja tidak memerlukan obat. Namun, yang perlu disadari adalah obat hanya membantu mengobati tubuh dan tidak bisa menyelesaikan masalah, misalnya karena orang depresi biasanya mempunyai kecemasan/kegelisahan yang sangat tinggi yang membuatnya sering dalam keadaan tegang, maka obat membantu membuat perasaannya lebih gembira. Atau, kalau dia sulit tidur berhari-hari, maka obat akan membantunya supaya bisa tidur. Karena kesulitan tidur dalam jangka waktu cukup lama dapat menyebabkan timbulnya penyakit lain. Jadi obat hanya bersifat sementara. Sedangkan kebanyakan depresi disebabkan adanya faktor pemicu, biasanya berupa masalah dan tekanan hidup yang dirasakan berat. Nah, masalah tersebut tentunya tidak akan selesai begitu saja dengan makan obat.

      Tampaknya masalah yang memicu timbulnya depresi pada isteri Pak Ary adalah hutang yang banyak dan yang belum mampu diselesaikan sendiri dengan baik. Ditambah lagi dia kurang mendapat dukungan dari Bapak sendiri, jadi hal itu lama kelamaan dapat dirasakan sebagai tekanan yang semakin berat.

      Saya mengutip tulisan Minirth yang mengatakan bahwa depresi disebabkan oleh sikap dan perilaku orang itu sendiri dan biasanya berasal dari bagaimana cara orang tsb mengatasi kemarahan dan rasa bersalahnya. Jadi bisa saja yang terjadi pada isteri Bapak juga demikian. Di luar, kelihatannya isteri hanya mengeluh sakit dan cemas Bapak akan menceraikan dia, tetapi di dalam hatinya ada perasaan bersalah yang besar karena terlibat hutang (dan artinya menyusahkan keluarga). Hal yang sering tidak disadari oleh ybs (atau tidak mau diakui) adalah sebenarnya dia merasa marah pada diri sendiri yang tidak mampu menyelesaikan masalah, bisa juga marah pada suami yang tidak mau membantu, bahkan mungkin marah pada Tuhan yang dianggap tidak menolongnya.

     Jadi apa yang bisa Pak Ary lakukan? Yang jelas dukungan yang tepat dari Bapak dan juga anak-anak sangat diperlukan supaya isteri dapat pulih dari depresinya. Karena semakin lama isteri depresi akan semakin merugikan keluarga dan membuat keluarga semakin lama menderita pula. Ada beberapa masukan yang dapat Pak Ary lakukan:

1. Memberi perhatian dan dukungan yang positif dengan mengatakan hal-hal yang membangun. Jadi bukan kritikan atau terus mengungkit kesalahan isteri.

2. Setiap hari datang pada Tuhan Yesus bersama isteri. Dorong isteri untuk mencurahkan segala unek-uneknya secara bebas dan terbuka pada Tuhan. Jangan dicela atau disalahkan. Lalu ajak membaca Alkitab yang berisi janji-janji Tuhan yang memberikan harapan. Setelah itu peluk isteri dan katakan bahwa Pak Ary mencintainya apa adanya dan akan mendampinginya mencari jalan keluar dari masalahnya.

3. Seringkali depresi juga dipakai sebagai cara untuk menghindari tanggung jawab dan untuk mendapat perhatian. Meskipun begitu bukan berarti kita kemudian bersikap negatif pada ybs. Yang dapat kita lakukan adalah dorong dia untuk mau berhadapan dengan masalahnya dan tegaskan bahwa dia tidak sendirian menghadapi hal itu. Ada Tuhan dan juga keluarga yang akan mendampinginya.

4. Memastikan bahwa obat dimakan secara teratur sesuai dengan saran psikiater dan rutin berkonsultasi padanya.

5. Mengajak isteri melakukan aktivitas yang sehat supaya ia tidak mengurung diri di kamar, misalnya berjalan-jalan santai berdua atau berolahraga, dll. Jadi mula-mula aktivitas bersama keluarga lalu sedikit demi sedikit ajak dia bertemu orang lain.

6. Konseling dengan konselor Kristen atau hamba Tuhan yang memang memahami masalah depresi. Dengan begitu isteri dapat dibantu untuk memahami apa sebenarnya yang sedang terjadi, apa akar masalahnya dan dicarikan jalan keluar yang tepat. Untuk masalah depresi konseling pada umumnya perlu beberapa kali secara rutin.

Demikian Pak Ary jawaban saya. Saya berharap Pak Ary dapat membantu isteri pulih kembali. Kiranya Tuhan Yesus, sumber kekuatan dan hikmat kita, mencurahkan kasih karunianya pada Pak Ary dan keluarga.q

 

 

Konsultasi Keluarga Index