Dia sering bertanya kenapa Tuhan memberi beban yang
begini berat. Ia jadi patah semangat, tidak mau ke kantor dan lebih sering
di rumah melamun saja. Dia juga jadi gampang marah. Anak-anak jadi segan dekat
bapaknya. Saya ingin sekali tahu bagaimana seharusnya bersikap pada suami.
S di Jakarta
IBU S yang dikasihi Tuhan. Saya tahu beban Ibu pasti berat karena harus mengurus
suami yang sakit dan juga mengurus anak. Kanker pada umumnya bukan saja menjadi
beban berat bagi penderitanya, tapi juga beban berat bagi keluarga. Sayang, Ibu tidak memberi keterangan apakah suami tetap mau berobat atau tidak.
Ibu menulis bahwa suami sudah tidak mau ke kantor. Apakah hal itu mempengaruhi keuangan keluarga atau tidak. Karena kalau ya berarti beban suami dan Ibu tentu semakin berat.
Saya tidak tahu berapa jauh pemahaman Ibu tentang orang yang menderita kanker. Jadi saya pikir saya akan memberikan sedikit informasi tentang hal ini.
Orang yg menderita kanker bukan saja menderita tubuhnya, tetapi juga emosinya
dapat terpengaruh dan bahkan kehidupan rohaninya. Pada umumnya mereka seringkali
mengalami perasaan tidak percaya, kemarahan ('kenapa saya yang kena') dan
kecemasan akan masa depan. Apakah saya bisa sembuh? Apakah kanker ini
sewaktu-waktu kambuh lagi? Apakah aku akan mati segera atau dalam kesakitan yang
luar biasa? Apakah aku masih bisa bekerja atau malah menyusahkan orang lain?
Jadi seringkali juga menyebabkan harga diri orang tersebut menjadi turun. Hal-hal
ini dan juga rasa sakit pada tubuh menyebabkan emosinya menjadi labil. Mudah
marah, mengasihani diri, menuntut orang lain yg mengerti, dll. Dampak berikutnya
bisa menyebabkan si sakit mulai menjauh atau menjaga jarak dari orang-orang,
termasuk dari orang-orang yang ia kasihi. Selain itu, seringkali depresi pun ikut dialami oleh penderita.
Tampaknya suami Ibu mungkin mengalami depresi, karena menunjukkan diri patah semangat dan menolak beraktivitas. Hubungan dengan Tuhan juga bisa terganggu, terutama waktu penyakit ternyata tidak juga kunjung sembuh atau kambuh lagi. Meskipun kita bisa mengerti adanya kemarahan tsb, tetapi jelas tidak membuat orang itu menjadi lebih baik. Bahkan seringkali merasa semakin menderita karena berpikir Tuhan mungkin menghukumnya atau Tuhan sudah tidak mengasihinya lagi.
Ibu S, kira-kira demikian sedikit informasi yg mungkin berguna bagi Ibu.
Apa saja yang bisa Ibu lakukan untuk dapat membantu suami? Dalam hal ini peran
isteri dan anak-anak menjadi penting. Prinsipnya sikap menerima keadaan suami
apa adanya dan menunjukkan kasih sayang akan sangat membantu meringankan beban
pikiran dan beban emosi.
Beberapa hal yg bisa Ibu lakukan adalah:
1. Lebih banyak berempati pada suami. Dengarkan keluhan suami tanpa menyalahkan atau mengkoreksi. Namun di sisi lain, Ibu juga jangan membiarkan suami terus berpikiran negatif. Karena pikiran yg negatif hanya akan menambah depresi suami.
Jadi bagaimana menolong suami berpikir positif seperti yang terdapat dalam Filipi 4: 8? Lakukan hal itu setelah Ibu lebih dulu mau mendengar keluhannya. Lalu
dengan hati-hati tanpa terkesan menyudutkan, Ibu bisa mengatakan hal-hal
positif, misalnya keluarga tetap sayang, meskipun pasti repot dan sedih karena
suami sakit tetapi keluarga sangat mengasihi dan menerima suami apa adanya.
Katakan juga Ibu ingin suami pun tetap berjuang bersama keluarga menghadapi
penyakit tsb.
2. Tidak terlalu berharap banyak pada suami untuk memenuhi kebutuhan Ibu. Tapi di sisi lain saya menyadari Ibu pasti membutuhkan dukungan. Oleh sebab itu Ibu
bisa mencarinya melalui teman-teman, termasuk teman di gereja. Selain itu tentu
saja Ibu bisa minta Tuhan Yesus memenuhi kebutuhan Ibu. Dia dapat memberikan
kekuatan dan juga damai sejahtera yang melampaui segala akal. Jangan merasa
bersalah jika Ibu dapat kesempatan rekreasi sejenak karena hal itu justru sangat
baik supaya Ibu dapat menjaga kestabilan emosi dan mendapat kesegaran kembali.
Seringkali isteri merasa bersalah di saat suami sakit kok dia bisa
bersenang-senang. Padahal hal itu diperlukan supaya Ibu bisa menjaga stamina dan
supaya bisa punya kekuatan lagi untuk merawat suami dengan baik.
3. Membawa suami untuk konseling pada konselor Kristen yg memahami depresi juga hal yg bisa Ibu lakukan. Dengan begitu konselor dapat membantu suami untuk lebih
memahami apa penyebab depresinya itu yang sebenarnya. Apa sebenarnya kemarahan
dia, apa yang dia pikir tentang hal ini semua. Konselor juga dapat menolong
memberikan pendampingan.q