Paman memberhentikannya karena kelakuannya yang buruk. Adikku sangat kelewatan, tidak menghormati orang tua dan orang yang lebih tua. Orang tua saya sudah kewalahan menasehatinya, memberi peringatan untuk tidak bersikap kurang ajar, mamaku malah dipukul olehnya.
Saya sangat malu memiliki adik seperti dia. Apakah dia salah bergaul? Tapi teman-temannya, sering menasehatinya, tapi dibilang sok tahu. Adikku tak hanya kurang ajar, tapi pembohong sejak berumur 9 tahun. Setahun lalu dia dibaptis, dan menjadi sangat aktif mengikuti kebaktian di gereja, dan mulai ada sedikit perubahan. Tapi setelah tidak aktif di gereja sikap kurang ajarnya mulai kembali. Sering aku mengajak dia ke gereja akhir-akhir ini, namun semua hanya karena paksaan . Saya sangat membutuhkan pertolongan untuk mendapatkan solusi. Aku sangat ingin adikku berubah sikap dan lebih baik. Bagaimana menurut Bapak?
Ifoni, Tangerang
KEHIDUPAN dalam keluarga, seringkali diwarnai dengan berbagai persoalan.
Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa, apa pun yang terjadi, kalau
Tuhan ijinkan, maka persoalan tersebut adalah sarana dan konteks kehidupan
di mana iman kita diuji untuk menjadi semakin dewasa. Jadi, kita tidak
dianjurkan untuk melihat persoalan secara phenomenological. Artinya,
melihat apa dan bagaimana gejalannya dan mencari solusi atau resep jalan
keluarnya.
Memang kita harus memahami apa yang sedang terjadi, bahkan apa penyebab
dari persoalan tersebut. Tetapi, itu semua harus dapat kita tempatkan
dalam konteks pertanggungjawaban iman kita kepada Tuhan. Jadi, untuk
masalah adikmu ini, saya ingin mengajak Ifoni memahami dulu apa yang
sedang terjadi.
1) Sayang sekali ceritera tentang adikmu ini terlalu sedikit. Saya
hanya menangkap gejala umum yaitu kenakalan dan manifestasinya dalam
kegagalan sekolah dan sikap " kurang ajar " terhadap orang tua. Meskipun
demikian, menurut dugaan saya, adikmu tumbuh di tengah keluarga yang tidak
mampu memberikan kebutuhan primernya sejak ia dilahirkan. Mungkin kedua
orang tuamu adalah orang tua yang sederhana yang menjadi orang tua secara
natural dan kurang mengerti bagaimana membesarkan dan mendidik
anak-anaknya secara utuh.
Setiap anak membutuhkan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan primernya, dan itu bukan hanya dalam hubungan dengan makanan, pakaian, perlindungan dan kasih sayang yang dimanifestasikan secara natural saja. Memang ada anak-anak yang "easy /mudah, seperti Ifoni, yang tidak gelisah dan tidak bereaksi negatif dengan pola asuh yang
natural sederhana seperti yang diberikan kedua orang tuamu. Tetapi, tidak
dengan adikmu. Ia berbeda. Ia membutuhkan lebih dari apa yang orang
tuanya dapat berikan. Ia membutuhkan perhatian dan penanganan yang lebih
pribadi. Ia mempunyai pola belajar/learning style yang berbeda dari
Ifoni. Oleh sebab itu, ia tidak dapat diperlakukan secara natural,
baginya, tidak cukup asal orang tua merasa mengasihi saja. Melihat
gejalanya, adikmu bereaksi negatif (mogok sekolah dan kurang ajar kepada
orang tua) sebagai upaya "cry for help / mendapat perhatian dan pemenuhan
atas apa yang ia butuhkan," yang ternyata terus-menerus orang tuanya tak
dapat berikan. Itulah sebabnya, ia bertingkah-laku nakal dan kurang ajar.
2) Adikmu sebenarnya adalah pribadi yang baik yang sangat mendambakan
"cinta kasih yang personal / pribadi," sifatnya. Itulah sebabnya, ada
masa ia berubah menjadi baik, rajin aktif kegereja dsb. Sayang sekali tak
ada seorang pun yang memahami dirinya, rela mendampinginya dan dapat
mengasihinya. Ia sangat kesepian sehingga jiwanya terus gelisah dan
menyimpan "anger/ kemarahan" yang ia sendiri tidak tahu alasannya.
Untuk kedua hal di atas, saya percaya Ifoni perlu memeriksai diri sendiri
karena kita tidak dapat mengharapkan orang lain. Ifonilah yang seharusnya
berperan untuk menolong adikmu. Mintalah dalam doa kepada Tuhan bijaksana
supaya Ifoni mengerti apa yang harus dan dapat dilakukan. Menurut dugaan
saya, Ifoni perlu tahu tahapan-tahapan yang perlu dilakukan secara
strategis kepada adikmu. Pertama, Ifoni mengenali diri sendiri apakah
Ifoni sendiri benar-benar mengasihi adikmu. Kedua, Ifoni mengenali apakah
Ifoni adalah pribadi yang dapat dan sanggup menjadi konsisten dalam
sesuatu yang dikerjakan. Ketiga, Ifoni berani memasuki area kehidupan
yang asing, yaitu berperan sebagai konselor (bukan peran kakak yang
secara natural sudah terjebak sistem interaksi yang tidak efektif) bagi
adikmu.
Nah, belajarlah untuk listening, artinya dapat menjadi teman
bicara yang dapat menangkap, mendengar apa sebenarnya yang ingin dikatakan
oleh jiwa adikmu melalaui sikap, kata, dan tingkah-laku yang
dimanifestasikannya sehari-hari. Jangan judgemental, artinya bereaksi
marah dan menghakimi begitu saja, karena adikmu sebenar kurban dari
lingkungan yang "tidak sengaja" tidak dapat memenuhi kebutuhan jiwanya.
Nah, Tuhan memberkatimu selalu.q