Adikku Nakal Sekali, Bagaimana Mengubahnya?

backgroun.jpg

Pdt. Yakub Susabda

 

Bapak Pengasuh, saya wanita usia 24 tahun, memiliki seorang adik laki-laki (20). Dia hanya lulus SD. Karena nakal, dia tidak mau sekolah lagi. Sudah satu bulan ini dia menganggur. Sebelumnya bekerja dengan paman.

Paman memberhentikannya karena kelakuannya yang buruk. Adikku sangat kelewatan, tidak menghormati orang tua dan orang yang lebih tua. Orang tua saya sudah kewalahan menasehatinya, memberi peringatan untuk tidak bersikap kurang ajar, mamaku malah dipukul olehnya.  

Saya sangat malu memiliki adik seperti dia.  Apakah dia salah bergaul? Tapi teman-temannya, sering menasehatinya, tapi dibilang sok tahu. Adikku tak hanya kurang ajar, tapi pembohong sejak berumur 9 tahun. Setahun lalu dia dibaptis, dan menjadi sangat aktif mengikuti kebaktian di gereja, dan mulai ada sedikit perubahan. Tapi setelah tidak aktif di gereja sikap kurang ajarnya mulai kembali. Sering aku mengajak dia ke gereja akhir-akhir ini, namun semua hanya karena paksaan . Saya sangat membutuhkan pertolongan untuk mendapatkan solusi. Aku sangat ingin adikku berubah sikap dan lebih baik. Bagaimana menurut Bapak?

Ifoni, Tangerang

 

KEHIDUPAN dalam keluarga, seringkali diwarnai dengan berbagai persoalan.

Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa, apa pun yang terjadi, kalau

Tuhan ijinkan, maka persoalan tersebut adalah sarana dan konteks kehidupan

di mana iman kita diuji untuk menjadi semakin dewasa.  Jadi, kita tidak

dianjurkan untuk melihat persoalan secara phenomenological.  Artinya,

melihat apa dan bagaimana gejalannya dan mencari solusi atau resep jalan

keluarnya.

Memang kita harus memahami apa yang sedang terjadi, bahkan apa penyebab

dari persoalan tersebut.  Tetapi, itu semua harus dapat kita tempatkan

dalam konteks pertanggungjawaban iman kita kepada Tuhan.  Jadi, untuk

masalah adikmu ini, saya ingin mengajak Ifoni memahami dulu apa yang

sedang terjadi.

1) Sayang sekali ceritera tentang adikmu ini terlalu sedikit.  Saya

hanya menangkap gejala umum yaitu kenakalan dan manifestasinya dalam

kegagalan sekolah dan sikap " kurang ajar " terhadap orang tua.  Meskipun

demikian, menurut dugaan saya, adikmu tumbuh di tengah keluarga yang tidak

mampu memberikan kebutuhan primernya sejak ia dilahirkan.  Mungkin kedua

orang tuamu adalah orang tua yang sederhana yang menjadi orang tua secara

natural dan kurang mengerti bagaimana membesarkan dan mendidik

anak-anaknya secara utuh. 

Setiap anak membutuhkan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan primernya, dan itu bukan hanya dalam hubungan dengan makanan, pakaian, perlindungan dan kasih sayang yang dimanifestasikan secara natural saja.  Memang ada anak-anak yang "easy /mudah, seperti Ifoni, yang tidak gelisah dan tidak bereaksi negatif dengan pola asuh yang

natural sederhana seperti yang diberikan kedua orang tuamu.  Tetapi, tidak

dengan adikmu.  Ia berbeda.  Ia membutuhkan lebih dari apa yang orang

tuanya dapat berikan.  Ia membutuhkan perhatian dan penanganan yang lebih

pribadi.  Ia mempunyai pola belajar/learning style yang berbeda dari

Ifoni.  Oleh sebab itu, ia tidak dapat diperlakukan secara natural,

baginya, tidak cukup asal orang tua merasa mengasihi saja.  Melihat

gejalanya, adikmu bereaksi negatif (mogok sekolah dan kurang ajar kepada

orang tua) sebagai upaya "cry for help / mendapat perhatian dan pemenuhan

atas apa yang ia butuhkan," yang ternyata terus-menerus orang tuanya tak

dapat berikan.  Itulah sebabnya, ia bertingkah-laku nakal dan kurang ajar.

2)  Adikmu sebenarnya adalah pribadi yang baik yang sangat mendambakan

"cinta kasih yang personal / pribadi," sifatnya.  Itulah sebabnya, ada

masa ia berubah menjadi baik, rajin aktif kegereja dsb.  Sayang sekali tak

ada seorang pun yang memahami dirinya, rela mendampinginya dan dapat

mengasihinya.  Ia sangat kesepian sehingga jiwanya terus gelisah dan

menyimpan "anger/ kemarahan" yang ia sendiri tidak tahu alasannya.

Untuk kedua hal di atas, saya percaya Ifoni perlu memeriksai diri sendiri

karena kita tidak dapat mengharapkan orang lain.  Ifonilah yang seharusnya

berperan untuk menolong adikmu. Mintalah dalam doa kepada Tuhan bijaksana

supaya Ifoni mengerti apa yang harus dan dapat dilakukan.  Menurut dugaan

saya, Ifoni perlu tahu tahapan-tahapan yang perlu dilakukan secara

strategis kepada adikmu.  Pertama, Ifoni mengenali diri sendiri apakah

Ifoni sendiri benar-benar mengasihi adikmu.  Kedua, Ifoni mengenali apakah

Ifoni adalah pribadi yang dapat dan sanggup menjadi konsisten dalam

sesuatu yang dikerjakan.  Ketiga, Ifoni berani memasuki area kehidupan

yang asing, yaitu berperan sebagai konselor (bukan peran kakak yang

secara natural sudah terjebak sistem interaksi yang tidak efektif) bagi

adikmu. 

Nah, belajarlah untuk listening, artinya dapat menjadi teman

bicara yang dapat menangkap, mendengar apa sebenarnya yang ingin dikatakan

oleh jiwa adikmu melalaui sikap, kata, dan tingkah-laku yang

dimanifestasikannya sehari-hari.  Jangan judgemental, artinya bereaksi

marah dan menghakimi begitu saja, karena adikmu sebenar kurban dari

lingkungan yang "tidak sengaja" tidak dapat memenuhi kebutuhan jiwanya.

Nah, Tuhan memberkatimu selalu.q

05 July 2008

Konsultasi Keluarga Index