Search
only search from Reformata
Translate
English Japanese French German Dutch
Laporan Utama
123Laput1.jpg
Reformata.com - MELIHAT situasi massa yang menuntut penghentian perayaan Natal pada Jumat, 25 Desember 2009 ...
Laporan Khusus
gus-dur.jpg
Tak sedikit tokoh Kristen hadir dalam perjalanan “pulang” Gus Dur. Banyak kesan tersimpan dalam ...
YM Support
Redaksi Reformata
lidya

Khas

30 December 2008

Gereja Santo Yusuf Gedangan: Dua abad Mengayomi Umat

gedangan320.jpg

Bangunan tinggi menjulang, dengan ujung meruncing, di sertai dua buah palang kayu yang membentuk tanda empat arah mata angin tampak berdiri kokoh di pingggir sebuah jalan besar.  Dengan cat merah menyala  serta style gothic yang kental dengan nuansa barat tak bisa disangkal lagi bahwa itu adalah sebuah bangunan gereja.  

Adalah gereja Santo Yusuf (Gedangan), Sebuah Gereja tua yang sudah 2 abad kokoh berdiri mewadahi,meneduhi,dan sekaligus sebagai bangunan pengayom umat dalam memraktikkan ritual kristiani secara khusuk.   Bangunan yang berdiri tepat dibilangan  Jalan Ronggowarsito Semarang itu, konon adalah cikal bakal gereja Katolik di Indonesia, meski sebelumnya sudah ada misi yang dikirim ke sumatera barat.  Berawal dari sebuah tugas Misi dua orang imam praja dari Belanda yang sengaja datang untuk melayani umat Katolik berkebangsaan Eropa di Indonesia.  Satu diantara nya adalah Pastur L Prinsen Pr, pendiri gereja Gedangan, yang kala itu ditempatkan disemarang sekaligus ditunjuk sebagai Pastor Stasi Semarang, oleh Herman Willem Daendels Gubernur Jenderal di Hindia Belanda, yang berkuasa waktu itu.

Umat Katolik di semarang saat itu memang belum memiliki gedung sendiri untuk beribadah.  Karena itu ibadah dilakukan bersama-sama, bergabung dengan Gereja Protestan Indonesia di bagian Barat (GPIB) atau Gereja Blenduk di dekat Taman Srigunting (Kota Lama).  Meski masih dalam status menumpang, namun toh tak mengurangi sedikit pun kekhusukan dan keikhlasan menyembah dan memuji Tuhan.  Perjalanan yang teramat panjang memang, namun bukanlah satu jalan yang sia-sia belaka. Terbukti tepat di tahun 1875 akhirnya jemaat gereja Gedangan pun akhirnya dapat menempati gereja sendiri dengan dibangunnya gereja Santo Yusuf (Gedangan), yang bangunananya sampai saat ini masih seperti sedia-kala – meski pernah dilakukan renovasi, namun tak merubah bentuk asli gedung yang berdiri kokoh, berwibawa tersebut.  Kalau pun ada itu pun tak lebih dari perubahan kecil, seperti perubahan warna cat dan sebagainya.

Meski gedung gereja gedangan sudah sangat tua, namun tak sedikit pun tersirat kesan reot atau kotor seperti layaknya gedung tua yang tak berpenghuni.  Tak hanya gedungnya yang lama, sampai saat ini didalam gedung gereja juga banyak dijumpai benda-benda tua yang dibuat sejak tahun 1880-an, namun masih utuh dan dirawat dengan baik.  Di Altar depan tampak terlihat patung Empat Tokoh Agung,  Abraham, St Petrus, St Paulus, dan Imam Melkisedek terpajang dengan apik menghiasi gereja Gedangan.  Patung yang  didatangkan dari Jerman sejak tahun 1880 itu pun masih “setia menemani” umat dalam mengekspresikan kebanggan dan kekaguman mereka terhadap tokoh panutan itu.

Tak hanya itu saja, dalam Greja Gedangan ternyata juga tersimpan benda bersejarah yang menjadi saksi sekaligus penghormatan umat kepada pendiri gereja.  Benda itu adalah Patung kayu Hati Kudus Yesus, yang bertengger di atas nisan Mgr Lijnen pendiri gereja gedangan.  Konon patung bersejarah tersebut berhasil diselamatkan dari pekuburan Kobong yang tidak terawat. Slawi

Others