Pendeta Bigman Sirait: Ajari Keluarga Memberi Hidup pada Tuhan

94 khotbah populer.jpg
KELUARGA, ibarat sebuah lingkaran besar yang tidak akan terputus. Maka, keluarga tanpa ikatan batin suami-istri-anak, pada hakekatnya sudah tidak lagi menjadi keluarga. Keluarga bukan semata karena hubungan darah, tetapi keterikatan yang luar biasa.

Maka suami-istri itu bukan dua, tetapi satu. Ini perlu kita pikirkan, terlebih jika mengingat dewasa ini banyak keluarga yang sudah bukan keluarga lagi. Kita sering mendengar tentang anak menggugat bapak, istri menggugat suami, dan sebagainya. Bahkan tidak jarang kita membaca pengumuman di koran: “Sudah putus hubungan antara orang tua dan anak”.

Keluarga inti terdiri atas suami-istri-anak. Kalau suami-istri beres, maka mendidik dan mengarahkan anak-anak itu mudah. Sebaliknya, mendidik anak itu susah kalau suami-istri tidak beres. Orang tua yang membawa Tuhan masuk ke dalam kehidupan keluarga, punya pengharapan yang sangat kuat di tengah kehidupan, bukan karena pekerjaan, kehebatan, tetapi karena keberimanan. Ada orang kaya yang sering mengeluh, tetapi ada yang bisa menikmati kekayaannya. Ada orang miskin berkeluh kesah dalam kemiskinannya, namun ada yang miskin tetapi menikmati. Akhirnya memang betul bahwa hidup bergantung pada keberimanan kita.

Alkitab mengatakan semua manusia sudah berdosa, tidak ada yang benar, tidak ada orang yang dengan sadar mengikut Tuhan. Tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Jadi kalau kita bisa bertemu dengan Tuhan itu bukan karena kita mencari Tuhan, tetapi Tuhan mencari kita. Itu kata Yesus. Sehingga semua orang “dipaksa” bertemu Tuhan. Beruntunglah kita “dipaksa” masuk ke dalam kebaikan. Untunglah kita “dipaksa” menerima dan merasakan kesukacitaan, bukan kesengsaraan. Untung kita “dipaksa” menemukan kebenaran, bukan kesalahan. Bersyukurlah jika kita ditampar Tuhan sampai setia melayani DIA.

Ketika seseorang melayani Tuhan, kebahagiaan itu luar biasa dalam hidupnya. Jadi, jangan takut. Siapa pun kita, apa posisi kita, kalau keluarga memberi diri percayalah selalu ada berkat. Engkau ingin membahagiakan keluargamu? Ajarlah keluargamu memberikan hidupnya pada Tuhan. Mungkin Anda punya kesempatan membuat anak jadi top, itu bukan segalanya. Mungkin kita banyak kolega yang bisa memberikan anak kita pekerjaan bagus, tapi bukan itu puncak kebahagiaan. Tetapi penting bagaimana kita di tengah kehidupan memberi diri melayani Tuhan, sehingga kita betul-betul punya hubungan yang sangat indah, manis dan itu menjadi pengalaman yang luar biasa dalam kehidupan.

Apa warisan paling baik dari orang tua? Integritas, iman yang bisa diwariskan menjadi hal yang bisa menjamin masa depan anak-anak. Oleh karena itu, ketika sang suami memberi hidup pada Tuhan, lalu sang istri juga memberikan hidupnya pada Tuhan, bahagialah. Bisakah papa, mama dan anak-anak, semua melayani Tuhan? Bisa banget. Maka jika Anda punya anak yang masih kecil, jangan biasakan dia menentukan pilihan mau ke gereja atau tidak. Lebih baik memaksa anak untuk pergi ke gereja. Soal pilihan ini, banyak orang belajar demokrasi tetapi tidak mengerti hakekat demokrasi. Banyak orang belajar mandiri tetapi mandiri yang salah.

Di Eropa, anak-anak sudah dididik untuk mandiri. Setelah anak-anak beranjak dewasa, 17 tahun, orang tua tidak lagi leluasa mengatur mereka, sebab anak-anak dianggap sudah berhak atas hidupnya. Menyedihkan, seakan-akan ibu hanya menjadi ibu bagi anak-anaknya selama 17 tahun saja! Berbahagialah orang tua di Indonesia yang masih punya wibawa atas anak-anaknya sekalipun anak-anaknya sudah punya anak, bahkan cucu. Jadi, bawa anak-anakmu untuk kenal Tuhan, didik dia baik-baik selagi bisa dibengkokkan. Kalau dia sudah keras, remaja, pemuda, sudah terlalu rawan, sulit. Maka saat anak masih kecil, bentuklah supaya baik. Itu sebab sekolah minggu sangat penting. Hanya dengan demikian keluarga bisa memberi diri, semua belajar dan diajari tentang kebenaran.

 

Bangun diri

Setiap keluarga yang memberi diri adalah keluarga yang membangun diri. Itu sebab orang tua harus terus mampu membangun diri dalam korelasinya dengan Tuhan, membangun persekutuan dengan Tuhan, begitu pula anak-anak. Kita membangun diri lalu melibatkan anak-anak masuk dalam melayani memakai talenta masing-masing, misalnya menyanyi, ikut paduan suara, main organ, dan sebagainya. Ini salah satu upaya kita untuk memotivasi mereka untuk ambil bagian dalam pelayanan. Memang tidak langsung lempang, sebab semuanya melalui proses untuk bertumbuh dan berkembang. Kita harus dorong mereka untuk ambil bagian dalam pelayanan. Bangga melayani Tuhan harus kita tanamkan kepada anak-anak. Belajarlah memberikan apa yang ada pada kita untuk Tuhan, seperti janda miskin yang memberi bukan dengan dompetnya, tapi dengan hatinya.

Seringkali kita tidak menyediakan waktu banyak untuk pelayanan. Alangkah indahnya dunia ini kalau kita beri waktu lebih lagi untuk menolong banyak orang. Ayo saudara, mari kita pikirkan, banyak orang terpojok yang tidak berdaya, dan perlu ditolong. Nah, di sinilah sebetulnya kita menemukan kebahagiaan. Entah di mana pun nanti anak kita tinggal, di dalam negeri, di luar negeri, itu bukan masalah. Entah apa pun pekerjaan anak kita—asal bukan penjahat—bukan itu masalahnya. Berapa banyak uangnya, siapa menantu kita, bukan itu masalahnya, persoalannya: apakah ketika dalam bekerja dia takut Tuhan? Apakah dia menikah dengan orang yang takut Tuhan? Semua titik tolaknya di situ. Maka makin mengertilah kita ketika Alkitab berkata: “Berbahagialah orang yang takut Tuhan”.

Ini boleh kita camkan dan renungkan sama-sama, supaya seluruh hidup kita menjadi kebanggaan dan kepuasan dalam memberi hidup bagi Tuhan. Tidak ada kata terlambat. Kalau ada teman atau saudara yang belum sepenuhnya menerima Tuhan, biarlah itu menjadi pokok doa yang paling penting supaya dia kembali kepada Tuhan. Dan itu boleh menjadi momen kesempatan di mana kebangunan keimanan kita makin hari makin kuat menaruh harap pada Tuhan.v (Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)

REFORMATA, TABLOID KRISTEN BERWAWASAN NASIONAL,

MENYUARAKAN KEBENARAN DAN KEADILAN.

dibawah asuhan,Pemimpin Umum :Bigman Sirait;Pemimpin Redaksi :Victor Silaen

 

Redaksi: WISMA BERSAMA

Jl. Salemba Raya No. 24B, Jakarta Pusat 10430

Telp: +62 21 392 4229 (Hunting), Fax: +62 21 314 8543
www://reformata.com
29 October 2008

Comments

Fill Comments
* Your Name :
* Your Email :
* Description :
Chars remaining :
Enter the Verification Code shown!

Khotbah Populer Index