JALAN-jalan ke daerah pegunungan dengan pemandangan hijau di sepanjang jalan yang dilewati seolah menambah kenikmatan dan keteduhan mata tatkala memandang. Udara yang dilewati perlahan dingin seolah menyapa siapa saja yang datan
Jauh berbeda de-ngan udara di kota besar yang pe-nuh dengan polusi dan jarang dite-mui pohon rindang untuk berteduh membuat udara menjadi panas.
Itulah sedikit ilustrasi tentang Kota Bogor. Kota nan sejuk de-ngan pohon-pohon yang rindang, menambah kesejukan kota ini di waktu siang harinya. Di sini pula tersimpan banyak kenangan dan sejarah berdirinya negeri ini. Di sini juga tersimpan banyak cerita di balik gedung-gedung tua yang tak sedikit jumlahnya. Satu di antaranya adalah bangunan Gereja Kristen Pasundan (GKP) Bogor, meski tua namun tetap apik terawat.
Bermula dari pekabaran Injil di Kota Bogor pada tahun 1868 oleh S. Coolsma dari Nederlansche Zendings Vereeniging (NZV)-lah gereja ini berdiri. Gereja yang diawali dari penginjilan ala Coolsma yang memadukan antara pendidikan dan pekabaran Injil membuat gereja ini secara kuantitas terus mengalami peningkatan jumlah umatnya. Namun sangat disayangkan, tugas ke Sumedang untuk mener-jemahkan Injil ke dalam bahasa Sunda pada tahun 1873 memaksa Coolsma harus pindah dari Bogor.
Selanjutnya tugas penggem-balaan domba dilanjutkan oleh D.J. van D Linden, dari tahun 1873 sampai beliau meninggal dunia pada tahun 1885. Penggem-balaan jemaat Bogor kemudian diteruskan oleh C. Albers dan L. Tiemersm. Sejalan dengan makin bertambahnya jum-lah jemaat, maka dibentuklah satu majelis jemaat, ten-tunya yang perdana – untuk mengorgani-sir jemaat yang ada.
Dilihat dari depan, bangunan gereja yang berdiri pada tanggal 8 Oktober 1907, tepatnya di Jl. Suryakencana 107 ini tampak sangat ko-koh. Dengan gaya Eropa yang sangat kental – selalu peduli pada kualitas ba-ngunan dan struktur bangunan yang man-tap membuat bangunan ini seolah megeluarkan aura kemegahan dan kemewahan, sekaligus menjadi satu dalam keindahan sebuah bangunan nan artistik.
Dengan warna bangunan krem kecoklat-coklatan, membuat nuansa kesejukan pada setiap mata yang memandangnya. Belum lagi lanskap depan yang diatur sedemikian rupa dengan taman di samping kirinya yang diatur dengan sangat rapi membuat siapa saja betah berlama-lama di gereja ini. Namun amat sangat disayangkan, seiring dengan semakin cepatnya perkembangan Kota Bogor, ditambah lagi Jl. Suryakencana merupakan jalan yang padat, ramai penuh dengan berbagai aktivitas jual-beli dari setiap pertokoan yang berjejer di sepanjang jalan, tentunya menambah tingginya tingkat kebisingan di daerah itu. Belum lagi halaman yang tak begitu luas, membuat anak sekolah minggu tak dapat bermain secara bebas.
Namun demikian segala kekurangan tadi tak sedikit pun menutup kisah di balik gedung gereja yang megah itu. Di sanalah gereja yang berawal dari kumpulan murid sekolah ini dapat berkembang sampai sekarang, dengan jemaat yang tak sedikit. Meskipun nama gerejanya sendiri bersifat kesukuan, namun jemaat yang ada di dalamnya sangatlah kompleks – terdiri dari berbagai suku dan bahasa. Inilah wujud pluralitas gereja yang terma-nifestasi secara sempit dalam kemajemukan jemaat yang diakomodir sedemikian rupa dalam satu wadah yang menaungi.
? Slamet Wiyono