Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Khas

Gereja Hati Kudus Yesus Jembrana --- Rayakan Hari Raya dengan Gaya Bali

PULAU Bali merupakan salah satu tujuan wisata yang sangat menyenangkan. Di pulau dewata itu, kita tidak hanya disuguhi panorama alam yang indah, namun juga berbagai budaya dan seninya yang sangat indah dan artistik. 

.  Bali seolah mampu memanjakan mata dan kebutuhan batin siapa saja yang berkunjung ke daerah itu dengan berbagai bangunan pura yang mengesankan dengan style-nya yang sangat khas. Salah satunya adalah bangunan gereja “Hati Kudus Yesus” di Jembrana Bali.

Di sisi barat Pulau Bali, tepatnya di Dusun Ekasari, Desa Palasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, terdapat satu gereja yang bangunannya amat sangat unik dengan style-nya yang kebali-balian. Di tanah yang didominasi umat Hindu itu, Gereja Hati Kudus Yesus berdiri dengan kokoh, dikelilingi pepohonan rindang dan asri  menambah suasana teduh, sejuk dan mampu menghadirkan suasana hening dan hikmat, dengan desiran angin yang menyambut kedatangan jemaat kala masuk ke areal gereja yang sangat luas ini.

Berbeda dengan gereja pada umumnya dengan kemewahan gedung, ditambah salib besar yang sengaja diletakkan di depan menan-dakan bahwa itu adalah sebuah gedung gereja – gereja yang berja-rak sekitar 117 km dari Kota Denpasar ini sengaja ditata sedemikian rupa hingga lebih mirip rumah ibadah Hindu yang memang sangat banyak di pulau dewata itu.  Apa lagi di jalan menuju areal gereja ini berdiri dua buah candi bentar gaya Bali dengan pelataran yang luas dan penataan yang begitu asri, menambah suasana etnik gereja ini begitu menonjol.

Dengan perjuangan yang amat sangat melelahkan, diawali dari 24 orang yang rela berjalan sejauh 170 km dari Tuka, Denpasar menuju Palasari Jembrana,  yang kemudian hanya tersisa 18 orang sesampainya di “tanah perjanjian”.  Gereja ini pun akhirnya bisa berdiri dengan 18 orang yang menjadi saksi hidup sekaligus tonggak berdirinya jemaat Palasari.  Lambat-laun jemaat pun kian bertambah banyak dan gereja yang didirikan pun bertambah sumpek. 

Setelah dibebaskan dari pe-ngasingannya, Pater Simon pun berinisiatif mendirikan gereja baru, dan ditahun 1956 gereja yang saat ini bisa dinikmati keindahannya itu baru dibangun. Dengan rancangan yang sangat artistik, Bruder Ign. AMD Vrieze, SVD, merancang gereja ini dengan sangat apik.  Arsitektur-nya yang merupakan perpaduan antara gaya Eropa (model Gothik) dengan arsitektur Bali ini seolah merupakan simbol inkulturasi  gereja yang penuh kedamaian.  Merupa-kan satu bentuk kesatuan unik antara gereja dan konteks sosialnya yang selama ini terjalin, boleh dikatakan inilah wujud dari gereja yang membumi, menyatu dan menghargai konteks.

Tak hanya dari segi arsitekturnya saja gereja ini menyatu dengan konteks dan budaya setempat. Umat pun tak pernah mening-galkan budaya mereka tatkala masuk ke gereja.  Adat, kebiasaan dan budaya masih dibawa sebagai identitas dan ciri khas jemaat ini.  Bahkan tatkala merayakan hari raya seperti Natal, seringkali tak tampak kesan bahwa umat Katolik sedang merayakan Natal. Kesan yang tampak justru sedang berlangsung upacara agama oleh umat Hindu.  Tak hanya pakaian adat Bali yang mereka kenakan, penjor sebagai tanda menyambut upacara Hindu pun mereka pasang di kanan dan kiri jalan.  Tak lupa kesibukan seperti memotong hewan dan kesibukan dapur mirip seperti menyambut upacara keagaaman Hindu juga mereka lakukan.

 Ini bukanlah satu bentuk penyesatan atau sinkretisasi, tapi lebih kepada satu bentuk peng-hargaan umat serta keikutsertaan mereka untuk turut melestarikan budaya leluhur mereka.

 

  ?  Slamet Wiyono/dbs

 

35
13 votes
1 2 3 4 5

Lainnya

Arsip :201020092008
Online Support :