Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Khas

GKJW Kediri Lestarikan Ritual Undhuh-undhuh

MEMPERSEMBAHKAN sesuatu, entah itu berupa materi – barang atau uang, maupun non materi, baik itu berupa tenaga, atau pikiran, tentunya selaras dengan firman Tuhan. Hal ini merupakan satu bentuk ucapan syukur kepada Tuhan atas se

Demikian juga yang dilakukan oleh jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Kediri, Jawa Timur ini. Namun ada satu kisah menarik di balik ritual persembahan yang oleh kalangan masyarakat jawa kristen diberi nama dengan undhuh-undhuh ini. 

Di GKJW Kediri, tepatnya di Jl. Diponegoro ini, sudah sejak lama dilakukan ritual persembahan yang disebut dengan undhuh-undhuh. Bahkan sampai kini pun ritual tersebut masih dilestarikan dan diperhatikan betul keberadaannya.  GKJW Kediri, seperti juga gereja-gereja se-denominasi di Jawa Timur yang umumnya berada di daerah yang mayoritas agraris, seperti kawasan Mojowarno, Sidorejo dan lain lain ini, sebagian besar jemaatnya memang bermata pencaharian sebagai petani. Sehingga persembahan yang mereka berikan kepada Tuhan, dan mereka bawa ke gereja pun seringkali berupa hasil bumi. 

Sedangkan alasan mengapa banyak gereja (tua) di Jawa Timur umumnya terletak di daerah agraris adalah lantaran adanya kebijakan khusus tentang hak guna lahan di masa kekuasaan pemerintah Belanda. Pemerintahan Belanda sengaja membuka hutan untuk mendirikan sebuah perkampung-an. Dan barangsiapa ingin tinggal di tempat tersebut harus menaati perjanjian yang sudah dibuat oleh pemerintah Belanda. Siapa pun yang menggunakan lahan yang dibuka tersebut, sebagai kompensasinya diharuskan menjadi Kristen. 

Kembali ke tradisi undhuh-undhuh tadi, tradisi ini berawal dari tradisi kuno masyarakat Jawa yang terbiasa memberikan sesaji kepada Dewi Sri yang dipercaya telah memberikan kesuburan pada tanah-tanah petani, sehingga sebagai ucapan rasa syukur, masyarakat menyisihkan sebagian hasil panennya untuk dipersembahkan kepada Dewi Sri. Tradisi tersebut kemudian oleh kalangan hamba Tuhan di lingkaran GKJW dimanfaatkan (diubah) sedemikian rupa, sehingga menjadi tradisi sesajian yang kristiani, tentunya juga yang selaras dengan perintah Tuhan untuk memberikan persembahan.

Persembahan berupa hasil bumi yang dulunya dibawa ke sawah untuk dihaturkan kepada Dewi Sri itu pun akhirnya berpindah ke gereja, untuk diserahkan kepada Gusti Yesus, sesembahan mereka. Biasanya padi menjadi pilihan masyarakat sebagai undhuh-undhuh, sehingga pada jaman dulu gereja selalu memiliki lumbung gereja yang gunanya untuk menyimpan padi hasil dari undhuh-undhuh tadi.  Dan sewaktu-waktu juga dapat diambil jikalau dibutuhkan. Seiring berjalannya waktu, lumbung tempat menyimpan hasil undhuh-undhuh itu pun tak lagi dipakai.  Karena persembahan berupa hasil bumi tidak lagi awet disimpan, sebagai gantinya, maka diadakanlah lelang hasil bumi.  Sehingga gereja menyimpan persembahan tadi hanya dalam bentuk uang saja.

Prinsipnya sama, hasil lelang akan masuk kas gereja untuk operasional gereja. Selain itu, peruntukan hasil lelang tadi juga dipakai sebagai dana sekunder untuk membantu proyek pem-bangunan gereja.  GKJW Kediri yang sudah ada sejak tahun 1900-an ini tetaplah sama seperti GKJW 100 tahun yang lalu. Keindahan fisik bangunan, heningnya liturgi ibadah tetap dijaga keasliannya. Begitu juga dengan ritual undhuh-undhuh. 

Sebagai ciri khas GKJW, terutama GKJW Kediri, ritual ini tetap dipertahankan dan akan terus dilestarikan sebagai warisan nenek moyang dan tradisi yang patut dijaga keasrian dan keasliannya. 

  ?  Slamet Wiyono/dbs

79
19 votes
1 2 3 4 5

Lainnya

Arsip :201020092008
Online Support :