Dua bulan lalu, ketika para perempuan profesional sedang duduk di salah satu café di Jakarta, ada seorang pengusaha perempuan (yang sangat sukses) diajak berdiskusi tentang isu jen
Namun ketika isu MDGs (Millenium Development Goals) dilempar dalam “tongkrongan” ini, ia agak gelagapan. Wah… sepertinya tidak nyambung. Tetapi dalam situasi ini, siapa yang patut disalahkan? Mengapa seseorang yang sudah sukses dan terkenal seperti dia belum mengetahui MDGs?
Tentu banyak faktor yang men-jadi penyebabnya. Maka, saya ter-ingat kembali pada bulan Oktober tahun 2006 lalu, saat kunjungan keluarga di Pulau Lombok. Saat itu ada kawan dari Kota Mataram menelepon dan bertanya bagaimana caranya meminta bantuan dukungan dana untuk kegiatan pendidikan maupun kemiskinan? Saya bukan penyandang dana, dan saat itu pun ke Lombok untuk acara keluarga dan menikmati Pantai Senggigi. Namun hati saya berkecamuk, dan karena itu saya memberi kesempatan kepadanya untuk membicarakan pertanyaan tersebut yang kemudian diakhiri dengan isu MDGs. Terusterang, dia dan seorang kawannya yang lain betul-betul blank informasi tentang MDGs. Syukurlah, di ujung percakapan, mereka mengatakan dapat memahami program tersebut.
Isu MDGs memang tidak sepopuler film “Naga Bonar Jadi 2”. Tetapi, bukankah akhir-akhir ini isu tersebut sudah diketahui masya-rakat luas setelah artis Dian Sastro berbicara dalam iklan MDGs?
Perihal MDGs
Untuk lebih jelas memahami apa itu MDGs, mari kita lihat perjalanannya. Pada September 2000, di ajang United Nation Millenium Summit 191, pemerintahan Negara-negara anggota PBB berbagi visi bahwa 15 tahun ke depan perlu dise-pakati bersama tentang (kondisi) dunia yang lebih baik dari sekarang.
Untuk itu mereka berikrar bahwa pada tahun 2015, semua negara anggota akan berusaha mencapai 8 Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals), yang disebut sebagai Deklarasi Milenium (Millenium Declaration). Deklarasi tersebut juga menyebutkan tentang pemberdayaan pe-rempuan serta persamaan jender. Berkaitan juga dengan penerapan hak-hak dan kesempatan yang sama antara perempuan dan laki-laki, yang juga mengacu pada CEDAW: “to combat all forms of violence against women and to implement the Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women.
Oleh Indonesia, CEDAW telah diratifikasi sejak 1984. Selain itu MDGs juga mengacu pada kepedulian terhadap 12 wilayah kritis (critical areas), yang disepakati pada Kongres Pe-rempuan IV di Beijing tahun 1995, yang telah dituangkan dalam Beijing Platform for Action.
Adapun yang menjadi Tujuan Pembangunan Milenium itu adalah: 1) Memberantas kemiskinan dan kelaparan (eradicate extreme poverty and hunger); 2) Mencapai pendidikan dasar yang universal (achieve universal primary education); 3) Mempromosikan persamaan jender dan pemberdayaan perempuan (promote gender equality and empower women); 4) Mengurangi jumlah kematian anak (reduce child mortality); 5) Meningkatkan kesehatan ibu (improve maternal health); 6) Meme-rangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lain (combat HIV/AIDS, ma-laria and other diseases); 7) Menjamin kelestarian lingkungan (ensure environmental sustainability); 8) Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan (develop a global partnership for development).
Potret Perempuan Pelaku Program MDGs
Profil tentang perjuangan perempuan yang mendapat peng-hargaan selalu dimuat dalam media, seperti yang diberikan oleh Saparinah Sadli Award 2007 ke-pada seorang ibu muda yang religius, Muthmainah Korona (28 tahun). Ia mendapatkan award itu karena perjuangannya untuk kesetaraan jender di Palu dan Donggala. Melalui sebuah yayasan yang didirikannya, ia berjuang untuk kaum perempuan dan menampung anak-anak korban penganiayaan di Palu.
Beberapa waktu lalu saya juga berkunjung ke Bandung dan menyempatkan diri ke Pasar Lembang. Tiga tahun silam, saya ke area ini untuk melihat sayur-mayur dan buah-buahan yang dijajakan. Hal yang menarik ketika saya duduk di pinggir jalan untuk makan ketan bakar dan colenak (tape dibakar dengan kelapa). Saya begitu menikmati jajanan itu seperti wisata kuliner. Tapi tunggu. Ada hal yang patut dicatat, hasil percakapan saya dan si penjual jajanan itu – Ibu Euis. Pekerjaan itu sudah sepuluh tahun dijalaninya. Meski penghasilannya sehari-hari tak menentu, tapi dia berupaya keras mengumpulkan biaya untuk sekolah anaknya.
Suaminya memang hanya seorang petani strawberry, sehingga pendapatan keluarga mereka harus ditopang bersama. Di mata saya, perjuangan Ibu Euis sungguh mengagumkan, meski dia tak mengerti apa itu MDGs.
Di bilangan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, ada sebuah pom bensin yang salah satu pelayan pengisian bahan bakar minyaknya adalah perempuan. Sudah sejak dulu perempuan dipekerjakan di sana.
Sekarang, memang, sudah cukup banyak pom bensin yang pegawainya kaum perempuan. Apa yang menyebabkan mereka mau melakukan pekerjaan dengan seragam kerja yang sehari-harinya selalu terlihat kotor itu? Demi “kepulan asap” rumah tangga, itulah jawabannya. Demi mencukupi kehidupan, para perempuan itu tidak gengsi melakukan pekerjaan itu. Mereka dapat digolongkan sebagai pelaku MDGs, meski mereka tak tahu apa itu MDGs. Saya yakin masih banyak lagi perempuan seperti mereka.
Implementasi MDGs
Bukan sekedar wacana, iklan, atau proyek, MDGs merupakan bagian yang harus terus-menerus diperjuangkan oleh Pemerintah maupun seluruh stake holder. Pusat informasi MDGs dari Bappenas ke Bappeda dan seterusnya harus merata disosialisasikan kepada masyarakat luas secara nasional.
Saya memahami MDGs, karena partisipasi dalam mengadvokasi permasalahan yang berhubungan dengan programnya dan proaktif mendapatkan sejauh mana perkembangannya. Istilah MDGs tak penting dan tak menarik karena sekarang masyarakat hanya memerlukan perubahan dalam pembangunan yang dimaksud secara konkret (berdasarkan hasil dialog langsung ke lokasi, di Gunung Kidul Jateng, Sekadau Kalbar, Butang Baru Jambi, dan lainnya).
Tanpa MDGs pun, kaum miskin di kota-kota maupun yang berada di pelosok-pelosok Indonesia sudah mencari solusi hidupnya dengan cara-cara mereka sendiri. Mungkin ada baiknya kita mengingat apa yang dikatakan oleh Kahlil Gibran: “Action; a little knowledge that acts is worth infinitely more than much knowledge that is idle”. Artinya, tak mengapa pengetahuan sedikit, asal dipraktikkan, diterjemahkan dalam hidup sehari-hari lewat karya nyata. Itu jauh lebih berharga daripada banyak pengetahuan yang ‘nganggur’, yang tidak dipraktikkan, tidak diterjemahkan dalam hidup sehari-hari.
* Penulis adalah Advokat dan Aktivis Perempuan