Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Peluang

Sukses Bukan Karena Modal, Tapi Ulet dan Kreatif

Posted : 10 Nopember 2008
Natanael, Pengusaha Miracle Travel SETAMAT kuliah dari salah satu universitas di Jerman, Natanael membantu usaha ayahnya yang bergerak di bidang air minum. Namun, hanya dalam hitungan bulan, ia mengundurkan diri dan memilih bekerja menjadi kurir di perusahaan orang lain. Alasannya sederhana, “Ingin merasakan pengalaman pahit-manis bekerja pada orang lain.” Kalau sudah jenuh bekerja, lanjut dia, bagaimana rasanya kita memiliki sikap

bebas memutuskan berhenti bekerja. Karena itu, dia melamar ke perusahaan travel dan diterima menjadi karyawan. Karakternya yang ulet dan kreatif mengantar perusahaan tempatnya bekerja berkembang maju. Pengalaman pria bernama lengkap Chandra Natanael Tjahjono, ini di bidang travel makin mantap. Sejak itu, dirinya terus ditawar oleh orang-orang yang mau menjalankan usaha yang sama.

Di kantor yang baru, dia selalu diminta men-set up segala yang perlu untuk kemajuan kantor tersebut, misalnya, mendesain ruangan kantor sampai benar-benar bernuansa kantor travel dan mengatur manajemennya. Karena beda visi, Natanael kemudian mengundurkan diri. Dalam kondisi menganggur, Natanael bersama sang kekasih, Shicey Gisela Lintong, yang kini sudah menjadi istrinya, sepakat mendirikan sebuah usaha yang lebih condong ke usaha travel lagi. Kebetulan pula sang kekasih punya pengalaman kerja di bidang yang sama, yaitu travel. Sesungguhnya rencana ini sudah muncul tiga tahun lalu, tepatnya tahun 2005. Namun karena kita masih bekerja pada orang lain dan juga beberapa pertimbangan lain, rencana itu dipendam dulu,” ujarnya saat ditemui di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa, 21 Oktober 2008.

Setelah menikah, keluarga muda ini merasa makin mantap untuk mengembangkan usaha di bidang travel. “Kita kan sudah berpengalaman di travel, tinggal dikembangkan saja,” ujarnya. Awal melaksanakan usaha ini, mereka berkantor di rumah orang tua sang istri. “Kebetulan rumah mertua punya satu ruangan yang tepat untuk dijadikan kantor. Di kantor itu hanya tersedia sebuah komputer dan CPU-nya, sebuah mesin fax dan telepon. Hanya itulah sarana yang saya miliki pada saat-saat awal usaha ini,” jelas ayah satu anak ini. Travel yang dibangun Natanael bukan yang sifatnya umum, tapi khusus travel holyland, melayani sekelompok orang beriman nasrani yang mau berangkat berziarah ke tanah suci, Israel. Diyakininya bahwa alasan membuka usaha ini karena dikehendaki Tuhan yang didengarnya melalui doa dan dorongan suara hatinya. “Saya percaya Tuhan menghendaki kami berkarya untuk Tuhan dengan melayani sesama yang mau berziarah,” ujarnya. Keterbatasan sarana, semisal kantor, memicu dirinya untuk terus memohon petunjuk Tuhan melalui doanya. “Dan hasil doa saya menjadi nyata,” sambungnya.

 

Hal itu dibuktikan dengan semakin banyak klien yang kami uruskan tour dan travel mereka. Pada saat yang sama, dia bertemu dengan orang-orang yang mau diajak bekerja sama. Melihat peluang usaha ini cukup menjanjikan dengan konsep dasar pelayanan untuk Tuhan, maka mulailah Natanael memikirkan agar usahanya ini menjadi PT (perseroan terbatas). Karena itu, dia pun mengurus segala surat yang diperlukan dan perizinan sesuai ketentuan. Tanggal 15 Agustus 2007, usahanya resmi menjadi PT Anugerah Mandiri Wisata. Dijelaskannya, dinamakan begitu berdasar apa yang dirasakannya dalam pengalaman campur tangan Tuhan atas usahanya ini. Kata “anugerah” kata dia, diyakininya bahwa usahanya itu karena semata anugerah Tuhan untuk diri dan keluarganya. Lalu diikuti kata “mandiri” karena diyakininya bahwa suatu ketika usahanya akan berdikari, tanpa dibantu oleh siapa pun. Soal modal awal usahanya ini, dikatakan Natanael tidak berdasarkan modal yang cukup. Bahkan, lebih jauh, dia jelaskan bahwa kesuksesan seorang pengusaha bukan terutama karena memiliki modal uang banyak, tetapi memiliki ide, lalu disertai dengan memiliki kemampuan yang kreatif, ulet, dan semangat pantang menyerah. Seorang kreatif tak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan. Sebaliknya, ia mengubah tantangan menjadi sebuah peluang. “Banyak orang punya uang, namun tidak tahu mau usaha apa. Kalau pun ada usaha, namun manajemennya belum tentu baik,” jelasnya.

 

Itulah yang menyebabkan dirinya kini jadi sukses, ditopang oleh semangat pantang menyerah dan ide yang kreatif membaca peluang bisnis. Kecerdasannya mengelola manajemen usaha travel ini makin terbukti. Setiap grup yang melakukan travel ke holyland yang diurus Miracle Travel selalu menceritakan kepuasan dan kebanggaan atas pelayanan yang diberikan Miracle ini. “Konsep kita memang diupayakan setiap orang dalam satu grup travel itu harus benar-benar diservis bagus,” tandasnya. Sebab itu, lanjut dia, tempat untuk menginap, seperti hotel harus yang berkualitas. Selain itu, seorang group leader dan pembimbing rohani yang diminta menemani group travel ini adalah yang benar-benar beriman dan berkualitas. Memang tidaklah sia-sia Miracle Travel dibentuk. Sepanjang tahun lalu, Miracle sudah memberangkatkan enam grup ke Israel. Peserta datang dari berbagai tempat di Indonesia. Jumlah peserta dalam satu grup dibatasi antara 25 – 30 orang. “Jumlah orang dalam satu grup sengaja dibatasi supaya setiap orang benar-benar dilayani dengan baik,” katanya. ¿ Stevie Agas

56
16 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.7921 sec | TOP
Online Support :