FX. Taryono, Pembuat Kripik Kentang
F.X Taryono bersama istrinya, Christiana Nurmalasari, cukup kewalahan menyediakan produk makanan kripik kentang. Hampir setiap hari jumlah pemesan kripik buatan mereka bertambah. Sementara, waktu pembuatannya sangat terbatas, sore hari sepulang dari kantor. Itu pun, kalau tidak ada kegiatan lain di sore hari itu, semisal kegiatan di gereja ataupun menghadiri acara kebersamaan sebagai anggota warga masyarakat.
“Setiap orang yang mencicipi kripik ini pasti ketagihan dan pesan lagi,” ujar Taryono kepada REFORMATA di rumahnya, Jl Mawar 5/18, Perumahan Harkit, Karawaci, Tangerang, Minggu, 23 November lalu. Bahkan, lanjut dia, sejauh ini, penjual tak pernah ada yang mengembalikan kripik. Misalnya, di beberapa tempat penjualan di Tangerang dan Jakarta Barat, semua kripik laku terjual. Rasa enak kripik kentang buatan mereka itu memang unik. Sejumlah orang asing yang pernah mencicipinya, seperti warga Australia, Jerman, Hongkong, dan Dubai, banyak yang menjadikan kripik kentang itu sebagai oleh-oleh buat keluarga mereka saat kembali ke negara masing-masing.
Christiana menjelaskan, pengolahan kripik kentang cukup mudah dan bahannya tak terlalu sulit didapat. Kentang yang digunakan berasal dari daerah Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. “Lebih berkualitas dan kandungan airnya sedikit dibanding kentang Bandung,” jelasnya. Bahan lain yang dibutuhkan sebagai bumbu tak begitu banyak. “Hanya garam beryodium, bawang merah goring, bawang putih goring, gula merah dan gula putih. Perbandingan gulanya dominan gula putih (kalau perlu) dengan maksud bila dicicipi tak bakal melekat di sela-sela gigi. Begitu pula minyak goreng yang digunakan hanya merk tertentu,” lanjut ibu dua anak ini.
Dimulainya bisnis kripik ini terdorong oleh keinginan untuk mendapatkan penghasilan tambahan karena biaya hidup yang makin besar. Kebetulan ibunda Christina (Theodora) cukup memahami seluk-beluk pembuatan kripik. Pertengahan tahun 2005, Theodora menawari putri dan anak mantunya itu untuk berbisnis kripik. Tawaran itu disambut antusias oleh Taryono yang bekerja di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. “Kentang adalah salah satu jenis makanan yang tidak mengandung bahan pengawet, bebas kolesterol, tidak menyebabkan tekanan darah tinggi atau asam urat. Makanan ini bisa dikonsumsi anak-anak dan orang dewasa,” kata Taryono yang di rumah sakit bekerja di bidang gizi.
Tak lama berselang, di bawah bimbingan Theodora, Taryono dan istri mulai mengolah kentang menjadi kripik. Saat itu mereka mengerjakannya secara manual (sepenuhnya tenaga manusia), di dapur berukuran kecil. Selanjutnya kripik hasil olahan itu dititip Christiana ke beberapa teman untuk dijual—baik teman gereja maupun teman kantor. Di luar dugaan, respon orang begitu positif, bahkan meminta untuk dibuat lebih banyak lagi. Semangat Taryono dan Christiana pun membara untuk melanjutkan usahanya ini. Kian hari, permintaan makin banyak.
Cara manual dirasa tidak memadai lagi. Mereka memikirkan penggunaan alat demi efisiensi waktu dalam proses pengerjaan. Alat pengupas kulit kentang dan pengiris kentang hingga berbentuk lempengan tipis pun mereka beli. “Dengan alat itu usaha ini sangat membantu dalam efisiensi waktu,” aku Taryono. Tempat mengolah juga dipindahkan ke ruang depan yang lebih luas. Sore hari, sepulang dari kantor, mereka langsung sibuk mengolah kentang, dan biasanya menghasilkan kurang lebih 200 bungkus. Jumlah ini belum memadai mengingat konsumen terus bertambah.
Kripik kentang buatan mereka dikemas dalam empat jenis. “Hanya saja, yang difavoritkan tiga jenis,” jelas Christiana. Tiga jenis itu, pertama, rasa gurih yang hanya diberi garam. Kedua, rasa pedas sedang yang dibumbuhi cabe merah keriting. Ketiga, rasa pedas yang diberi cabe rawit saja. Sedangkan jenis keempat, rasa manis karena hanya diberi gula saja. “Jenis keempat ini sebenarnya dibuat khusus untuk memenuhi keinginan anak-anak. Stoknya selalu terbatas, apalagi tunggu dipesan baru dibuat,“ sambung ibu yang bekerja di PT Perusahaan Perdagangan Indonesia ini. ? Stevie Agas